Beranda Daerah Wonogiri 5 Kg Sampah Plastik Jadi 5 Liter BBM RON 92,3! Inovasi STABN...

5 Kg Sampah Plastik Jadi 5 Liter BBM RON 92,3! Inovasi STABN Raden Wijaya Wonogiri Ini Bikin Melongo

BBM
Ujicoba penggunaan BBM dari sampah plastik di Laboratorium Dharma Ekologi STABN Raden Wijaya Wonogiri. Joglosemarnews.com/Aris Arianto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kabupaten Wonogiri. Hanya dengan 5 kilogram sampah plastik, sebuah mesin mampu menghasilkan sekitar 5 liter BBM dengan angka RON mencapai 92,3, bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan Pertamax yang memiliki RON 92.

Inovasi tersebut kini dikembangkan di Laboratorium Dharma Ekologi STABN Raden Wijaya Wonogiri yang diresmikan langsung oleh Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, Selasa (30/6/2026). Laboratorium yang berada di Desa Bulusulur itu menjadi pusat pembelajaran sekaligus pengembangan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi energi alternatif melalui metode pirolisis.

Angka yang dihasilkan bukan sekadar menarik di atas kertas. Dalam satu kali proses selama kurang lebih tiga jam, mesin pirolisis mampu mengubah sekitar lima kilogram limbah plastik menjadi lima liter bahan bakar minyak. Efisiensi inilah yang membuat teknologi tersebut mulai dilirik sebagai salah satu solusi pengurangan sampah sekaligus penyedia energi alternatif.

Gagasan tersebut berawal dari keresahan Ketua STABN Raden Wijaya Wonogiri, Dr. Sulaiman, PhD, yang melihat tumpukan sampah plastik terus bertambah di kawasan Asrama Mahasiswa Buddha.

“Banyak sampah menumpuk di asrama. Dari keresahan itu kami berpikir bahwa sampah tidak boleh hanya menjadi masalah, tetapi harus menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Dari ide sederhana itu lahirlah program pelatihan pengolahan limbah plastik bersama Yayasan Get Plastic yang berlangsung selama tujuh hari, mulai 24 hingga 30 Juni 2026, di Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi.

Teknologi pirolisis yang digunakan bekerja tanpa pembakaran terbuka. Plastik dipanaskan pada suhu tinggi dalam ruang tertutup sehingga terurai menjadi uap, kemudian dikondensasikan menjadi bahan bakar minyak dan gas. Cara ini dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan pembakaran sampah secara langsung yang menghasilkan polusi udara.

Pelatih Yayasan Get Plastic, Ine, menjelaskan bahwa kualitas bahan bakar sangat dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan.

“Mesin pirolisis yang dimiliki STAB Negeri Raden Wijaya saat ini mampu mengolah sekitar lima kilogram sampah plastik dalam satu kali proses. Dengan waktu pengolahan sekitar tiga jam, mesin dapat menghasilkan kurang lebih lima liter BBM (bahan bakar minyak),” jelasnya.

Baca Juga :  Mahasiswa STAIMAS Wonogiri Ini Bikin Geger! Karya Pertamanya Langsung Lolos Antologi Nasional

Menurutnya, plastik yang diolah juga harus dalam kondisi bersih dan kering agar hasil konversinya maksimal.

Jenis plastik yang direkomendasikan meliputi:

🟢 HDPE
🟢 LDPE
🟢 PP (Polypropylene)
🟢 PS (Polystyrene)

Dari seluruh jenis tersebut, plastik PP seperti gelas air mineral dan botol infus menghasilkan kualitas bahan bakar terbaik. Sebaliknya, plastik PET maupun PVC tidak dianjurkan karena kandungan klorinnya dapat mengganggu proses pirolisis sekaligus berpotensi merusak mesin.

Menariknya lagi, bahan bakar yang dihasilkan tidak hanya satu jenis. Teknologi ini mampu menghasilkan berbagai fraksi energi, antara lain:

🔥 Solar
🔥 Minyak petroleum yang setara minyak tanah
🔥 BBM setara Pertamax
🔥 Gas cair yang memiliki karakteristik seperti LPG

Yang paling mencuri perhatian adalah hasil pengujian kualitas BBM. Yayasan Get Plastic mengklaim bahan bakar hasil pirolisis memiliki Research Octane Number (RON) 92,3. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan standar Pertamax yang berada di angka RON 92.

Selain itu, kualitas solar yang dihasilkan juga telah melalui pengujian laboratorium dan dinyatakan aman digunakan untuk mengoperasikan berbagai mesin diesel seperti traktor pertanian, genset hingga mesin-mesin perkebunan.

Tak berhenti pada produksi BBM, seluruh residu pengolahan juga tetap dimanfaatkan sehingga hampir tidak ada limbah yang terbuang sia-sia.

Material sisa berupa black carbon dapat diolah kembali menjadi:

⚫ Media tanam
⚫ Briket
⚫ Paving block
⚫ Patung dan produk kerajinan
⚫ Vandel serta berbagai suvenir berbahan resin

Konsep tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekonomi sirkular, di mana setiap hasil sampingan tetap memiliki nilai ekonomi.

Dr. Sulaiman mengatakan laboratorium ini bukan hanya tempat penelitian, tetapi juga dirancang menjadi pusat pembelajaran, pemberdayaan masyarakat, sekaligus Program Kredensial Mikro bagi mahasiswa.

Baca Juga :  Daftar 7 Bank yang Ditutup, Terbaru di Soloraya

“Program ini juga diarahkan sebagai Program Kredensial Mikro bagi mahasiswa, sarana pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah dari hulu atau rumah tangga, serta upaya menciptakan peluang ekonomi sirkular yang hasilnya dapat mendukung berbagai kegiatan sosial,” terangnya.

Peresmian laboratorium turut mendapat apresiasi dari Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas menjadi langkah penting dalam menghadirkan solusi terhadap persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan hampir di seluruh daerah.

“Kami mengapresiasi sinergi antara akademisi dan komunitas dalam menciptakan solusi nyata dari persoalan limbah domestik. Hal ini sekaligus sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas melalui ekonomi sirkular,” kata Bupati.

Ia berharap model pengelolaan sampah berbasis teknologi pirolisis ini dapat diterapkan di berbagai wilayah sehingga masyarakat semakin terbiasa memilah sampah sejak dari rumah. Jika dikembangkan secara luas, inovasi tersebut diyakini mampu memberikan nilai ekonomi baru, membantu mengurangi volume sampah plastik, sekaligus mendukung kemandirian energi daerah.

Di tengah persoalan sampah plastik yang terus meningkat setiap tahun, terobosan dari STABN Raden Wijaya Wonogiri menunjukkan bahwa limbah yang selama ini dianggap tak berguna ternyata bisa berubah menjadi sumber energi bernilai tinggi. Dari hanya 5 kilogram sampah plastik, lahir sekitar 5 liter BBM beroktan RON 92,3, sebuah inovasi yang membuka peluang besar bagi masa depan pengelolaan sampah dan energi alternatif di Indonesia. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.