loading...


Cerpen Ruly R

 

“Kere. Kau curang.”

“Matamu.”

***

Sebelum kurasakan hangat karena paparan sinar lampu merkuri, aku merasakan dinginyang tak keruan. Tubuhku menggigil dan hal itu bisa dikatakan sebagai anomali.

Sudah cukup lama aku tinggal di tempat itu—tempat yang membuatku menggigil,  bercengkrama dengan kawanku yang lain dalam kotak yang tidak kuketahui secara pasti tingginya. Lambat laun, satu per satu kawanku terpaksa meninggalkan tempat itu. Dan sejak itu aku merasa ada hal yang janggal, meski satu kawan masuk menggantikan kawanku yang sebelumnya diambil, tapi itu semua tidak bisa mengusir kejanggalan yang berkelindan dalam pikiranku. Kejanggalan semakin hari menggerogoti hatiku, berubah menjadi sebuah harap, agar aku bisa segera meninggalkan tempat itu.

Menunggu, aku terus menunggu dan aku gusar karena terlalu lama menunggu. Seakan hal itu menjadi penyakit, tak ada yang bisa memberi obat yang sempurna, yang datang justru luka yang semakin menganga.

Satu per satu kawan senasib sependeritaan mulai meninggalkan. Tak ada rasa yang lain kecuali kesepian. Saban hari kuakrabi kesepian itu, mencoba berbicara padanya, meski dia tidak pernah menanggapi apa yang kukatakan. Sebenarnya aku ingin dia mengangguk pada setiap hal yang kukatakan, tapi tidak, dia tidak pernah memberikan tanggapan tentang hal yang kuceritakan padanya.

***

Seorang lelaki berambut perak membuka tempat tinggalku yang dingin. Aku berharap dia memegang tubuhku barang sebentar. Harapan dan keinginanku berlainan dengan kenyataan, dan kenyataan itulah yang menyadarkanku. Aku akan lebih lama di tempat yang dingin ini.

Dalam aku menunggu, waktu terus merambat. Entah sampai berapa lama aku terus di tempat dingin ini, bercengkrama dengan kesepian dan keinginanku yang berkelindan. Kebebasan tak ubahnya hal yang fana, yang membuat segalanya semakin jauh untukku. Suka cita tak pernah aku dapatkan. Kejayaan akan baju yang kukenakan sudah lenyap ditelan masa lalu.

Aku masih ingat, dulu sebangsaku dijual empat puluh lima ribu. Kini hargaku beriring dengan nasibku. Terlalu murah, jika cap murahan kurang tepat untuk dikatakan. Kalian tahu bukan setiap yang murahan sangat sulit untuk laku di pasaran? Yang sekarang sangat mudah dilihat pasti setiap orang ingin selalu terlihat ngetrend dengan mengonsumsi segala sesuatu yang bernilai tinggi. Aku bisa mengatakan jika menghakimi dirasa kurang tepat, mereka yang seperti itu pasti memburu segala nilai dan gengsi semata. Nasib barang murah sepertiku hanya bisa diobral jika memang mau laku, tapi menurutku pemilik tempatku berada bisa kukatakan pelit. Buktinya dia tidak pernah melakukan hal itu.

Baca Juga :  Yuditeha Bedah Novel "Astungkara" Karangan Panji Sukma

Nasibku, lebih tepatnya nasib sebangsaku tak ubahnya dengan seseorang yang mati bunuh diri dengan meminum racun. Merasa kesakitan yang tak terperikan sebelum akhirnya mati mengenaskan.

Kurasakan waktu bak sebuah karet yang ditarik dengan sangat kuat dalam sisi yang berseberangan. Semakin lama, semakin tegang. Dalam rentangan waktu aku ingin berteriak tapi tidak bisa. Mulutku tertutup rapat benda yang berbentuk sesuai dengan mulutku. Lalu bagaimana selama ini aku berbicara dengan kesepian? Aku berbicara lewat batinku. Mulut mungkin saja tertutup, tapi batin tidak. Batin selalu bisa menguarkan segala rasa yang ada dalam diri.

***

Hari berganti, waktu masih kurasakan sama, melangkah dengan pelan. Satu penghuni diambil untuk digantikan dengan yang lain. Begitu, selalu begitu, dan semua itu bisa dikatakan sebagai kenormalan. Tapi aku tidak, yang normal dalam nasibku hanyalah sunyi dan kesepiaan. Sampai aku merasakan kedinginan yang tak terperikan, tnpa kudugu tangan lelaki berambut perak itu mencengkeram tubuhku. Kurasakan bak sebuah kelegaan. Segala yang tercekat seakan telah luruh dan luntur ketika aku dikeluarkan dari tempat itu.

“Lima belas,” ucap lelaki berambut perak kepada pemuda yang ada dihadapanku.

Tanpa sepatah kata, pemuda itu langsung membayar dan membawaku. Aku dalam warna yang gelap, entah kantog plastik atau sebuah tas aku tak tahu pasti. Yang kutahu hanyalah rasa bebas menghirup udara serakus mungkin, udara yang kurasakan sebagai sebuah tanda kemerdekaan.

