JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Pasar Darurat Seperti Kubangan Kerbau, Ratusan Pedagang Sumberlawang Galau

Kondisi pasar darurat di lapangan Ngandul Sumberlawang yang becek dan tak layak, Senin (12/2/2018). Foto/JSnews
Kondisi pasar darurat di lapangan Ngandul Sumberlawang yang becek dan tak layak, Senin (12/2/2018). Foto/JSnews

SRAGEN– Ratusan pedagang Pasar Sumberlawang Sragen mengeluhkan lokasi pasar sementara di Lapangan Desa Ngandul yang becek. Kondisi lokasi yang menyerupai kubangan kerbau juga membuat para pedagang resah lantaran omzet penjualan menurun drastis.

Proses renovasi pasar sudah berlangsung lebih dari lima bulan dan belum ada tanda-tanda kapan pedagang bisa kembali berjualan di pasar yang baru tersebut.

“Musim hujan seperti sekarang, pasar darurat becek seperti sawah. Imbasnya tidak ada pembeli yang datang. Kami berharap bisa secepatnya kembali berdagang di pasar pascarenovasi,” ujar Yanti (35), pedagang pakaian ditemui di pasar darurat, Senin (12/2/2018).

Baca Juga :  Berikut Daftar 24 Warga Sragen Yang Positif Terpapar Covid-19 Hari Ini. Paling Banyak dari Gemolong, Ngrampal, Tanon dan Kalijambe!

Menurut Yanti, hujan yang terus terus hampir setiap hari membuat kondisi pasar darurat semakin parah. Genangan air dan lumpur terjadi hampir setiap hari dan membuat kondisi pasar menjadi sepi.

“Semua pedagang mengeluh sepi. Bagaimana bisa berjualan kalau kondisinya becek seperti ini,” jelasnya.

Pedagang lainnya, Puji Prihatin (30) yang berjualan sayuran segar mengaku pasrah dengan kondisi pasar darurat yang becek serta tergenang. Sebagai pedagang kecil, dirinya bingung mau sambat ke siapa.

“Kami hanya pasrah dan berdoa agar renovasi pasar segera selesai. Semoga secepatnya bisa pindah ke pasar baru,” tandasnya.

Baca Juga :  Dewan Rakyat Jelata Sragen Geruduk Kejaksaan Desak Kasus Dugaan Tipikor di DPUPR Diusut Tuntas. Kajari Isyaratkan Segera Panggil Kepala DPUPR!

Puji menambahkan, sejak pindah di pasar darurat beberapa bulan lalu, omzet penjualan memang terus menurun. Kondisi ini semakin parah saat musim hujan datang dan pasar darurat dipenuhi genangan air mirip kubangab kerbau.

“Kalau hujan deras, kami memilih untuk tidak berjualan. Hampir setiap hari kami selalu kerjabakti menutup genangan air menggunakan batu dan pasir. Tapi tetap saja tidak ada pembeli yang datang,” tambahnya. Wardoyo