JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Transaksi Ekstasi dari Belanda dengan Bitkoin, Mahasiswa Ini Ditahan

sabu
ilustrasi
Ilustrasi/Tribunnews

SEMARANG – Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah (BNNP Jateng) meringkus pengguna narkoba jenis ekstasi berinisial Candika Pratama (22) pada Senin (26/3/2018) lalu pukul 21.30 WIB.

Candika ini ternyata merupakan seorang mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang. Mahasiswa semester delapan ini ditangkap di depan sebuah warung angkringan, Jalan Tirto Usodo Timur, Pedalangan, Banyumanik, Semarang.

Saat itu, Tim Bidang Pemberantasan BNNP Jateng menggeledah tas Candika yang berisikan satu amplop putih. Amplop itu berisi plastik yang di dalamnya terdapat sembilan butir narkotika jenis ekstasi.

Kepala BNNP Jateng Brigjen Pol Tri Agus Heru menuturkan bahwa tersangka ini menggunakan uang virtual bitcoin untuk membeli beberapa butir pil ekstasi dari Belanda. Ia menambahkan bahwa Candika membeli sembilan butir pil ekstasi seharga Rp 800.000.

Baca Juga :  Jumlah Kasus Covid-19 di Blora Bertambah 2, Jumlah Total 370 Kasus

“Bitcoin seharga 800 ribu. Ini jadi kasus kedua yang diungkapkan BNNP Jateng lewat uang virtual koin,” kata Brigjen Pol Tri Agus, Rabu (4/4/2018).

Lebih lanjut dikatakan, tersangka ini sudah dua kali melakukan transaksi pembelian ekstasi melalui bitkoin.

“Saat Desember 2017 sebanyak dua butir. Dan Maret 2018 sembilan butir,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Emas Semarang, Tjerja Karja Adi mengakui bahwa pada transaksi pertama lolos dari pemeriksaan pihaknya. Ia mengungkapkan bahwa pada saat itu pihaknya menerima banyak surat pos masuk di kantor bea cukai sehingga dapat lolos.

Baca Juga :  Parah ! Wanita di Grobogan Rela Korbankan Profesi ASN demi Kenikmatan Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan, Dua Kali Tertangkap Basah Selingkuh, Bupati Grobogan : PNS Selingkuh akan Saya Pecat

“Kita telusuri lebih lanjut, ternyata transaksi pertama dan kedua sama yakni tidak tertera nama pengirim. Asal pengirim juga sama dari Belanda. Maka setelah diselidiki, ternyata benar ada transaksi ekstasi pada surat pos yang menggunakan jasa Kantor Pos ini,” sambung Tjerja Karja.

Atas kasus ini, Candika kini ditahan di Rumah Tahanan BNNP Jateng dan dijerat pasal 114 dengan ancaman minimal lima tahun penjara dan maksimal 20 tahun.

www.tribunnews.com