JOGLOSEMARNEWS.COM Panggung Sastra

Mata Rubiyah Berair

surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

Cerpen Budi Hatees

 

Rubiyah berniat  ke loket bus AKAP (antarkota antaraprovinsi) sepulang dari sekolah. Dia kelas dua SMP, tubuhnya bongsor, dan sepintas seperti sudah SMA. Ibunya berjualan salak di halaman loket bus itu. Rubiyah belum pernah ke tempat itu. Ibunya tidak pernah melarangnya untuk datang, tapi ibunya menyarankan agar Rubiyah di rumah saja,  mengurus rumah dan belajar yang rajin.

Ibu Laras, guru wali kelas, menyampaikan kabar gembira. Mulai bulan depan Rubiyah akan mendapat beasiswa.  Dia tak percaya mendengar kabar baik itu.  Ketika Ibu Laras menyodorkan selembar kertas berisi nama-nama siswa yang mendapat beasiswa dan namanya tertera di sana, Rubiyah menangis sesenggukkan. Dia ingat ibunya yang berjualan salak,  tak kenal waktu, dari dini hari hingga larut malam. Semua dilakukan agar Rubiyah bisa bersekolah. “Setinggi-tingginya,” kata ibunya. Rubiyah membayangkan kabar gembira ini akan membuat  ibunya senang. Saat itulah dia berniat akan ke loket bus AKAP.

Pukul satu, langit terbuka di atas sekolah. Tanda bel jam keluar baru bergema.  Anak-anak keluar dari dalam kelas seperti air yang ditumpahkan dari gelas, lalu mengumpul di gerbang sekolah, di dekat jalan raya. Sopir angkot memarkir mobilnya di sekitar gerbang sekolah itu.  Pengendara becak vespa membuat suasana hiruk-pikuk. Mesin vespa tua yang menarik becak itu merepet seperti bebek kehilangan anak sambil mengeluarkan karbon monoksida ke udara. Asap warna hitam itu padan-pudun dengan debu dari aspal jalan. Anak-anak sekolah menutup mulutnya.

Rubiyah tidak ada di antara mereka. Dia masih di dalam kelas, menyelesaikan giliran tugas kelas, membersihkan semuanya agar besok pagi lebih nyaman saat masuk kelas. Tugasnya selesai ketika gerbang sekolah sudah sepi.  Hanya ada beberapa anak sekolah, tampak sedang menunggu jemputan. Dia mengenali mereka sebagai anak orang kaya, yang juga pejabat di kantor Pemda Kota Padangsidempuan. Mobil berpelat warna  merah akan menjemput mereka, dan mereka akan bersikap sangat sombong saat berada di dalam mobil milik rakyat itu.

Rubiyah sendiri memilih berjalan kaki. Jarak dari sekolah ke loket bus AKAP hanya beberapa kilometer. Selain belum pernah ke loket bus AKAP itu, dia juga tidak tahu bagaimana cara sampai ke tempat itu. Dia jarang keluar rumah, hanya tahu sekolah dan rumah. Tapi arah menuju loket bus AKAP itu dia pernah membayangkannya, di pinggir jalan raya lintas Sumatra. Ibunya tidak pernah memberi tahu dimana persisnya letak loket bus AKAP.  Dia tahu alamat loket bus AKAP itu di Jalan Lintas Sumatra karena ingat orang-orang pernah bercerita tentang kecelakaan lalu lintas yang dialami ayahnya sekitar dua tahun lalu.

Kecelakaan itu terjadi beberapa menit setelah ayahnya, yang bekerja sebagai sopir bus AKAP, membawa bus yang dikendarai keluar dari loket tersebut.  Entah bagaimana kejadiannya, sebuah truk muncul mendadak dan menabrak. Bus AKAP itu terbalik dan terbakar. Ayahnya tewas seketika, puluhan penumpang luka ringan dan berat. Sopir truk tak tewas, tapi kedua kakinya harus diamputasi, dan mata sebelah kiri tertusuk pecahan kaca.

