WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Siapa sangka air bekas wudhu yang selama ini dianggap hanya mengalir ke selokan ternyata mampu menghasilkan ikan lele dan sayuran segar. Gagasan sederhana namun penuh manfaat itu kini menjadi perhatian di SMP Negeri 5 Wonogiri melalui inovasi bertajuk Abirama Linting Ketapang, sebuah konsep yang memadukan kepedulian lingkungan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan.
Abirama Linting Ketapang merupakan akronim dari Aquaponik Bentuk Inovasi Ramah Lingkungan Tingkatkan Ketahanan Pangan. Program ini menjadi salah satu langkah kreatif SMPN 5 Wonogiri yang telah menyandang predikat Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten dan kini tengah mempersiapkan diri menuju Adiwiyata Nasional.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, inovasi tersebut menghadirkan solusi yang sederhana, mudah diterapkan, namun memberikan manfaat nyata bagi sekolah.
Ide pengembangan Abirama Linting Ketapang lahir dari kepedulian terhadap air bekas wudhu yang setiap hari terbuang percuma. Melalui pemikiran kreatif, air tersebut tidak lagi dianggap sebagai limbah, melainkan dimanfaatkan kembali untuk mendukung sistem budidaya ikan dan tanaman dalam satu siklus yang saling menguntungkan.
Penggagas inovasi ini adalah Veronika Cahyani, yang melihat adanya potensi besar dari air bekas wudhu untuk dimanfaatkan menjadi sumber daya produktif.
Berbekal kepedulian terhadap lingkungan sekolah, Veronika merancang sistem aquaponik yang mengalirkan air bekas wudhu menuju kolam budidaya ikan lele. Dari kolam tersebut, kandungan nutrisi yang berasal dari sisa metabolisme ikan dimanfaatkan sebagai pupuk alami bagi tanaman kangkung yang tumbuh di atas aliran air.
Konsep ini membuat penggunaan air menjadi jauh lebih efisien karena dimanfaatkan dalam dua tahapan sekaligus tanpa harus membuang pasokan air bersih secara berlebihan.
Menurut Veronika, seluruh proses berlangsung secara alami sehingga memberikan manfaat ganda, baik bagi lingkungan maupun kebutuhan pangan.
“Dengan cara ini, air tidak terbuang percuma, melainkan dimanfaatkan dua kali: pertama untuk berwudhu, kedua untuk budidaya ikan dan sayuran. Hasilnya, kita mendapatkan ikan lele dan kangkung yang segar sekaligus menjaga kebersihan lingkungan,” jelas Veronika, Jumat (31/7/2026).
Melalui sistem tersebut, air bekas wudhu terlebih dahulu dimanfaatkan sebagai media pemeliharaan ikan lele. Selanjutnya, limbah organik yang dihasilkan ikan menjadi sumber nutrisi bagi akar tanaman kangkung sehingga tanaman dapat tumbuh subur tanpa ketergantungan pada pupuk kimia dalam jumlah besar.
Selain menghemat penggunaan air, sistem aquaponik juga membantu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih hijau, bersih, dan edukatif.
Kepala SMPN 5 Wonogiri, Pudi Sri Maryatmo, memberikan apresiasi atas lahirnya inovasi tersebut. Menurutnya, Abirama Linting Ketapang sejalan dengan visi sekolah yang terus membangun budaya peduli lingkungan melalui aksi nyata, bukan hanya pembelajaran di dalam kelas.
“Kami tidak hanya mengajarkan teori tentang pelestarian alam, tetapi mengajak seluruh warga sekolah untuk mempraktikkannya secara nyata. Inovasi ini adalah bukti bahwa hal sederhana di lingkungan sekolah kita bisa memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat luas,” ujar Pudi Sri Maryatmo.
Program ini juga menjadi media belajar yang menarik bagi peserta didik. Mereka tidak hanya mempelajari teori mengenai ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pengelolaan sistem aquaponik, mulai dari perawatan ikan hingga budidaya tanaman.
Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya, kerja sama, tanggung jawab, hingga menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini.
Hasil panen berupa ikan lele dan kangkung pun menjadi pengalaman yang membanggakan bagi seluruh warga sekolah. Produk yang dihasilkan membuktikan bahwa pemanfaatan limbah air secara kreatif mampu memberikan nilai tambah sekaligus mendukung kebutuhan pangan yang sehat dan berkelanjutan.
Inovasi Abirama Linting Ketapang sekaligus menunjukkan bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam melahirkan solusi sederhana terhadap persoalan lingkungan. Apa yang dimulai dari air bekas wudhu kini berkembang menjadi sarana pendidikan, pelestarian alam, sekaligus penguatan ketahanan pangan di lingkungan sekolah.
Langkah kreatif yang dilakukan SMPN 5 Wonogiri diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar. Dengan inovasi yang tepat, sesuatu yang selama ini dianggap limbah ternyata dapat diubah menjadi sumber manfaat bagi banyak orang. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














