Beranda Panggung Sastra Tekat

Tekat

136
BAGIKAN

Cerpen Denipram

Pagi hari ketika matahari naik sepenggalah, seorang lelaki baru lulus SMA lima bulan yang lalu, berjalan dari kosnya di Wonokarto menuju perempatan bangjo Ponten Wonogiri. Dia bernama Tekat, berasal dari desa Watusomo, kecamatan Slogohimo, pinggir hutan jati yang terkenal dengan nama Alas Donoloyo.

Bapaknya pernah berkisah tentang salah satu pohon jati raksasa yang ditebang Sunan Kalijaga, untuk dijadikan tiang utama Masjid Demak. Anehnya, sisa pangkal pohon yang ditebang itu menjadi sebuah petilasan dan banyak warga luar daerah mengunjungi petilasan tersebut. Sewaktu masih SD, Tekat pernah diajak bapaknya semadi di petilasan itu untuk mencari ketenangan batin. Tapi batin Tekat menyangkal jika semadi tetap bisa dilakukan di zaman sekarang. Apalagi Tekat sempat berpikir jika melihat keadaan sekarang, di mana harga padi terus merosot dan harga bahan bakar minyak terus melambung tinggi.

Ada beberapa keanehan di Alas Donoloyo, di antaranya warga setempat tidak berani mengambil sebatang pun pohon jati dari Alas Donoloyo seperti dulu, karena jika ada yang nekat melakukannya maka akan terjadi bencana alam. Suatu kali bapaknya bercerita, ada seorang warga memotong batang pohon jati yang sudah berumur ratusan tahun, keesokan harinya terjadi angin ribut disertai hujan deras yang menyebabkan rumah warga di sekitar Alas Donoloyo porak poranda. Bapaknya menduga orang-orang sekarang memotong batang pohon tidak dengan cara yang dilakukan Sunan Kalijaga dulu.

Karena dulu, Sunan Kalijaga tidak asal menebang pohon. Sebelum menebang pohon raksasa tersebut, Sunan Kalijaga mengadakan syukuran terlebih dahulu kepada Sang Pencipta, sebagai ungkapan terima kasih atas kekayaan alam yang melimpah.

***
Bapaknya telah mengatakan pada Tekat bahwa hasil panen padi tak cukup untuk membiayai kuliah, sehinggga Tekat mempunyai keinginan untuk lekas bekerja, agar tidak bergantung lagi pada bapaknya dan membuat hati bapaknya menjadi tenang. Tekat sudah bekerja sebagai cleaning service di RSUD Wonogiri dan itu sudah berjalan selama tiga bulan. Dia mendapat jatah jam kerja di shift malam. Karena hal itu juga, dia mengambil pekerjaan tambahan.

Pekerjaan tambahan yang diambil Tekat yaitu menjadi penyebar brosur di perempatan bangjo. Dia merasa senang karena sudah tak asing dengan tempat itu. Perempatan bangjo itu berada tepat di bawah kaki Gunung Gandul. Dia ingat pertama kali ke tempat itu saat mencari tempat untuk menyaksikan keramaian kota. Tempat itu sering orang sebut Gunung Gandul. Ketika menuju ke tempat itu, Tekat bersama seorang perempuan yang dikenalnya bernama Nuraini. Karena jalan menuju tempat itu menanjak, Tekat menggandeng tangan Nuraini. Saat itu angin di Gunung Gandul sangat kencang, Tekat memakaikan jaket abu-abu miliknya di punggung Nuraini agar dia tidak kedinginan. Tekat masih ingat, di jaket itu tertulis I Love Wonogiri dan di bawah tulisan tersebut tercoret dua buah tanda tangan mereka dengan spidol warna merah, yang dibubuhkan ketika masih duduk di kelas satu SMA. Sejak peristiwa itu hubungan mereka semakin akrab dan batu besar di atas bukit yang seperti tanpa penyangga itu menjadi kenangan indah bagi mereka.

Sampai di perempatan bangjo, Tekat memandangi lalu-lalung kendaraan yang silih berganti dan deretan kendaraan yang menanti lampu hijau menyala. Awalnya, ketika akan menyebarkan brosur, Tekat merasa malu, ada rasa gengsi dalam dirinya. Tapi Tekat berusaha menghalau perasaan itu. Tekat berpikir, jika hanya menuruti rasa malu dan gengsi, baginya tak sepadan dengan jerih payah bapaknya dalam membiayai sekolah dan hal itu sama saja dengan tidak peduli lagi dengan perjuangan bapaknya.

