JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

300 Orang Ini Susuri Sungai Winongo di Sleman, Ternyata Ini Yang Mereka Cari

Kegiatan susur sungai Winongo/Tribunnews

SLEMAN – Guna memperingati Hari Air Dunia, BBWS Serayu Opak dan Asosiasi Komunitas Sungai Yogyakarta menggelar kegiatan Susur Sungai Winongo pada Sabtu (24/3/2018).

Acara yang diadakan selama satu tahun sekali ini diikuti kurang lebih 21 Forum Peduli Sungai serta sekitar 300 peserta baik dari anggota forum, mahasiswa dan masyarakat.

Kegiatan tersebut tidak sekedar menyusuri sungai Winongo sejauh 3  km, namun juga pemantauan terhadap kualitas air dengan biotilik, juga inventarisi kondisi sungai dan sekitar sungai.

Tri Bayu Aji, selaku Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak yang juga turut terjun menyusuri sungai mengatakan jika tema dari kegiatan ini adalah Lestarikan Alam untuk Air.

Oleh karenanya, sangat penting dilakukan untuk melihat dan menjaga kondisi sungai yang mana air merupakan sumber kehidupan.

“Kebersihan sungai merupakan tanggungjawab kita bersama, oleh karenanya dalam kegiatan ini melibatkan berbagai elemen, baik dari BBWS, Forum Peduli Sungai, mahasiswa, juga ada masyarakat,” terangnya.

Baca Juga :  Seminggu Ini, Aktivitas Kegempaan Merapi Melonjak

Tri juga mengungkapkan, bahwa dalam acara ini pihaknya juga melepaskan benih-benih ikan endemik, yang merupakan ikan yang asli hidup di sungai Winongo.

Endang Rohjiani, selaku Ketua Panitia mengatakan jika kegiatan susur sungai ini diawali dari dusun Kragilan, Sunduadi, Sleman sampai di dusun Bener, Tegalrejo, Yogyakarta.

“Susur sungai, nantinya kita data untuk melihat sejauh mana kondisi lingkungkan disekitar kita. Karena lewat sungai, kita dapat melihat apakah kondisi alam kita memang benar-benar bersih ataupun tercemar,” terangnya.

Endang juga mengatakan jika para peserta yang ikut dalam kegiatan susur sungai, juga diminta untuk menganalisis mengenai mata air, limbah-limbah yang ada, tebing rawan longsor, juga tentang pemukiman sekitar sungai.

Baca Juga :  Ngaku Sebagai Polisi, Bawor Rampas Uang dan HP Korban dengan Mudah, Tapi Akhirnya Meringkuk di Jeruji Besi

“Kita tidak hanya sekedar menganalisis tentang keadaan air dalam sungai, tapi juga kehidupan sekitarnya,” terangnya.

Sedangkan Anton Sujarwo, selaku Aktivis Konservasi Lahan Basah,  mengatakan jika data-data yang didapat di lapangan akan dianalisa, sebelum menentukan mengenai kualitas air pada sungai.

“Nanti data-data yang kita kita kumpulkan, seperti adanya serangga air. Kita juga petakan masalah-masalah yang ada berkaitan dengan keadaan sungai,” terangnya.

Anton mengatakan jika sebelumnya AKSY juga sudah mengambil data-data kualitas air di Sungai Code dan Sungai Boyong.

Dari sana didapatkan data bahwa Sungai Boyong mengalami pencemaran yang sedang. Sedangkan Sungai Code sudah mengalami pencemaran yang berat.

“Kali Code kita pantau di titik Taman Siswa, pada tanggal 10 Maret 2018. Kita dapatkan bahwa disana keadaan sungai tercemar berat,” ungkapnya.

www.tribunnews.com