JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Keterangan Ditemukan Bertolakbelakang, Santri Pelapor Korban Penyerangan di Ponpes Tanon Dikirim ke RSJD Solo

Santri Ponpes Raudlatul Falah Kecik Tanon, Udin (17) duduk di bagian tengah, yang sempat melaporkan menjadi korban penyerangan pria misterius diberangkatkan ke RSJD SOlo untuk menjalani pemeriksaan kejiwaan, Jumat (16/3/2018). Foto/Wardoyo
Santri Ponpes Raudlatul Falah Kecik Tanon, Udin (17) duduk di bagian tengah, yang sempat melaporkan menjadi korban penyerangan pria misterius diberangkatkan ke RSJD SOlo untuk menjalani pemeriksaan kejiwaan, Jumat (16/3/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Polres Sragen memutuskan untuk mengirim Udin (17), santri Pondok Pesantren Raudlatul Falah di Dukuh Karangdowo, Kecik, Tanon yang melapor sebagai korban penyerangan pria misterius, ke Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Solo. Langkah itu dilakukan menyusul temuan adanya indikasi kontradiktif antara keterangan santri asal Wonosobo itu dengan hasil penyidikan yang dilakukan tim Polres terkait insiden penyerangan yang dilaporkan.

“Hari ini, kita kirim korban (Udin) ke RSJD untuk dilakukan pemeriksaan oleh ahli kejiwaan di sana. Nanti hasilnya bagaimana, akan kita sampaikan,” papar Kapolres Sragen, AKBP Arif BUdiman didampingi Pimpinan Ponpes Raudlatul Falah, Kyai Umar Fauzi (55) dan pengasuh Ponpes Kalikobok, Ustadz Darusman di Polsek Tanon, Jumat (16/3/2018).

Udin tadi siang langsung dikirim ke RSJD Solo dengan dikawal personel Polsek dan rekan santri lainnya. Kapolres menguraikan pemeriksaan dari ahli kejiwaan di Solo diharapkan bisa menjadi poin penguat dari sejumlah fakta yang ditemukan tim Polres terkait kasus itu.

Pasalnya hasil penyidikan dan penyelidikan yang dilakukan selama dua hari nonstop sejak laporan Rabu (14/3/2018) mendapati ada empat kejanggalan yang ditemukan dari kasus yang sempat menggemparkan warga tersebut.

Menurutnya dari total 14 saksi yang sudah diperiksa dan juga ada sejumlah alat bukti yang didalami, mengarahkan kesimpulan sementara bahwa ada empat poin ketidaksesuaian antara keterangan yang dihimpun tim dengan dengan keterangan yang disampaikan korban (Udin).

Baca Juga :  Awas, Ini 10 Potensi Kerawanan di Pilkada Sragen Yang Wajib Diwaspadai. Salah Satunya Kampanye Ajakan Golput, Polres Siagakan 785 Personel Amankan Saat Coblosan

Pertama, perihal hasil medis. Setelah dilakukan pemeriksaan baik luar maupun dalam, keterangan petugas medis tidak menemukan tanda kelainan atau bekas luka di tubuh korban. Hal itu diperkuat dari hasil USG dan rontgen yang dilakukan di RS YAkssi Gemolong maupun RS Amal Sehat Sragen tempat korban dirujuk sesaat setelah dilarikan ke Puskesmas Tanon malam kejadian.

“Waktu di USG di Amal Sehat, Ustadz Darus juga menyaksikan. Dari luar tidak ada bekas luka, tapi korban ini mengaku perutnya sakit terus. Karena petugas medis Puskesmas khawatir sehingga dirujuk di Yakssi Gemolong yang ternyata alatnya kurang, sehingga dirujuk ke Amal Sehatuntuk di-USG. Jadi dirujuknya itu sebenarnya karena petugas khawatir karena Udin ini mengeluh terus, bukan karena kondisi lukanya karena kemudian memang tidak ditemukan ada bekas luka atau kelainan,” papar Kapolres.

Kemudian, poin kejanggalan kedua, Kapolres menyampaikan bahwa keterangan Udin sendiri diketahui bertolak belakang dengan keterangan saksi-saksi lain sebagaimana yang ditunjuk atau disampaikan Udin.

Menurutnya dari hasil itu, sudah ada 2 poin yang bertolak belakang. Poin ketidaksesuaian ketiga adalah keterangan yang diberikan Udin sendiri ternyata berbeda di setiap jamnya. Hal tersebut diketahui dari hasil pemeriksaan kejiwaan oleh tim psikiater yang ditunjuk Polres untuk memeriksa Udin.

Baca Juga :  Mulai Muncul Ajakan Golput, Tim Sukses Paslon Yuni-Suroto Minta KPU Lebih Proaktif Lakukan Sosialisasi. Bawaslu Sebut Ada 2 Jenis Ajakan Yang Bisa Ditindak!

“Pada jam ini dia menerangkan fakta A, di jam sama dia menerangkan fakta B,” terangnya.

Kapolres memastikan saat ini kondisi Udin baik dan sehat. Sementara, ustadz Darus menyampaikan bahwa secara fisik, kondisi Udin memang baik. Tapi sepengamatannya, memang ada kekurangan di akal pemikiran yang tak seperti rekan santri lainnya.

“Bisa dikatakan pemikirannya kurang sak on. Nggak sesuai dengan perkembangan pemikiran teman-temannya,” terangnya.

Sementara, Kyai Umar memastikan situasi di pondoknya tetap kondusif dan aktivitas mengaji juga berjalan seperti biasa. Seperti diberitakan, Udin (17) santri asal Wonosobo membuat gempar dengan melapor ke Polsek Tanon Rabu (14/3/2018) petang. Ia mengaku menjadi korban penyerangan pria misterius yang mendadak menerobos ke kamarnya dan memukuli perut serta ulu hatinya.

Korban juga mengaku ditimpa gabah sekarung hingga sempat tak sadarkan diri sekira pukul 11.30 WIB. Keterangan temannya, saat itu Udin ditemukan dalam kondisi telungkup di kamar dan saat dipergoki pelakunya langsung kabur lewat jendela.

Sempat dilakukan pengejaran namun mereka dan warga mengatakan pelaku menghilang. Wardoyo