Saat itu, Rubiyah sedang sekolah. Seorang tetangga menjemputnya, memberitahu kalau ayahnya kecelakaan dekat loket bus AKAP di Jalan Lintas Sumatra.  Dia tidak bisa melupakan bagaimana ibunya sangat terpukul atas kecelakaan itu.  Berkali-kali ibunya jatuh pingsan hingga para tetanga dan kerabat jadi khawatir, dan memutuskan menjemput dr. Marapande ke kliniknya.  Rubiyah sendiri sangat terpukul, tapi dia tidak sampai pingsan seperti ibunya. Para pelayat yang memadati rumah jatuh iba kepadanya karena dia terlihat sangat tabah. Mereka menangis sesenggukkan setelah melihat Rubiyah seperti seseorang di antara percaya dan tidak percaya dengan peristiwa itu.

Setelah pemakaman ayahnya, ibunya menderita depresi.  Hampir sebulan ibunya tidak bisa melakukan apapun, tidak punya inisiatif, dan tampak seperti seseorang yang akan nekat untuk menghabisi nyawanya. Rubiyah merawatnya dengan sabar. Uang asuransi kematian yang diberikan perusahaan asuransi, ditambah uang duka dari perusahaan bus dimana ayahnya bekerja sebagai supir hampir seumur hidupnya,  lebih dari cukup untuk menghidupi Rubiyah dan ibunya. Rubiyah juga memakai uang itu untuk membawa ibunya berobat ke klinik dr. Marapande. Beberapa tetangga dan kerabat datang bergantian, membantu Rubiyah mengurusi ibunya. Hampir sebulan, ibunya akhirnya sembuh. Dia kembali pada kondisi sebelumnya, seorang perempuan yang  penuh percaya diri, justru karena melihat Rubiyah sangat gigih dan telaten mengurusnya. Setelah benar-benar sembuh, ibunya memutuskan bekerja untuk menopang ekonomi keluarga.

Sebelum berjualan salak, ibunya pernah bekerja sebagai tukang cuci pakaian. Pekerjaan itu selalu membuat ibunya mengeluh kecapaian dan semua sendi di tubuhnya bagai berlepasan. Rubiyah harus memijiti seluruh tubuh ibunya setiap malam, dan tugas baru itu justru menyita waktu Rubiyah untuk belajar. Selesai memijiti ibunya, Rubiyah akan kecapaian dan lekas tidur. Rubiyah tak pernah mengeluhkan soal itu, dia juga tidak pernah menunjukkan kalau hatinya sedang senang. Seperti ketika suatu hari ibunya memberitahu akan berjualan salak di loket bus AKAP, karena pemilik perusahaan bus AKAP itu merasa kasihan dan ingin membantu. Awalnya pemilik perusahaan bus AKAP menyarankan agar ibunya bekerja sebagai penjaga loket bus AKAP,  tapi ibunya menolak dengan alasan tidak bisa membaca, dan karena itu ibunya khawatir tidak akan bisa bekerja dengan baik. Untuk menghormati niat baik pemilik perusahan bus AKAP itu, ibunya menawarkan diri agar diperbolehkan berjualan salak di depan loket bus AKAP.

“Berjualan salak tidak perlu kemampuan membaca, juga tak akan menguras tenagaku,” katanya, “hasilnya pun lebih dari cukup untuk aku dan anakku.”

“Anakmu perlu biaya banyak untuk sekolah,” kata pemilik perusahaan bus AKAP.

“Aku bisa berhemat,” kata ibunya.

“Ya, sudah. Tapi kalau suatu saat kau butuh apa saja, jangan sungkan-sungkan mengabari aku,” kata pemilik perusahaan bus AKAP.

