
SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tim Hibah Program Inovatif Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026 dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta mulai mematangkan penyusunan lakon untuk pagelaran wayang climen bertema Babad Kartasura.
Penyusunan tersebut dilakukan bersama mitra dari Sanggar Wayang Gamelan Sangswara, Kartasura, agar pertunjukan yang dihasilkan menarik sekaligus mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar.
Pembahasan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan program hibah PISN Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026 yang mengusung tema “Revitalisasi Sejarah Babad Kartasura Melalui Eksistensi Dalang Wanita Lewat Pagelaran Kolaborasi Wayang dengan Motion Graphic.”
Melalui program tersebut, tim ISI Surakarta berupaya mengenalkan sejarah Kartasura dan kesenian wayang kulit kepada generasi muda, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi dalang perempuan untuk berekspresi melalui pementasan wayang climen yang dipadukan dengan teknologi motion graphic.
Pertemuan penyusunan lakon digelar pada Rabu (1/7/2026) di Ruang Rapat Gedung V Jurusan Desain, Kampus Mojosongo FSRD ISI Surakarta. Kegiatan tersebut dihadiri tim pengabdian kepada masyarakat ISI Surakarta yang dipimpin Basnendar Herry Prilosadoso selaku ketua, didampingi anggota Ana Rosmiati, Indriati Suci Pravitasari, dan Sri Murwanti. Turut hadir pula tim mahasiswa serta mitra dari Sanggar Wayang Gamelan Sangswara, Kartasura.
Ketua tim hibah PISN ISI Surakarta, Basnendar Herry Prilosadoso, menjelaskan bahwa pertemuan difokuskan pada penyusunan alur cerita, penyesuaian durasi pementasan, hingga konsep pertunjukan wayang climen agar pesan sejarah yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa sekolah dasar.
“Materi cerita, durasi, dan konsep pertunjukan perlu disusun secara matang agar pementasan tidak hanya menarik, tetapi juga efektif sebagai media edukasi bagi anak-anak,” ujarnya, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.
Sementara itu, perwakilan mitra Sanggar Wayang Gamelan Sangswara, Nia Dwi Raharjo, yang juga merupakan dalang wanita sekaligus guru SMK Negeri 8 Surakarta, mengatakan lakon yang disusun akan disesuaikan dengan karakteristik penonton usia sekolah dasar.
Menurutnya, cerita yang dihadirkan harus mampu memadukan unsur hiburan dan pendidikan sehingga anak-anak dapat menikmati pertunjukan sekaligus memahami nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam kisah Babad Kartasura.
“Harapannya, lakon yang disusun dapat menjadi tontonan yang menarik, menghibur, edukatif, dan sesuai dengan usia penonton,” ungkapnya. (*)
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.













