Beranda Daerah Solo Atap Pintu Gapit Kulon Keraton Solo Ambrol, Kayu Lapuk Diduga Jadi Pemicu

Atap Pintu Gapit Kulon Keraton Solo Ambrol, Kayu Lapuk Diduga Jadi Pemicu

Insiden ambrolnya bagian bangunan cagar budaya kembali terjadi di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Atap Pintu Gapit Kulon tiba-tiba runtuh pada Jumat (27/03/2026) pagi. Ando

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Insiden ambrolnya bagian bangunan cagar budaya kembali terjadi di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Atap Pintu Gapit Kulon tiba-tiba runtuh pada Jumat (27/03/2026) pagi, memicu kekhawatiran warga dan pengguna jalan yang melintas.

Beruntung, material atap yang jatuh ke aspal tidak mengenai pengendara motor maupun pejalan kaki yang saat itu mulai ramai beraktivitas.

Bambang Pradoto Negoro, warga Baluwarti sekaligus tokoh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 05.00 WIB. “Tadi subuh jam 5, atapnya ambrol. Sirapnya turun semua, terutama bagian pinggir-pinggir. Kayunya sebagian memang sudah gapuk (lapuk),” ungkap Bambang saat dihubungi.

Pernah Diperbaiki Tahun 2000

Menurut Bambang, struktur atap Pintu Gapit Kulon sebenarnya sudah pernah tersentuh perbaikan sekitar tahun 2000-an. Ada tiga pintu utama yang menjadi perhatian, yakni pintu timur, barat, dan selatan. Meski bukan kategori bangunan kuno total hasil renovasi lama, kondisinya saat ini sangat memprihatinkan.

Baca Juga :  Karya Dosen ISI Solo Tembus Pameran Internasional di China

“Kami khawatir sirapnya sudah tidak menempel kuat pada penyangganya. Ini sangat berbahaya jika tidak segera ditangani pihak terkait,” sambungnya.

Pihaknya menduga, tingginya curah hujan belakangan ini membuat kayu penyangga semakin lembap dan melapuk, sehingga tidak kuat lagi menahan beban material sirap.

Terkendala Alat, Pengecekan Dilakukan ‘Ala Kadarnya’

Upaya pengecekan darurat sempat dilakukan oleh pihak Kelurahan Baluwarti. Namun, tim di lapangan menghadapi kendala teknis karena ketinggian atap yang mencapai 7 meter.

“Kendala kami ada pada ketinggian. Tidak ada tangga yang sampai 7 meter. Kami sudah coba komunikasi dengan pemadam kebakaran (Damkar), tapi belum bisa dibantu,” kata Bambang.

Alhasil, warga dan petugas kelurahan hanya bisa melakukan pembersihan dan pengecekan manual menggunakan bambu panjang (galah) untuk merontokkan bagian atap yang terlihat menggantung dan berisiko jatuh menimpa warga.

Baca Juga :  Orasi Budaya di UNS, Fadli Zon Sebut Indonesia Bisa Jadi Ibu Kota Kebudayaan Dunia

Pihak warga kini telah berkoordinasi dengan Badan Pemerhati Cagar Budaya (BPCB) untuk melakukan kajian teknis lebih lanjut guna memastikan keamanan struktur bangunan di salah satu akses vital menuju Keraton Solo tersebut. Ando

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.