Rubiyah tahu ibunya suka dengan pekerjaan barunya. Tiap hari, selalu pada dini hari, ibunya akan bangun lebih cepat daripada para penjaga masjid. Setelah memasak untuk sarapan, ibunya akan berkemas untuk keluar rumah, ke rumah petani salak yang menjadi langganannya. Dalam hitungan jam,  ibunya kemudian pulang membawa dua karung salak. Kepulangan ibunya ditandai suara sember mesin becak vespa. Pemilik becak akan membawa karung-karung salak itu ke dalam rumah, meletakkannya di ruang tamu. Setelah ongkosnya dibayar, sopir becak itu akan pergi. Ibunya akan membuka karung-karung salak, mencurahkan semua isinya ke lantai. Seperti biasa, Rubiyah akan ikut memilih salak-salak itu, memisahkan salak terbaik dengan salak yang sudah busuk. Salak-salak busuk akan dikupas, lalu dijadikan manisan. Manisan buatan ibunya sangat nikmat, dan Rubiyah akan mengantar manisan itu ke beberapa warung tetangga untuk dititipkan agar dijual.

Meskipun ibunya tampak menyukai pekerjaan barunya, Rubiyah tetap jatuh kasihan kepada ibunya. Usia ibunya belum empat puluhan, tapi sudah terlihat lebih tua dari usianya. Helai-helai uban memenuhi rambutnya yang selalu ditutup dengan kerudung. Anak-anak rambut itu sering keluar, jatuh di kening dan dia mengembalikannya ke dalam gelungan rambutnya dengan gerakan seolah ada sisir tergenggam di tangannya. Kadang ibunya tak sadar kalau jarinya kotor,  penuh duri-duri salak yang baru dikupas.

Ketika melihat ibunya menggelung rambut, Rubiyah membayangkan betapa cantiknya perempuan itu pada masa gadisnya, dan sisa-sisa kecantikkan itu terlihat pada bola matanya yang bening. Rubiyah sering membanding-bandingkan kecantikan ibunya dengan dirinya, terutama pada dua bola matanya, karena teman-teman sekelasnya sering memuji bola matanya seolah-olah ada telaga mengambang di sana dan setiap laki-laki yang melihatnya selalu ingin berubah menjadi ikan agar bisa berenang di telaga itu. Terkadang Rubiyah ingin tahu apakah ibunya pernah mendapat pujian seperti itu dari teman-temannya, dan apa yang akan dilakukan ibunya bila mendapat pujian seperti itu. Tapi Rubiyah akhirnya menyimpan pertanyaan itu, karena dia khawatir pertanyaan seperti itu akan mengungkit kenangan ibunya terhadap almarhum ayahnya, dan sangat pasti mengingat hal itu akan membuat ibunya kembali bersedih. Sebetulnya, dia hanya ingin menjadi sangat akrab dengan ibunya, hanya ingin memiliki teman bercerita,  sekaligus membuat ibunya agar tidak bosan melakukan pekerjaan yang sama setiap hari, tetapi ibunya tampak sangat sibuk dan begitu serius.

Setelah mencurahkan semua salak dari karung, ibunya akan memasukkan salak-salak itu ke dalam beberapa karung kecil terbuat dari pandan. Tiap karung itu berisi satu kilogram salak. Karung-karung kecil itulah yang akan dibawa ibunya ke loket bus AKAP. Ibunya harus sudah sampai di loket itu sebelum hari benar-benar terang. Bus AKAP dari Jakarta maupun Medan masuk ke loket pada Subuh hari, lalu pergi lagi seusai para penumpang mendirikan salat Subuh.  Beberapa penumpang yang tidak ikut salat akan mencari salak untuk oleh-oleh mereka atau untuk dimakan selama di perjalanan.

“Makanya ibu harus buru-buru sampai di loket. Terlambat sedikit saja rezeki ibu akan direbut pedagang salak lainnya,” kata ibunya.

