YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Momen libur Lebaran yang selama ini menjadi “ladang emas” bagi industri perhotelan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) justru berubah menjadi periode penuh kecemasan. Alih-alih kebanjiran tamu, banyak hotel kini harus menelan kenyataan pahit: kamar kosong dan potensi pendapatan yang menguap.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat, tingkat hunian kamar selama periode 16 hingga 22 Maret 2026 hanya berkisar 40 hingga 65 persen. Angka tersebut jauh dari target ideal yang dipatok sebesar 85 persen. Bahkan pada puncak kunjungan, okupansi hanya menyentuh 75 persen—turun dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Wakil Ketua Bidang Promosi dan Event PHRI DIY, Habibi, menilai kegagalan mencapai target tidak bisa dilepaskan dari strategi komunikasi yang keliru. Publikasi masif soal prediksi 8,2 juta wisatawan yang akan datang ke DIY justru memicu kekhawatiran publik.
“Narasi angka besar tanpa framing yang tepat justru menjadi bumerang. Alih-alih menarik wisatawan, yang muncul adalah persepsi macet dan tidak nyaman. Ke depan, kami dorong perubahan komunikasi yakni bukan lagi soal jumlah, tapi soal kenyamanan dan kualitas pengalaman. Promosi juga harus lebih tersegmentasi, termasuk mengarahkan wisatawan ke destinasi alternatif agar tidak menumpuk di titik tertentu,” papar Habibi.
Menurutnya, selisih okupansi yang mencapai sekitar 20 persen dari target di masa puncak liburan menjadi sinyal serius bahwa industri belum benar-benar pulih. Kondisi ini berdampak langsung pada potensi kehilangan pendapatan yang nilainya ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah.
“Dengan okupansi hanya 65 persen dari target 85 persen, ada gap 20 persen di momen puncak. Ini berarti potensi kehilangan pendapatan hingga ratusan miliar rupiah di sektor perhotelan DIY. Dampaknya ialah pemulihan cash flow melambat, tekanan biaya tetap makin terasa, dan risiko makin berat saat masuk low season. Ini jadi alarm bahwa kondisi industri belum sepenuhnya pulih,” tegasnya.
Tak hanya soal persepsi macet dan daya beli masyarakat yang melemah, PHRI juga menyoroti menjamurnya penginapan ilegal yang dinilai menggerus pasar hotel resmi. Keberadaan akomodasi tak berizin ini dianggap menciptakan persaingan tidak sehat.
“Ini sudah masuk kategori persaingan tidak sehat. Hotel resmi menanggung pajak dan standar operasional, sementara penginapan ilegal tidak. Dampaknya nyata: okupansi tergerus, PAD (Pendapatan Asli Daerah) bocor, dan kualitas pariwisata terancam. PHRI mendesak penertiban tegas akomodasi ilegal, platform digital hanya menayangkan yang berizin, dan sinkronisasi data Pemda dan OTA. Kalau ini tidak ditangani serius, industri formal akan terus dirugikan,” urai Habibi.
Berbagai strategi promosi sebenarnya telah digulirkan, mulai dari paket bundling hingga diskon harga kamar. Namun upaya tersebut belum cukup kuat untuk mendongkrak minat menginap.
“Diskon saja tidak cukup. Industri sudah mulai bergeser ke strategi yang lebih fundamental: efisiensi operasional ketat, reposisi target pasar (domestik, komunitas, MICE), dan menjual experience, bukan sekadar kamar. Fokusnya sekarang adalah menjaga bisnis tetap sehat, bukan hanya mengejar okupansi jangka pendek,” pungkasnya.
Di sisi lain, perubahan perilaku wisatawan juga mulai terlihat. Banyak pelancong memilih menekan biaya akomodasi dengan menginap di rumah kerabat.
Ilham (34), pemudik asal Surabaya, mengaku sengaja tidak memesan hotel saat berlibur ke Yogyakarta tahun ini. Ia memilih tinggal di rumah saudara di Bantul demi efisiensi anggaran.
“Tahun ini kami sekeluarga sepakat untuk menginap di rumah saudara di Bantul saja. Hitung-hitungannya jauh lebih hemat. Kalau harus sewa kamar hotel untuk keluarga selama tiga atau empat hari, biayanya lumayan menguras kantong karena tarifnya pasti sedang tinggi-tingginya,” ujarnya.
Menurut Ilham, penghematan dari biaya penginapan justru dialihkan untuk memperkaya pengalaman liburan.
“Keuntungannya ganda. Selain waktunya bisa dipakai untuk lebih leluasa bersilaturahmi dengan keluarga besar, uang sewa hotel itu akhirnya bisa kami alihkan untuk memperbanyak wisata kuliner, membayar tiket masuk ke tempat wisata baru, dan pastinya memborong oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Surabaya,” tambahnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