Di perempatan bangjo itu awal perjuangan Tekat yang sesungguhnya. Dia menyebarkan brosur pijat refleksi yang tempatnya tidak jauh dari kosnya. Karena pijat refleksi tersebut baru saja buka, perlu menyebarkan brosur beserta tarif diskon untuk promosi. Upah sebagai penyebar brosur, Tekat mendapat layanan pijat refleksi gratis satu kali dan uang yang tidak seberapa, tetapi yang lebih diutamakan Tekat adalah jatah makan siang.

Tekat menunggu lampu merah menyala di kanan jalan yang berasal dari arah RSUD Wonogiri, di depan ruko-ruko tempat orang-orang menanti bus yang akan menuju Solo. Di tempat itu, Tekat membagi brosur kepada calon penumpang bus. Ketika lampu merah menyala, ia mulai beraksi membagi brosur ke pengguna jalan, mulai dari pengendara sepeda motor, mobil pribadi dan angkutan umum. Tekat juga tak segan untuk masuk ke dalam bus bersama para pedagang asongan. Tujuannya untuk membagi brosur di sana. Untuk pengguna mobil pribadi, Tekat menyelipkap brosur di wiper mobil dan jika jendela kaca mobil terbuka, dia langsung memasukkannya ke dalam mobil.

Tekat basah kuyup oleh keringat yang membasahi kaos putih berkerah pemberian bapaknya. Dia memakai topi pet yang sering kali ia copot karena gerahnya. Selang enam puluh detik lampu merah menyala dan selama itu pula Tekat rehat sebentar sambil mengipas-ngipaskan kertas brosur ke wajahnya.

Lampu merah menyala lagi, Tekat lekas beranjak dari rehatnya dan mulai membagi brosur. Ada sepeda motor berhenti tepat di sebelah garis tengah marka jalan. Dia merasa tak asing dan mengenal pengendara motor itu. Ternyata pengendara sepeda motor itu adalah guru olahraganya ketika masih duduk di bangku SMA. Seketika wajah Tekat menjadi merah padam karena malu bertemu gurunya. Tekat ingin menghindar tapi lebih dulu tertangkap di depan mata gurunya itu, seketika dia bingung.

“Hei, Tekat. Aku pangling, soalnya kamu pake topi,” sapa guru itu.
“Iya, Pak Puguh,” ucap Tekat. Dia merasa malu karena sedang menyebar brosur.
“Tegakkan wajahmu! Jangan canggung begitu. Aku bangga denganmu yang berani berjuang dengan tetesan keringat sendiri. Semangat! Semangat! Semangat!” ucap gurunya dengan menggebu-gebu.

Tidak lama kemudian lampu merah bergati kuning lalu hijau, seketika percakapan itu terhenti. Kata-kata dari gurunya tadi seakan memberi suntikan semangat baru bagi Tekat. Dan pada lampu merah selanjutnya, ia menyebarkan brosur dengan dada tegap dan senyum lebar.

***
Waktu subuh tiba, setelah sholat berjamaah di Masjid As-Syifa RSUD Wonogiri, Tekat minta ijin pulang lebih awal karena semua lokasi yang menjadi tanggung jawabnya telah ia bersihkan. Tekat tak langsung pulang ke kos, melainkan pergi ke taman Selopadi yang berdekatan dengan jembatan kereta Kreteg Bang Wonogiri, tempat kereta Bhatara Kresna melintas, tepat di atas jalan raya yang tak jauh dari perempatan bangjo Ponten Wonogiri.
Tekat duduk di tangga dekat Patung Semar, di bawah batu besar yang ditopang oleh sebuah pohon asam yang warga Wonogiri menyebutnya dengan Plinteng Semar. Menurut cerita, pohon asam yang bercabang dua seperti huruf Y merupakan ketapel milik Semar dan batu yang ditopang pohon asam itu adalah peluru ketapel, karena itulah dijuluki Plinteng Semar.