Kalimat ibunya tak hanya sampai di situ, tapi dilanjutkan dengan nasehat agar Rubiyah belajar dengan baik, karena orang berilmu pengetahuan itu sangat penting. Dia mengangguk. Dia sudah hafal nasehat ibunya, tapi setiap kali ibunya mengulang-ulang nasehat itu, dia membangun kesan seakan-akan baru pertama kali mendengarnya.  Sementara keinginannya untuk menanyakan langsung apakah betul bola matanya sebening telaga ini diwarisi dari ibunya, tidak pernah dibuang dari pikirannya. Suatu saat, dia yakin, akan ada kesempatan untuk menanyakan hal itu kepada ibunya. Sementara pertanyaan itu belum diajukan, dia sering mencuri-curi menatap bola mata ibunya.

Bola mata ibunya terlihat redup, seperti cermin yang sudah lama tak dibersihkan. Mungkin karena dia selalu melihat bola mata itu saat membukakan pintu menjelang Subuh ketika ibunya pulang dari berjualan salak, dan saat itu rasa capai dan kantuk menyerang, sehingga mata itu tidak terlihat bening. Ingin rasanya melihat bola mata ibunya saat rasa kantuk tuntas dari mata itu dan kesegaran bermekaran di sana. Dia menunggu-nunggu saat seperti itu tiba, tapi bola mata ibunya selalu saja terlihat sama, kelelahan menahan gempuran kantuk yang luar biasa. Rubiyah berpikir, sedikit berita gembira akan membuat mata ibunya kembali bening.

Rubiyah tidak menyadari kalau dia sudah tiba di jalan lintas Sumatra. Matahari terik. Keringat mengucur di tubuhnya. Dia berdiri di pinggir jalan, menebar tatapan,  mencari loket bus AKAP. Tidak sulit menemukan tempat sebesar dan seramai itu. Loket bus AKAP sebuah bangunan besar dan halamannya luas, tempat parkir beberapa bus AKAP yang berukuran besar. Dia membayangkan bertemu ibunya. Dia yakin ibunya akan sangat kaget, tak menyangka dia bisa sampai. Tapi, manakala dia sudah tiba dan menebar tatapan mencari ibunya, dia tidak menemukan sosok yang dikenalinya itu. Dia berputar-putar di lapangan parkir loket bus AKAP, menduga-duga kalau ibunya sedang mengiderkan dagangannya kepada para penumpang bus AKAP. Ada dua bus sedang berhenti, dia naik ke bus AKAP itu dan tidak menemukan ibunya. Dia turun dan kembali mengelilingi lapangan parkir. Tetap saja dia tidak menemukan ibunya.

Dia bertanya kepada seorang pedagang salak. Perempuan tua itu menatapnya. “Kau anaknya Hindun, ya?” Pedagang salak bertanya dengan nada keheranan. “Ibumu baru saja pergi dengan seseorang.”

“Pergi?”

“Ya, pergi.”

“Kemana?”

Pedagang salak itu mengangkat bahu sambil berkata kalau ibunya selalu pergi dengan seseorang setiap hari. Begitu ibunya tiba di loket bus AKAP, akan datang orang yang menjemputnya. Tiap hari selalu berubah orang yang menjemputnya.

“Maksud, Ibu?“

“Macam mana kau ini. Aku kasih tahu malah tak percaya. Ibu kau tak pernah berjualan di sini. Setiap hari dia selalu pergi dijemput orang, entah kemana?”

Rubiyah ternganga. Mata Rubiyah berair. 

 

 

 

Budi Hatees, menulis cerpen, sajak, dan esai di berbagai media seperti Horison, Kompas, Koran Tempo, Femina, Nova, Media Indonesia, dan lain sebagainya. Sebagian cerpennya dikumpul dalam antologi bersama, sebagian lain dikumpul dalam Laskar di Garis Belakang (Penerbit Matakata, 2006).