JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Jalan di Wonogiri Sudah Mulus, Tapi Warga Mesti Ikut Menjaganya, Jangan Tanam Rumput Gajah

Perbaikan jalan di Kelurahan Wonokarto, Wonogiri.JSNews/Aris Arianto
Perbaikan jalan di Kelurahan Wonokarto, Wonogiri.JSNews/Aris Arianto

WONOGIRI—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri meminta partisipasi serta kepedulian masyarakat soal infrastruktur jalan dan jembatan (IJJ). Jangan sampai berlaku sembrono yang justru membuat IJJ menjadi tidak awet bahkan rusak.

Wakil Bupati Edy Santosa menegaskan, seandainya masyarakat tidak mau ikut merawat, umur jalan maupun jembatan pasti tidak akan lama. Bahkan IJJ menjadi percuma diperbaiki.

“Jalan di Wonogiri sudah halus, sudah mulus. Saya mengimbau agar masyarakat ini peduli dan rumongso melu handarbeni,” tegas Edy Santosa, Selasa (27/3/2018).

Menurut Wabup, pola pikir masyarakat perlu diubah. Perlu adanya penyadaran kembali dan meningkatkan semangat gotong royong. Terlebih lagi, pada musim penghujan seperti saat ini, banyak drainase yang tidak berfungsi lantaran tersumbat sampah dan tanah. Akibatnya air meluber ke jalan dan membuat jalan lekas rusak.

“Waktu kunjungan di wilayah Wonogiri timur, saya sempat berpesan kepada warga, agar menjaga drainase, jangan sepelekan manfaat drainase,” sebut Wabup.

Baca Juga :  Program Sunat Gratis di Slogohimo Wonogiri Berlanjut, Sasarannya Tetap Anak Yatim dan Kurang Mampu, Kali ini Dalam Rangka HUT TNI

“Jangan mentang- mentang sudah mengerti, kalau jalan ini jalan kabupaten yang merawat dan memperbaiki Pemkab, lalu masyarakat berpangku tangan saja, membiarkan semak belukar menutupi badan jalan,” tandas Wabup.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Wonogiri, Sri Kuncoro melalui Kepala Bidang Bina Marga, Prihadi Ariyanto mengungkapkan, masyarakat kadang tanpa sadar ikut membuat jalan rusak. Yakni dengan kelakuan menanam rumput gajah di sepanjang tepi jalan, serta menutup drainase atau saluran air.

Akibat dari penanaman rumput gajah di tepi jalan yang termasuk dalam Daerah Milik Jalan (Damija), air hujan yang menerpa jalan, tidak bisa teralirkan keluar. Air hanya berkutat di dalam badan jalan, sebab keberadaan rumput gajah ibarat bendungan penghadang bagi air.

Ketika air tetap berada di badan jalan, terang dia, secara molekuler akan membuat kerusakan. Pasalnya, aspal yang berasal dari molekul minyak, dipastikan akan saling bertolakan dengan molekul air. Akibatnya, aspal mudah mengelupas dan membentuk lubang-lubang, sama seperti akibat yang ditimbulkan cuaca dan kendaraan bertonase besar.

Baca Juga :  Main Layangan 2 Pemuda Dusun Watuploso Desa Domas Bulukerto Wonogiri Kesetrum, Gegara Ekor Layangan yang Terbuat Dari Alumunium Foil Nyangkut Kabel Listrik

Padahal, ujar dia, bereman seharusnya diisi material pasir dan batu. Sehingga, ketika ada hujan atau air masuk, bisa keluar jalan atau minimal terserap ke dalamnya. Lagipula, fungsi bereman sebenarnya salah satunya sebagai tempat berhentinya kendaraan. Dikatakan Prihadi, lebar bereman Damija untuk jalan provinsi adalah 1,5 hingga 2 meter, sedang bereman di jalan kabupaten selebar 1-1,5 meter.

“Ada juga saluran air justru ditutup. Alasannya, pemilik tanah tidak mau air akan masuk ke lahannya. Tapi hal ini malah membuat air juga tidak bisa keluar jalan, dan tetap berada di badan jalan,” jelas dia.Aris Arianto