
SUKOHARJO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pelestarian budaya lokal. Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda dituntut tidak hanya menjadi konsumen budaya global, tetapi juga mampu menjadi penjaga sekaligus penggerak eksistensi budaya bangsa melalui pemanfaatan teknologi secara bijak dan humanis.
Pesan tersebut mengemuka dalam Workshop Humanis Digital bertajuk “Eksistensi Budaya: Peran Kebudayaan Lokal dalam Membentuk Identitas Bangsa yang Pluralistik” yang disampaikan oleh Dr. Sawitri, S.Sn., M.Hum., di TBS Sukoharjo, Sabtu (4/7/2026).
Dalam paparannya, Dr. Sawitri menegaskan bahwa budaya lokal merupakan fondasi utama dalam membentuk identitas bangsa Indonesia yang majemuk. Keberagaman budaya bukanlah penghalang persatuan, melainkan kekuatan yang menyatukan bangsa melalui semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Menurutnya, eksistensi budaya tidak hanya dimaknai sebagai keberadaan tradisi, melainkan juga keberlanjutan nilai, norma, dan ekspresi budaya lokal agar tetap hidup di tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi digital.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan budaya terbesar di dunia. Ribuan suku bangsa, ratusan bahasa daerah, serta beragam warisan budaya menjadi modal sosial yang harus dijaga bersama agar tidak kehilangan makna di tengah perkembangan zaman.
Namun demikian, ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang kini dihadapi budaya lokal. Mulai dari semakin jauhnya generasi muda dari tradisi daerah, kecenderungan budaya dipandang sekadar objek hiburan atau komoditas wisata, hingga algoritma media sosial yang mendorong keseragaman selera dan membuat budaya lokal semakin terpinggirkan.
“Digitalisasi budaya tidak boleh sekadar memindahkan budaya ke ruang digital, tetapi harus tetap menjaga nilai, filosofi, dan praktik budaya itu sendiri,” paparnya, seperti dikuti dalam rilis ke Joglosemarnews.
Dalam workshop tersebut, Dr. Sawitri memperkenalkan konsep Humanisme Digital, yakni pemanfaatan teknologi yang tetap menempatkan manusia, nilai budaya, dan kearifan lokal sebagai pusat perhatian. Digitalisasi, menurutnya, harus menjadi sarana memperkuat identitas budaya, bukan justru mengikisnya.
Sebagai contoh, ia mengangkat digitalisasi tradisi Malam 1 Sura di Keraton Surakarta melalui penyediaan tur virtual dan informasi digital mengenai makna setiap prosesi maupun perlengkapan upacara. Pendekatan semacam itu dinilai mampu membantu masyarakat memahami filosofi budaya, bukan sekadar menikmati tampilannya.
Sebaliknya, ia juga mencontohkan penggunaan aksara Jawa di media sosial yang kerap hanya dijadikan elemen estetika tanpa memahami kaidah maupun makna penulisannya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi tanpa pemahaman yang memadai justru berpotensi menghilangkan nilai budaya itu sendiri.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dr. Sawitri menawarkan strategi 3T, yakni Titen, Tatas, dan Tutus. Titen berarti mendokumentasikan budaya berdasarkan sumber yang benar dan otentik. Tatas berarti menyajikan kembali budaya dalam format yang dekat dengan generasi muda, seperti video pendek, podcast, maupun media digital lainnya tanpa menghilangkan makna aslinya. Sementara Tutus menekankan pentingnya pelestarian budaya dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.
Workshop juga diisi dengan sesi praktik, di mana peserta diajak merancang konten digital bertema budaya lokal dalam format video singkat. Melalui kegiatan tersebut, peserta didorong untuk mampu mengemas kekayaan budaya daerah menjadi konten kreatif yang edukatif, menarik, sekaligus tetap menghormati nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
Menutup pemaparannya, Dr. Sawitri mengajak seluruh peserta menjadi generasi yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga berperan sebagai kurator, penerjemah, sekaligus inovator budaya. Menurutnya, budaya bukanlah benda mati yang hanya disimpan di museum, melainkan napas kehidupan yang harus terus dijaga, diwariskan, dan dikembangkan agar tetap relevan bagi generasi masa depan. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.













