JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Ini Dia, Koleksi Radio Kuno Mantan Bupati Danar Rahmanto, Masih Mampu Tangkap Siaran Dari Luar Negeri

Danar Rahmanto di antara sebagian radio lawas koleksinya.JSNews/Aris Arianto
Danar Rahmanto di antara sebagian radio lawas koleksinya.JSNews/Aris Arianto

WONOGIRI-Tak banyak yang tahu, mantan Bupati Wonogiri Danar Rahmanto hobi mengoleksi radio kuno. Uniknya, radio kuno miliknya masih berfungsi normal dan mampu menangkap gelombang radio luar negeri.

Pemilik usaha transportasi bus PO. Timbul Jaya ini memiliki beberapa kelangenan, selain batu akik. Salah satunya merawat radio kuno. Di atas meja kerjanya di Kecamatan Ngadirojo, berjejer radio lawas berukuran besar aneka merk. Ada yang sampai berukuran panjang hingga 75 sentimeter, lebar 40 sentimeter dan tinggi 60 sentimeter.

Sejumlah radionya ada yang masih berfungsi normal hingga kini. Yakni radio merk Philips dan Rali. Keduanya masih bisa dihidupkan, digeser-geser kenop pencari gelombang dan volumenya. Daya radio berasal dari baterei di bagian belakangnya.

Baca Juga :  Mau Tahu Cara Kampanye Harjo dan Josss Saat Pandemi COVID-19? Simak Yuk Penjelasan Joko Sutopo dan Joko Purnomo

“Masih bisa menangkap siaran luar negeri, BBC, NHK world, Voice of America, dan lainnya,” jelas pria kelahiran Wonogiri, 10 Juli 1965 tersebut, Minggu (18/2/2018).

Soal kualitas suara, dikatakan suami Tabitha Marantika ini, cukup jernih untuk ukuran radio lawas, meskipun tetap ada suara kemreseknya. Lantaran itu dia mengaku kesengsem dan berniat terus merawatnya.

Baca Juga :  Nyawiji Masih Menjadi Perselisihan Josss dan Harjo, Lantas Bagaimana Langkah KPU Maupun Bawaslu Wonogiri Menyikapi Permasalahan ini?

Soal perawatan, paling hanya membersihkan dari debu, dan mengganti baterei. Atau mengganti baut yang telah aus.

Radio miliknya diperoleh dari warisan orang tuanya. Dari delapan radio, tinggal dua yang masih berfungsi. Sisanya hanya dijadikan pajangan, lantaran cukup susah mencari onderdil yang rusak. Radio lawas miliknya rata-rata dibuat pada dasawarsa 60-70-an.

Menurut Danar, ada keistimewaan tersendiri ketika mendengarkan suara radio lawas. Suara kemresek khasnya tidak bisa disaingi radio era kini. Aris Arianto