JOGLOSEMARNEWS.COM Wisata Kuliner

Ternyata Warung Legendaris Bu Pe Berasal Dari Nama Tokoh Wayang Petruk

WARUNG LEGENDARIS-Bu Pe bersiap menanti pelanggan di warung legendarisnya. Joglosemarnews/Aris Arianto
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
WARUNG LEGENDARIS-Bu Pe bersiap menanti pelanggan di warung legendarisnya. Joglosemarnews/Aris Arianto

WONOGIRI-Bagi pecinta kuliner di Kota Mete Wonogiri, nama warung Bu Pe sudah sangat familiar. Namun masih banyak yang belum tahu asal mula penamaan warung Bu Pe itu sendiri.

Pemilik warung Bu Pe, Partini, mengatakan nama Pe berasal dari tokoh wayang punakawan Petruk. Suaminya yang bernama Kasino, dulu merupakan pemain wayang orang. Peran yang dilakoni sang suami selalu sama, yakni tokoh punakawan Petruk. Karena itu, dalam kesehariannya, sang suami sering dipanggil Petruk atau disingkat Pe. Panggilan tersebut merembet ke dirinya, dengan Bu Petruk atau Bu Pe.

“Akhirnya saya punya warung pun, biar lebih akrab diberi nama Bu Pe,” ujar dia, Minggu (21/1/2018).

Baca Juga :  Los Dol Slur, KK Akte dan Dokumen Adminduk Lainnya Bisa Dicetak Sendiri di Rumah. Yang Penting Bukan e-KTP dan KIA ya

Bu Pe sudah membuka warung sejak 1986. Dia menjelaskan, pelanggan bukan hanya dari sekitar Wonogiri. Dari kabupaten lain juga banyak. Mereka biasanya mengenal dari mulut ke mulut dan cocok dengan menu masakan khas Jawa.

Warung Bu Pe berada di Lingkungan Johor Lor RT 3 RW 4 Kelurahan Giriwono Kecamatan Wonogiri.

Awal terjun berbisnis, dia berjualan minuman dawet dan tempe gembus bacem. Kemudian di pertengahan 1986 dia dimintai tolong seorang pejabat untuk memasakkan makanan. Namun, syaratnya harus disediakan di dalam rumah. Dari situlah ide awal membuka warung makan tersebut.

“ Dulu saya mulai dengan modal Rp 200. Kemudian saya tekuni terus, dapat untung saya tabung untuk mengembangkan usaha, “ papar perempuan kelahiran Wonogiri 19 Agustus 1956 tersebut.

Baca Juga :  Polres dan ATR BPN Wonogiri Jalin Kerjasama Penyuksesan PTSL dan Legalisasi Aset Polri

Perempuan berkacamata ini mengaku tetap enjoi berbisnis kuliner. Diakui pula, hingga akhir hayat bakal terus menekuninya. Sebab, dari bisnis itu dia bisa menghidupi keluarga. Hingga tiga orang anaknya mampu mengantongi ijazah sarjana, dua diantaranya hingga jenjang Strata 2 (S2).

Sejak membuka usaha puluhan tahun lalu hingga sekarang, lokasi warungnya tidak pindah. Hal ini sengaja dia lakukan sebagai salah satu langkah pemasaran. Menurutnya, pelanggan akan lebih suka datang ke warung yang lokasinya menetap. Aris Arianto