JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Maraknya Order Fiktif Bikin Resah Driver Online yang Jujur, Ini Masalahnya

Petugas Kepolisian Berhasil Ungkap Hacker dan Driver Grab Pengguna Aplikasi Tuyul dan Orderan Fiktif/Tribunnews

SEMARANG – Praktik ilegal ‎dalam dunia taksi online, semisal order fiktif dan aplikasi ‘tuyul’ lainnya cukup meresahkan para driver yang berjalan lurus sesuai aturan.

Maraknya praktik order fiktif sangat merugikan para driver ‘polosan’, yang benar-benar bekerja sesuai aturan dan tak menggunkan aplikasi tambahan yang tak diizinkan.

Hal ini diungkapkan oleh seorang driver grabcar, sebut saja M. Rijal. ‎Ia pernah merasakan bagaimana tak nyamannya bekerja, lantaran banyaknya order fiktif yang masuk ke aplikasi miliknya.

“Kamis kemarin, saya sehari mendapat tujuh order fiktif atau tembakan. Sangat meresahkan dan merugikan kami,” ujarnya kepada Tribun Jateng.

Disampaikan, ia dapat menyimpulkan bahwa order yang masuk ke aplikasinya adalah fiktif, lantaran‎ beberapa saat kemudian order tersebut dibatalkan. Begitu seterusnya hingga terulang sampai tujuh kali.

“Akun yang order berganti-ganti, tak sama. Namun, lokasi titik penjemputan dan lokasi tujuan sama. Setelah saya telepon gak bisa, dan kemudian dibatalkan. Ini aneh,” terang dia.

Baca Juga :  Gubernur Ganjar dan Rachmat Gobel Bertemu Bahas Investasi: Pengusaha Happy, Buruh Happy, dan Pemerintah Happy

Disampaikan lebih lanjut, lantaran seringnya mendapat order fiktif tersebut‎, nilai performanya turun drastis. Sehingga, ia pun tak ada harapan untuk bisa menutup poin, guna mengejar bonus.

“‎Performas saya turun drastis, sampai hanya 20 persen. Padahal, untuk bisa dapat bonus minimal performa 60 persen. Kalau keserinan dicancel, itu kan menurunkan performa. Harapan untuk bisa dapat bonus sirna, akhirnya seharian saya ndak jadi kerja,” urainya.

Ia tak ingin ikut-ikutan menerapkan order fiktif, guna mempermudah mencapai target poin.

“Saya inginnya kerja yang lurus-lurus saja, tak ingin berurusan yang melanggar hukum seperti itu,” akunya.

‎Senada disampaikan driver taksi online lainnya, sebut saja NA Rudi. Diakuinya, praktik order fiktif tersebut memang sangat merugikan para driver yang bekerja ‘polosan’.

Baca Juga :  Pengesahan Warga Baru PSHT, Polres Brebes Kerahkan Ratusan Personel. Kapolres Imbau Tak Ada Konvoi atau Arak-Arakan!

“Sekarang nutup poin untuk cari bonus sudah sulit, jarang sekali saya bisa menutup poin untuk dapat bonus,” ucapnya.

Untuk mendapat bonus Rp 350 ribu, maka driver harus mendapatkan 18 poin. Sementara, jika hanya mampu mendapat 15 poin, maka bonus yang didapatkan sebesar Rp 280 ribu. Sedangkan, jika bisa mendapat 12 poin, maka tersedia bonus Rp 170 ribu.

Dia khawatir, dengan maraknya praktik order fiktif dan mengakali aplikasi seperti, maka harapan pra driver ‘polosan’ seperti dirinya akan semakin sirna.

“Kalau mereka gak kerja keras, terus gampang dapat poin, kita yang kerja keras rugi dong. Nanti, dengan mudahnya mereka menutup poin, maka khawatirnya target poin dari perusahaan aplikasi akan dinaikkan, kalau sudah begitu driver ‘polosan’ seperti kami semakin susah dapat bonus,” urainya.

www.tribunnews.com