Beranda Panggung Sastra Perihal Rindu yang Bisa Menjadi Telaga

Perihal Rindu yang Bisa Menjadi Telaga

166
BAGIKAN

Cerpen Ruly R

Dingin kau rasakan masuk ke pori-pori tubuhmu yang kurus saat roda dari bus yang kau tumpangi mulai menapak jalanan menanjak. Kau duduk di bangku depan, dekat dengan sopir bus. Dingin itu tak ubahnya tempias hujan yang menerobos lewat celah kecil tepat di atas kepalamu. Di depan sana lekuk tubuh Gunung Lawu terlihat samar dan sejurus dengan laju bus, acapkali gunung itu terhalang dedaunan pohon yang rimbun. Di sisi kiri-kanan jalan, pohon-pohon berdiri tegak menjajakan kesejukan. Pemandangan padi menguning yang telah siap dipanen menghampar di sawah yang memanjakan mata, dan cicit burung merdu membuai indra pendengaran. Tapi semua itu tak kau gubris. Kau takzim dalam tunduk. Sesekali kau tegakkan kepala, yang terlihat dari wajahmu tak lain adalah kerut yang ada di keningmu. Beban berat sedang hinggap di pikiranmu. Bus perlahan mendaki jalan Karangpandan-Tawangmangu. Sesekali badan bus miring ke kanan dan ke kiri seirama dengan ke arah mana sopir membanting kemudinya. Wajahmu tetap terlihat datar, menggambar tak adanya risau yang hinggap oleh bantingan setir itu.

Kenek bus menyetel lagu dari penyanyi idolamu. Tapi kau tidak beraksi. Mulutmu tak kau buka sama sekali untuk sekadar menirukan nyanyian itu seperti biasanya. Sementara Si Kenek dengan suara yang tak layak disebut merdu memaksa mendendangkannya, mengikuti baris-baris lirik yang sepertinya telah dihafalnya di luar kepala. Satu lagu beranjak ke lagu lain dengan penyanyi yang masih sama. Mulutmu masih saja menutup. Seakan tak bergairah untuk ikut larut bersama dendang Si Kenek.

***

Semua bermula dari tugas kantor yang terpaksa kau kerjakan, meski sebenarnya hal itu bukan kewajibanmu untuk melakukannya. Saat itu, kau diharuskan menginjak lereng Gunung Lawu, melakukan riset yang akan digunakan untuk kebutuhan produksi perusahaanmu. Riset itu sebenarnya sederhana. Namun semua kesederhanaan itu berubah ketika pada suatu sore, ketika kau sedang berjalan di taman, kau bertemu dengannya. Itulah pertemuan pertamamu dengan perempuan itu. Sebuah pertemuan yang terjadi di perjalananmu, yang kau sendiri sesungguhnya merasa terpaksa melakukannya hingga akhirnya kau harus tunduk kaku di dalam kursi bus. Pertemuan itu terjadi saat biru-putihnya langit mulai digantikan jingga. Senja merangkak. Pertemuan yang menggugah batin dan sikapmu.

Saat itu, kau lihat hamparan rumput hijau di atas tanah yang bergunduk, bunga bermacam warna bermekaran di sana. Taman itu berbatas dengan jurang, ada seorang perempuan merentangkan dua tangannya, seakan hendak terjun ke dalam jurang itu. Kau berlari berkejar dengan waktu yang memburu. Perempuan itu berhasil kau selamatkan sebelum mati terseok ke jurang di bawah sadarnya. Perempuan itu menangis. Dia merasa menjadi orang yang paling sial karena harus hidup. Dalam tangisnya, dia bercerita dengan suara yang tak terlalu jelas untuk kau dengar. Tapi dari semuanya kau masih bisa menangkap ceritanya. Dia kehilangan anak semata wayangnya karena kecelakaan dan itu tidak lama setelah suaminya menceraikannya. Ada rasa iba yang hadir dalam batinmu tapi kau seketika tersadar bahwa kau tidak ada kaitannya dengan masalah itu. Kau hanya orang asing di Tawangmangu ini. Kau hanya orang asing yang kebetulan lewat. Kepentinganmu di sini hanya sebatas riset, tak lebih dari itu. Tapi rasa ibamu tak dapat kau hindari. Kau mengulurkan tanganmu dan mengantar perempuan itu pulang ke rumahnya. Perempuan itu menolak, namun kau memaksa agar perempuan itu mau diantar pulang olehmu. Dalam hatimu, kau juga ingin meyakinkan, perempuan itu selamat sampai di rumah.

Jalan yang cukup terjal kau lalui hingga akhirnya kau sampai di sebuah bangunan yang terkesan seperti peninggalan masa penjajah. Itulah rumah perempuan yang baru saja kau tolong. Sampai di rumahnya wajah perempuan itu lesu, seakan menolak untuk kembali ke rumah. Tak ada kata yang keluar dari mulut perempuan yang kau selamatkan nyawanya itu. Wajahnya datar seakan memang malas untuk melanjutkan hidup. Kau yang memerhatikannya menjadi tak tega untuk meninggalkannya sendiri meskipun itu di rumahnya. Kau khawatir jika perempuan itu akan berbuat hal yang sama seperti di taman tadi-mencoba bunuh diri. Dengan terpaksa kau menginap di rumahnya. Pagi buta kau meninggalkan perempuan itu, tapi sesungguhnya kau tak lantas dapat lepas dari rasa ibamu.

