
SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Temuan ulat pada menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah di Kota Solo memicu sorotan publik setelah diadukan melalui Unit Layanan Aduan Surakarta (ULAS).
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Solo memastikan ulat yang ditemukan bukanlah belatung, melainkan hama yang biasa terdapat pada daun selada. Meski demikian, pihaknya mengakui adanya kelemahan dalam proses pemeriksaan kualitas makanan.
Aduan tersebut disampaikan oleh seorang warga bernama Bakhtiar Rahman melalui ULAS pada Selasa (28/7/2026). Dalam laporannya, ia menyebut menemukan ulat pada paket makanan MBG yang diterima salah seorang siswa di Kota Solo.
Dalam unggahannya, pelapor menuliskan, “Lapor Mas Wali, hallo hewan lucu,” sembari melampirkan foto dan video yang memperlihatkan ulat di dalam ompreng makanan.
Ia juga meminta pemerintah segera melakukan tindak lanjut terhadap temuan tersebut.
“Mohon diperhatikan tadi viral di SMA ABBS Banyu Anyar mohon ditindaklanjuti ini ada ulat di menu,” tulis warga Pucangsawit, Kecamatan Jebres, itu.
Menanggapi laporan tersebut, Koordinator SPPG Kota Solo, Priyo Widyastoko, menjelaskan bahwa ulat yang ditemukan bukan berasal dari daging ataupun belatung, melainkan ulat yang hidup pada tanaman selada.
“Jadi itu memang hama di selada, tidak berbahaya. Itu menandakan bahwa tanpa bahan kimia. Ulat selada memang hidupnya di sayur-sayuran seperti itu,” jelas Priyo saat dihubungi.
Ia menerangkan, kejadian itu terjadi pada distribusi menu MBG, Senin (27/7/2026), yang diproduksi oleh SPPG Banyuanyar 2. Priyo juga meluruskan informasi yang beredar di media sosial yang menyebut ulat ditemukan pada menu ikan lele.
Menurutnya, menu yang dibagikan saat itu sebenarnya berupa ayam dengan pelengkap sayur selada.
“Kejadiannya Senin itu. Lalu menunya bukan lele. Menunya ayam sama selada. Seperti itu memang gak bisa mati, meskipun direndam dengan air garam, digoreng, ataupun direbus. Tapi itu udah ga hidup lagi,” ujarnya.
Meski memastikan ulat tersebut bukan belatung dan tidak membahayakan, Priyo tidak menampik adanya kekurangan dalam proses pengawasan kualitas makanan sebelum didistribusikan kepada para siswa.
Ia mengakui sistem quality control di SPPG Banyuanyar 2 masih perlu diperbaiki agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Itu quality control-nya masih kurang. Namun KA SPPG akan segera melakukan evaluasi terkait hal itu,” tandasnya. [Ando]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