Kebebasan. Begitulah kalimat yang terus mengiang dan perlahan menggerogoti hati dan pikiranku. Kebebasan adalah keriangan. Tak dapat ditukar atau dibayar dengan nilai berapapun. Aku tidak tahu pasti kenapa kemerderkaanku dalam warna hitam, bukan dalam cahaya-cahaya fajar yang menawarkan segala harapan. Dalam hitam aku bangga, dalam hitam aku adalah diriku, yang bebas tak terkekang dan tak merasakan kesepian lagi walau aku masih saja sendiri. Kesepiaan seakan bergandeng tangan denganku, tapi kali ini kesepian itu berbeda. Kesepian itu tak menyayat mlainkan membawa sebuah keceriaan untukku.

Baca Juga :  2,5 Jam Musikalisasi Puisi Bersama Yuditeha di Palur Plasa

Aku dikeluarkan dari hitam yang sedari tadi seakan memelukku. Dua pemuda yang entah umurnya berapa saling menukar keriangan. Seandainya mereka tahu juga kerianganku, tentu kami akar membentuk segitiga keriangan.

Salah satu dari pemuda menggigit ujuang atas tubuhku. Dengan kasar dan secara paksa mereka membuka tutup mulutku dengan geraham mereka. Kukatakan mulut itu bau, mungkin terlalu banyak mengatakan kata kasar atau dusta. Entahlah. Untuk pastinya aku tidak tahu.

Cairan dalam tubuhku keluar dengan deras. Kemerdekaan atau bisa kukatakan kelegaan mengalir dalam tubuhku dengan deras. Cairan itu mereka tuangkan dalam gelas plastik bening. Kulihat mereka bahagia, aku juga begitu. Kebahagiaanku datang bukan karena melihat mereka, melainkan rasa ini sulit didefiniskan apa sebabnya.

“Sedikit-sedikit saja.”

“Kau cerewet.”

“Aku juga patungan.”

“Kau pikir aku tidak patungan?”

Begitu lama mereka saling berdebat. Membuatku ingin marah tapi aku tidak bisa mengatakan itu secara langsung kepada mereka. Aku terus mendengar perdebatan itu. Meski itu tidak enak, tapi aku tidak bisa mengelak. Kemerdekaan yang kurasakan seakan lenyap karena perdebatan mereka. Cukup lama perdebatan itu hingga akhirnya berhenti ketika bola mata milik masing-masing tertuju pada perempuan berambut panjang dengan lipstik merekah. Bibir perempuan itu begitu menggoda untuk dicumbu dan membawaku pada sebuah harapan, agar dia juga mau mencumbu bibirku. Barang sebentar itu tak masalah bagiku.

***

Perempuan itu menanyakan sebuah nama namun kedua pemuda yang sedari tadi berdebat menggeleng.

“Cari yang ada saja.” Salah seorang pemuda nyeletuk.

Baca Juga :  Yuditeha Bedah Novel "Astungkara" Karangan Panji Sukma

“Mumpung lagi sepi. Di sini saja. Itung-itung nemenin main kartu,” timpal seorang pemuda lain.

“Gampanglah, nanti abang beri bonus.”

Aku mempunyai keyakinan bahwa perempuan itu mau duduk. Memang ekspresinya seakan menolak. Tapi aku menyimpulkan itu bukan tolakan melainkan menjaga gengsi.

“Nggak usah lama-lama. Duduk sini aja!” ucap salah seorang pemuda dengan mata nakal menggoda.

Perempuan itu akhirnya duduk meski wajahnya tetap dia pasang untuk menjaga gengsi.

“Keluarin kartunya! Biar dia yang kocok,” perintah salah seorang pemuda ke pemuda satunya.

Kartu keluar. Dikocok, dibagi untuk dilirik kemudian dibanting. Terus begitu dan begitu. bola mata milik kedua pemuda mulai berat dan kuyakin sebentar lagi mereka tertidur. Sementara dua bola mata milik perempuan itu seakan berbinar. Wajahnya yang semula menahan gengsi kini seakan menawarkan segala pesona. Sesekali dia mengibaskan rambutnya, seakan menambah pesonanya. Cukup lama dua pemuda itu bermain kartu.

“Yang menang bawa dia. Gimana?” Salah seorang pemuda memberikan tantangannya untuk pemuda satunya.

***

Satu pemuda marah, mengeluarkan segala serapah. Saat itu kurasakan kemerdekaanku tak benar-benar ada. Gelap yang semula menawarkan kemerdekaan kini tak benar-benar ada. Entah apa yang hilang, aku sendiri tak benar-benar tahu. Gelapkah yang hilang? Kemerdekaan kah? Yang jelas kutahu hanya darah segar yang keluar dari salah satu kepala pemuda itu. Tubuhku tercerai, berserak, dan aku tak pernah tahu kemedekaan itu.

***

 

Ruly R,

Aktif di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4) dan Literasi Kemuning. Dapat dihubungi melalui surel [email protected]

 

Loading...