Lima hari, di setiap sore kau kembali ke rumah perempuan itu dan bermalam di sana. Kau tak tega untuk meninggalkan perempuan itu sendiri dalam waktu yang lama, terlebih karena kau khawatir jika terjadi suatu hal kepada perempuan itu. Rumahnya yang jauh dari pemukiman penduduk membuat rasa khawatirmu kian menebal.

 

Wikipedia

Dalam rentang waktu itu pula perlahan perempuan itu mau berbicara dan mencurahkan isi hatinya padamu. Ibamu tambah setelah mendengar kisah hidup dari perempuan itu. Tapi hidup harus tetap berlanjut. Begitu juga dengan jalan hidupmu. Tugas riset yang diwajibkan kantor untukmu telah usai. Kau berpamitan kepada perempuan itu. Air dari pancaindranya—mata, tumpah. Perempuan itu menatapmu dengan penuh harap agar kau tetap tinggal bersamanya. Kau mengikrar janji bahwa suatu saat kau akan kembali mengunjungi perempuan itu. Untuk memberi jawab atas pengharapan yang ada pada dua matanya.

***

Bocah berlari menyambutmu dengan teriakan dan tawa riang. Kau peluk tubuh bocah itu dengan hangat. Lalu seorang perempuan, yang tak lain ibu bocah itu mencium tangan kanannmu. Kau beri pelukan yang hangat untuk perempuan itu. Melepas kerinduanmu padahal hanya berpisah tak lebih dari delapan jam karena kau harus bekerja. Kau rebahkan punggungmu pada kursi yang ada di teras rumah. Lanskap jingga lekat di dua bola matamu. Bocah yang tadi menyambutmu larut dalam riangnya bermain di halaman rumah. Seorang perempuan datang membawa secangkir minuman hangat untukmu. Lagi, kau melepas rindu. Bercerita tentang peristiwa yang kau alami di kantor. Binar bahagia terlihat dari matamu ketika kau melihat bocahmu bermain pasir. Tapi itu hanya anganmu. Semua impian tentang anak dan serta keluarga yang bahagia hancur bekeping-keping. Dokter memberi vonis bahwa istrimu tak akan pernah bisa hamil.

Sepenuh hati kau sabar. Tetap setia menjaga cinta untuk istrimu. Tapi tak ada hidup tanpa cobaan. Tak ada hal yang lurus tanpa sesuatu yang bengkok. Istrimu tahu bahwa dia tak bisa memberimu anak seperti yang kau idamkan. Istrimu juga dengan ikhlas hati bila kau mau menikah dengan perempuan lain. Jantungmu berdegup hebat saat mendengar hal itu. Pikirmu bertaut dengan perempuan yang pernah kau temui di Tawangmangu.

***

Bus masih merambat di jalanan yang menanjak. Lajunya semakin lambat bagai orang yang meniti hidup dengan sisa tenaga dan secuil harapan. Kau masih bingung dengan keputusanmu untuk menikah lagi agar kau punya seorang anak. Meski istrimu benar-benar mengijinkan kau menikah lagi. Tapi apa benar memang begitu yang diinginkan istrimu. Apa memang ada seorang istri yang rela berbagi suami? Hatimu tak tentram, tak seperti slogan kabupaten yang menaungi Tawangmangu.

***

Rem bus diinjak secara tiba-tiba oleh sopir bus. Kepalamu terseok ke arah depan. Sejurus kau tersadar dari lamunmu karena rem mendadak si sopir. Sebuah sepeda motor hampir saja bersinggung dengan badan bus yang kau tumpangi. Serapah sopir bus berhambur bercampur sayup syair lagu dari penyanyi idolamu. Bagaimanapun aku harus kembali/ Walau berat aku rasa kau mengerti/ Simpanlah rindumu jadikan telaga/ Agar tak usai mimpi panjang ini.[1]

 

Ruly R

Tergabung dan aktif di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4) dan Literasi Kemuning. Bisa dihubungi lewat [email protected]

[1] Nukilan lagu berjudul Air Mata karya Iwan Fals, lagu ini sekaligus menjadi pemantik ide cerpen ini.

Redaksional

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas dan yang pasti tidak SARA. Font Times New Roman 12pt, A4, Spasi 1,5. Panjang naskah 6000 sampai 9.000 cws. Naskah cerpen orisinil dan belum pernah tayang dimanapun, termasuk di buku.

Kirim naskah Cerpen Anda dengan  menyertakan data diri dan nomor rekening di bawah naskah cerpen ke [email protected]

Honorarium sebesar Rp. 50.000,- bagi karya yang ditayangkan.

Terima kasih.