Beranda Daerah Solo PCNU Surakarta Dorong Kepemimpinan NU yang Mampu Jawab Tantangan Zaman  

PCNU Surakarta Dorong Kepemimpinan NU yang Mampu Jawab Tantangan Zaman  

Sejumlah peserta diskusi publik PCNU Surakarta dan Lakpesdam mengikuti pertemuan dengan duduk lesehan. Suasana tersebut mencerminkan diskusi yang berlangsung cair dan terbuka, sekaligus menjadi ruang bertukar gagasan mengenai kepemimpinan, kaderisasi, dan masa depan NU menghadapi berbagai tantangan zaman | Foto: Istimewa

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Masa depan Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya ditentukan oleh kekuatan struktur organisasi, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan yang mampu membaca perubahan zaman tanpa meninggalkan akar kultural dan nilai-nilai keagamaan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam diskusi publik bertajuk “Masa Depan Nahdlatul Ulama: Kepemimpinan, Peradaban, dan Tantangan Kontemporer” yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surakarta melalui Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam), Selasa (19/8/2026).

Diskusi tersebut menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi NU, mulai dari hubungan antara gerakan kultural dan struktural, kondisi pesantren, regenerasi kepemimpinan hingga tantangan sosial, ekonomi dan teknologi digital.

Ketua PCNU Surakarta, KH Manhuri, dalam sambutannya menekankan pentingnya setiap elemen NU menjalankan peran sesuai tanggung jawab masing-masing. Menurut dia, gerakan kultural dan struktural tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri.

Keduanya perlu saling terhubung agar berbagai kebijakan dan bentuk pengabdian organisasi benar-benar dapat mengakomodasi kepentingan serta kemaslahatan umat secara menyeluruh.

Sementara itu, Ketua Lakpesdam NU Surakarta, Kuncoro, mendorong jajaran Lakpesdam se-Solo Raya bersama seluruh badan otonom NU, mulai dari IPNU, IPPNU hingga pengurus harian, untuk membangun jejaring kerja yang lebih erat.

Menurutnya, interkoneksi dan pertukaran gagasan lintas generasi menjadi penting agar gagasan serta semangat organisasi terus berkembang dan mampu memperkuat langkah NU menghadapi tantangan ke depan.

Dalam diskusi tersebut, pemateri pertama, M. Nuryadin Edy Purnama, mengulas perkembangan gerakan NU, baik secara kultural maupun struktural, dalam tiga periode, yakni masa lalu, era kepemimpinan Gus Dur dan kondisi NU saat ini.

Baca Juga :  Karawitan Gadon Malam Patbelasan Digelar di Solo, Rawat Tradisi di Tengah Zaman Digital

Ia mencatat, meski sistem dan pola kaderisasi NU terus berkembang di berbagai daerah, sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi organisasi masih berulang dan belum sepenuhnya menemukan penyelesaian.

Sementara itu, pemateri kedua, Puji Kusmanti, memaparkan hasil pengamatan berbasis data mengenai kondisi dunia pesantren. Salah satu temuan yang disoroti adalah pertumbuhan jumlah lembaga pesantren yang tidak diikuti pertumbuhan jumlah santri.

Secara statistik, jumlah santri justru menunjukkan kecenderungan menurun. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian karena pesantren selama ini menjadi salah satu tulang punggung gerakan kultural NU sekaligus ruang pendidikan dan pembentukan karakter.

Di sisi lain, citra pesantren di tengah masyarakat juga dinilai menghadapi tantangan. Berbagai penilaian yang berkembang di ruang publik berpotensi memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pesantren.

Kondisi tersebut pada akhirnya juga dapat berdampak terhadap persepsi masyarakat terhadap gerakan struktural NU, khususnya di kawasan perkotaan.

Karena itu, diperlukan integrasi yang lebih kuat antara kalangan santri dan jajaran struktural NU. Sinergi tersebut diharapkan mampu mendorong perubahan nyata, terutama dalam tiga bidang strategis, yakni sosial, ekonomi dan teknologi digital.

Pemateri berikutnya, Joko Priyono, menyoroti pola kepemimpinan dan proses peralihan antargenerasi dengan membandingkannya dengan sejumlah pengalaman di berbagai negara.

Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki karakter, cara berpikir dan kemampuan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Perbedaan tersebut tidak semestinya dipandang sebagai hambatan.

Baca Juga :  Film Baby Udon Angkat Kisah Haru Lintas Negara Fanny Kondoh & Papa Udon

Sebaliknya, perbedaan karakter antargenerasi dapat menjadi peluang untuk membangun wajah NU yang lebih progresif apabila mendapat ruang dan respons yang terbuka dari para tokoh senior, baik dari kalangan kultural maupun struktural.

Sinergi antara generasi senior dan generasi muda dinilai menjadi salah satu kunci bagi keberlanjutan NU agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

Melalui diskusi tersebut, PCNU Surakarta bersama Lakpesdam menegaskan pentingnya meningkatkan kualitas kepemimpinan di lingkungan NU. Kepemimpinan yang dibutuhkan bukan semata-mata kuat dalam struktur organisasi, tetapi juga mampu memadukan perkembangan zaman dengan kearifan budaya dan nilai-nilai agama.

Dengan kepemimpinan semacam itu, NU diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan peran historisnya, tetapi juga semakin responsif terhadap perubahan serta mampu menghadirkan kemaslahatan umat secara nyata dan berkelanjutan. [*]

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.