JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Biaya Kawin Suntik Gratis? Ini Permintaan Peternak Sapi Wonogiri

Aktifitas perdagangan sapi di Pasar Hewan Pracimantoro, Wonogiri.JSNews/Aris Arianto
Aktifitas perdagangan sapi di Pasar Hewan Pracimantoro, Wonogiri.JSNews/Aris Arianto

WONOGIRI—Peternak sapi di Wonogiri meminta pemerintah menggratiskan biaya inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik. Lantaran IB sering mengalami kegagalan dan justru membuat biaya membengkak.

Salah satu peternak, Wisnu mengungkapkan, saat IB dilakukan sebanyak tiga kali dan gagal, maka peternak sudah pasti menanggung kerugian ratusan ribu rupiah. Sementara untuk kembali menanti datangnya masa birahi, mereka harus menunggu puluhan hari.

“Saya berharap pemerintah menggratiskan IB, karena dengan tidak berhasilnya IB maka akan terjadi kemunduran proses produksi dan kerugian bagi peternak tradisional,” ujar peternak sapi asal Kecamatan Ngadirojo itu, Sabtu (31/3/2018).

Baca Juga :  Tak Hanya Siang, Razia Masker di Kecamatan Nguntoronadi dan Purwantoro Wonogiri Digelar Malam Hari

Dia menjelaskan, setiap satu kali suntik IB, dia harus merogoh kocek sekitar Rp 60 ribu untuk satu ekor sapi. Dia mengaku sempat mengalami kegagalan, kendati dilakukan IB sebanyak tiga kali. Jika dikalkulasi dia harus menanggung kerugian Rp 180 ribu per ekor.

“Padahal IB itu diulang lagi ketika si sapi kembali masa birahi yaitu minimal 21 hari sekali. Otomatis jika tidak berhasil, peternak akan menanggung pakan selama 21 hari itu,” kata dia.

Baca Juga :  Ini Lho Lur Jumlah Kasus Terkonfirmasi Positif COVID-19 di Wonogiri, Ada Penambahan Kasus Baru Semuanya Dari Pelaku Perjalanan Zona Merah

Sementara itu, Kepala Dislapernak Wonogiri Rully Pramono Retno menyebutkan, program peternakan sapi di daerahnya terus digenjot melalui sistem kawin suntik atau IB. Dia juga mengatakan, populasi sapi dipertahankan hingga sekarang, termasuk mengeluarkan larangan pemotongan sapi betina produktif di daerah itu. Di Wonogiri saat ini ada 67 petugas inseminasi yang tersebar di sejumlah kecamatan. Aris Arianto