Beranda Umum Nasional Rakyat Menjerit Pertamax Melonjak Tinggi, Teddy Malah Bilang Masih Lebih Murah Ketimbang...

Rakyat Menjerit Pertamax Melonjak Tinggi, Teddy Malah Bilang Masih Lebih Murah Ketimbang Negara Tetangga

Teddy Indra Wijaya | Wikipedia

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Setiap kali harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikan, publik hampir selalu disuguhi penjelasan yang sama dari para pejabat.

Narasi yang berulang dari masa ke masa itu adalah membandingkan harga BBM di Indonesia dengan negara lain dan menegaskan bahwa harga di Tanah Air masih lebih murah. Pola komunikasi serupa kembali muncul setelah harga Pertamax melonjak tajam pekan ini.

Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel TNI Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi di Indonesia masih berada di bawah sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara. Pernyataan itu disampaikan untuk merespons kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026.

Melalui unggahan di akun media sosial Sekretariat Kabinet pada Jumat (12/6/2026), Teddy menilai kenaikan harga tersebut masih membuat BBM Indonesia relatif lebih murah dibanding negara-negara tetangga.

“Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain,” kata Teddy.

Dalam unggahan tersebut, Teddy menyertakan perbandingan harga BBM RON 92 dan RON 95 di sejumlah negara ASEAN. Harga BBM sejenis di Filipina disebut mencapai Rp 22.158 per liter, Thailand Rp 28.910 per liter, Myanmar Rp 25.085 per liter, Laos Rp 31.945 per liter, dan Singapura mencapai Rp 42.971 per liter.

Baca Juga :  Dampak Kenaikan Suku Bunga, Dana Asing Kembali Mengalir, Rupiah Ikut Menguat

Namun, Malaysia menjadi pengecualian karena masih menerapkan subsidi untuk BBM RON 95 bagi warganya. Harga BBM bersubsidi di negara itu tercatat sekitar RM1,99 atau setara Rp 8.800 per liter. Sementara bagi warga asing, harga RON 95 nonsubsidi dipatok sekitar RM3,72 atau setara Rp 16.450 per liter.

Pernyataan Teddy muncul setelah PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Kenaikan sebesar Rp 3.950 per liter itu terjadi di luar pola pengumuman rutin harga BBM yang biasanya dilakukan setiap tanggal 1.

Tak hanya Pertamax, harga Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan signifikan dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Teddy menegaskan bahwa Pertamax merupakan BBM nonsubsidi sehingga penetapan harganya mengikuti perkembangan harga minyak mentah di pasar global.

“Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia,” ujar Teddy.

Menurutnya, pemerintah masih mempertahankan harga BBM bersubsidi meski terjadi gejolak harga energi internasional. Hingga kini, Pertalite tetap dijual Rp 10.000 per liter dan Solar bersubsidi Rp 6.800 per liter.

Baca Juga :  Usai Sepekan Terpuruk, IHSG Akhirnya Berbalik Menguat, Rupiah Ikut Perkasa

“Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan,” kata Teddy.

Penjelasan dari Sekretaris Kabinet tersebut disampaikan pada Jumat malam, bertepatan dengan berlangsungnya aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Dalam aksi itu, salah satu tuntutan yang disuarakan massa adalah penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Namun pernyataan Teddy tersebut masih menyisakan satu pertanyaan, bukankah rakyat Indonesia tinggal di Indonesia dan tidak tinggal di Filipina, Thailand atau Myanmar. Bukankah begitu? [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.