Beranda Daerah Solo Kasus HIV Solo Tertinggi Kedua di Jateng, Respati: Akan Kita Selesaikan

Kasus HIV Solo Tertinggi Kedua di Jateng, Respati: Akan Kita Selesaikan

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tingginya angka temuan kasus HIV/AIDS di Kota Solo menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Surakarta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah tahun 2026, Solo menempati posisi kedua daerah dengan jumlah kasus HIV terbanyak di provinsi tersebut, yakni mencapai 412 kasus, berada di bawah Kota Semarang yang mencatatkan 620 kasus.

Wali Kota Solo, Respati Ardi, menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele. Pemerintah Kota Surakarta, kata dia, akan memperkuat berbagai langkah pencegahan dan edukasi guna menekan laju penyebaran HIV/AIDS di masyarakat.

“Ini menjadi keseriusan bagi kami komitmen terhadap pemberantasan AIDS. Akan kita selesaikan, kita sosialisasikan ke masyarakat dan lebih kita perhatikan terkait pekat atau penyakit masyarakat,” ujar Respati saat ditemui di Loji Gandrung, Sabtu (30/5/2026).

Menurut Respati, upaya pencegahan akan dilakukan secara berkelanjutan melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal. Selain itu, Komisi Penanggulangan AIDS juga akan lebih aktif turun ke masyarakat untuk memberikan pemahaman mengenai bahaya HIV/AIDS dan pentingnya langkah-langkah pencegahan.

“Mengurangi pergaulan bebas. Langkah preventif Kota Solo akan kita tempuh. Langkah preventif dari Dinas Kesehatan kami akan lebih sering untuk mencegah perkembangan penyakit AIDS di sini,” lanjutnya.

Ia menambahkan, edukasi bagi kalangan pelajar akan menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Menurutnya, kelompok usia praremaja dan remaja merupakan segmen yang perlu mendapatkan perhatian khusus melalui penguatan literasi kesehatan sejak dini.

“Ini memang indeks kemajuan kota pasti beriringan, tapi kami tidak boleh lengah. Kami akan mengedukasi masyarakat tentang bahayanya AIDS. Terpenting adalah di sekolah-sekolah. Ini yang akan kita terobos, penekanan di edukasi sekolah-sekolah. Jadi anak-anak usia praremaja dan remaja ini menjadi prioritas khusus,” tandasnya.

Baca Juga :  Optimalkan Layanan Konsumen, Tostem Resmi Buka Studio di Solo Kolaborasi dengan Candi Aluminium

Meski demikian, Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, dr. Retno Erawati Wulandari, mengingatkan bahwa tingginya angka kasus yang tercatat di Solo tidak serta-merta menunjukkan tingginya tingkat penularan di dalam kota.

Menurutnya, sebagian besar kasus yang ditemukan justru berasal dari luar daerah. Dari seluruh temuan kasus HIV/AIDS yang tercatat di Solo, sekitar 80 persen merupakan warga luar Kota Surakarta yang menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan setempat.

“Dari kasus yang ditemukan di Solo, hanya 20 persen yang warga Solo, sisanya warga luar Solo,” kata dr. Retno.

Ia menjelaskan, tingginya angka temuan kasus tidak lepas dari masifnya kegiatan skrining dan deteksi dini yang dilakukan Dinas Kesehatan. Semakin banyak kasus ditemukan, semakin cepat pula pasien dapat memperoleh pengobatan sehingga risiko penularan dapat ditekan.

“Semakin banyak kasus yang ditemukan, semakin cepat pasien bisa mendapatkan pengobatan sehingga tidak menularkan kepada orang lain. Dulu, saat skrining belum digencarkan, angka HIV di Solo juga terlihat rendah karena banyak kasus yang belum terdeteksi. Karena itu, tingginya angka temuan tidak selalu berarti penularan lebih tinggi, tetapi juga menunjukkan upaya deteksi yang lebih optimal,” jelasnya.

Retno menambahkan, fasilitas kesehatan yang relatif lengkap di Solo juga menjadi alasan banyak warga dari daerah sekitar memilih melakukan pemeriksaan di kota ini. Selain faktor layanan kesehatan, pertimbangan privasi turut menjadi alasan masyarakat luar daerah memeriksakan diri di Solo.

“Banyak warga dari kabupaten sekitar memilih memeriksakan diri di Solo karena fasilitas kesehatannya lebih lengkap dan mereka merasa lebih nyaman menjaga privasi status kesehatannya,” paparnya.

Baca Juga :  Charlie Van Houten Hibur Pengunjung CFD Solo Lewat “BERIRAMA by Kime”

Dalam upaya pencegahan, Dinkes Solo terus menggandeng berbagai pihak, mulai dari Komisi Penanggulangan AIDS, Warga Peduli AIDS, Dinas Pendidikan, hingga DP3AP2KB. Edukasi mengenai kesehatan reproduksi, bahaya penyalahgunaan narkoba, pentingnya kesetiaan dalam hubungan, serta skrining HIV bagi ibu hamil terus digencarkan.

Retno juga memastikan layanan kesehatan bagi Orang Dengan HIV (ODHIV) terus diperkuat. Saat ini seluruh puskesmas di Kota Surakarta telah berfungsi sebagai klinik Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) bagi ODHIV.

“Kami juga melakukan penguatan layanan kesehatan. Seluruh puskesmas Surakarta sudah menjadi klinik PDP untuk ODHIV. Peningkatan jejaring layanan dengan LSM juga dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus putus berobat atau lost to follow up, serta pemeriksaan konseling dan tes bagi populasi kunci yang dilaksanakan tim puskesmas bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat,” tambahnya.

Melalui penguatan deteksi dini, edukasi berkelanjutan, serta perluasan akses pengobatan, Pemkot Solo berharap penanganan HIV/AIDS dapat dilakukan secara lebih efektif. Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk tidak memberikan stigma terhadap ODHIV agar mereka tidak ragu melakukan pemeriksaan dan mendapatkan pengobatan sedini mungkin. [Ando]

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.