Tekat mengamati patung Semar itu dengan jari menunjuk ke arah jalan raya, lalu sorot mata Tekat juga ikut mengarah ke jalan yang masih lengang. Ketika memandangi sorot lampu kendaran bermotor, Tekat teringat waktu masih belajar di kelas dua SMA, ia bersama teman-temannya yang tergabung dalam pecinta alam pernah berkemah di Gunung Gandul. Saat itu, ketika malam hari, ia duduk di atas batu besar sambil memandangi lampu kelap-kelip di Alun-alun Giri Krida Bhakti. Sorot lampu yang bergerak di sekitar alun-alun, terlihat seperti kunang-kunang yang beterbangan. Pada pagi harinya, tak disangka oleh Tekat ada yang berdatangan. Serombongan umat Kristiani membawa Salib yang tingginya dua kali orang dewasa dan kabarnya peristiwa itu terjadi satu kali dalam setahun. Karena penasaran, Tekat dan teman-temannya menyaksikan pelaksanaan prosesi Jalan Salib itu.

Suara gesekan roda besi yang bertaut dengan bantalan rel membuat lamunan Tekat membuyar, kereta Bhatara Kresna yang sejak sebelum subuh sudah berada di stasiun Wonogiri sekarang pergi meninggalkan stasiun. Setelah kereta Bhatara Kresna melintas di atas jembatan rel, ketika itu pula ia berkeinginan untuk kembali ke kosnya.

Setelah beristirahat yang hanya berpuluh menit, Tekat kembali menyebarkan brosur. Kali ini di lampu merah dari arah alun-alun. Seperti hari pertama, Tekat membagikan brosur ke para pengguna jalan. Tapi kali ini ia tidak sendirian. Tekat ditemani oleh seorang pengamen berambut gimbal membawa gitar layaknya penyanyi Reggae. Lampu merah menyala dan pengamen itu mulai memainkan gitarnya dengan lagu Dikiro Preman milik Sukir Genk. Tekat tak ingin kalah aksi dari pengamen itu, ia membagikan brosur sambil menebar senyum ramah yang diiringi lagu reggae tersebut.

Terbesit tanya dalam pikiran Tekat, ketika ia melihat perempuan mengenakan jaket abu-abu tercoret dua buah tanda tangan berwarna merah sedang membonceng sebuah motor besar yang dikendarai seorang lelaki. Tekat merasa kenal dengan jaket yang dikenakan perempuan itu, karena jaket seperti itu pernah ia berikan ke Nuraini. Karena itu juga, Tekat ingin menyakinkan siapa perempuan yang memakai jaket itu. Tekat merasa kaget kalau perempuan itu Nuraini. Tapi Tekat merasa ragu, karena ketika Tekat menyodorkan brosur ke perempuan itu, tangan si perempuan enggan menerima, bahkan dari pandangan matanya, seolah dia tidak mengenal Tekat. Lampu hijau menyala dan kejadian itu berlalu begitu saja, hingga lampu hijau memisahkan pandangannya dengan perempuan itu. Pikiran Tekat masih terus bertanya-tanya, “Apakah Nuraini malu menyapaku?”
Lampu merah berganti lampu hijau, rasa sesal membayangi hati Tekat, namun entah kenapa ia merasa yakin pada dirinya. Dirasakan Tekat dua hari penuh kejutan. Dari sejumlah kejutan yang terjadi, Nuraini adalah kejutan yang paling dahsyat. Tekat merasa telah dapat melalui kejutan yang dahsyat tersebut. Oleh karenanya, dia tidak merasa gentar dengan kejutan yang akan terjadi. Justru Tekat ingin menanti kejutan-kejutan selanjutnya.

Deni Pramono
Tergabung di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Dapat dihubungi di alamat email [email protected]

Redaksional

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas dan yang pasti tidak SARA. Font Times New Roman 12pt, A4, Spasi 1,5. Panjang naskah 6000 sampai 9.000 cws. Naskah cerpen orisinil dan belum pernah tayang dimanapun, termasuk di buku.

Kirim naskah Cerpen Anda dengan  menyertakan data diri dan nomor rekening di bawah naskah cerpen ke [email protected]

Honorarium sebesar Rp. 50.000,- bagi karya yang ditayangkan.

Terima kasih.