JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Tragis.. Tergulung Mesin Gerinda, Buruh Bangunan di Sragen Tewas Dengan Leher Nyaris Putus

Ilustrasi
Ilustrasi

SRAGEN – Insiden tragis menimpa Aliyanto, seorang buruh bangunan warga Dukuh Barong, Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang Sragen. Buruh itu ditemukan tewas setelah alat potong gerinda yang dibawanya tanpa sengaja menggergaji lehernya sendiri.

“Korban meninggal dunia saat dalam perjalanan ke rumah sakit,” kata Kapolsek Miri AKP Nur Fajar Ikhsanudin, mewakili Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman, Selasa (23/4/2018).

Fajar mengungkapkan, kecelakaan kerja itu terjadi pada Senin pagi, ketika korban Aliyanto bekerja membangun rumah milik Dwiyono, di Dukuh Sambirejo, Desa Soko, Kecamatan Miri, Sragen.

Baca Juga :  Pijakan Plafon Mendadak Ambrol, Warga Puroasri Sragen Terhempas Jatuh dan Dilarikan ke Rumah Sakit. Pinggangnya Dilaporkan Sampai Begini!

Usai sarapan, korban bersama temannya Munjiran dan Ngaini bermaksud melanjutkan pekerjaannya, memotong tali bendrat dengan menggunakan alat pemotong gerinda. Saat gerinda dihidupkan, tak sengaja piringan gerinda tersebut mengenai kaos yang dikenakan korban.

Putaran alat gerinda ini kemudian menggulung kaos yang dikenakan korban hingga sampai ke bagian atas, hingga akhirnya mengenai leher korban. Miris, putaran gerinda langsung menggergaji leher korban sebelah kanan hingga selebar 15 sentimeter.

Seketika kedua teman korban langsung menolong dan meminta pertolongan warga sekitar. Aliyanto yang mengalami luka parah di bagian leher itu kemudian dievakusi ke RSUD dr Moewardi Solo. Namun karena lukanya terlalu berat, akhirnya Aliyanto meninggal dunia sebelum tiba di rumah sakit.

Baca Juga :  Pemicu Kebakaran Pabrik Sepatu Kalijambe Masih Misteri. Kondisi Masih Berbahaya, Polisi Belum Bisa Lakukan Olah TKP Karena Khawatir Ini!

AKP Fajar menyampaikan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Polsek Miri, korban meninggal murni lantaran akibat kecelakaan saat melakukan pekerjaannya sebagai buruh bangunan.

“Tidak ada unsur kesengajaan dalam peristiwa ini, pihak keluarga korban juga tak menginginkan dilakukan otopsi dan telah menerima meninggalnya Aliyanto sebagai musibah,” terangnya. Wardoyo