Beranda Daerah Sragen Geger Sabotase Aliran Dam Colo Timur ke Sragen. Ribuan Petani Sragen Menjerit,...

Geger Sabotase Aliran Dam Colo Timur ke Sragen. Ribuan Petani Sragen Menjerit, 7.000 Hektare Padi Terancam Gagal Panen

308
BAGIKAN
Kalangan petani pemakai air DI Colo Timur saat melontarkan keluhan mereka sulitnya air dan adanya mafia pasokan air DI Colo Timur beberapa waktu lalu. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Ribuan petani di sejumlah kecamatan wilayah Sragen yang mendapat suplai irigasi dari Dam atau DI Colo Timur menjerit lantaran pasokan air irigasi yang ngadat dalam beberapa waktu terakhir. Akibatnya sekitar 7.000 hektare tanaman padi yang kini dalam masa berbuah,  terancam gagal panen akibat pasokan air yang diduga sengaja dimainkan oleh oknum pengelola DI Colo di bagian hulu tersebut.

Petani dan anggota GP3A menduga aksi sabotase pasokan air itu diduga merupakan imbas polemik suksesi Ketua GP3A (Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air) Sragen dari Ketua lama,  Goman yang meninggal dunia ke Eka Widiastono, sebagai penggantinya.

Jeritan petani itu terungkap saat digelar pertemuan gabungan perkumpulan petani pemakai air (GP3A) Colo Timur dengan Komisi Irigasi Pemkab Sragen, Rabu (16/5/2018). Dalam pertemuan itu,  sejumlah elemen P3A dan anggota GP3A Sragen mengeluhkan sulitnya gelontoran air dari DI Colo Timur semenjak posisi Ketua GP3A dipegang Eka Widiastono pada 21 Maret lalu.

“Salah satu masalah yang mengemuka di forum tadi,  banyak petani yang mengeluhkan sekarang alokasi air ke wilayah Sragen sepeninggal Pak Goman,  semakin sedikit. Padahal ada 7.000 hektare lahan di wilayah Sragen yang selama ini mengandalkan pengairan dari DI Colo Timur. Jika aliran tidak kontinyu dan diduga dalam tanda kutip dimainkan pihak tertentu,  maka dikhawatirkan 7.000 hektare lahan padi itu bisa terancam gagal panen, ” papar anggota Komisi Irigasi dari Bappeda Sragen,  Anang Susanto,  seusai pertemuan.

Dalam pertemuan yang berlangsung memanas itu,  kalangan petani juga mengungkap indikasi sabotase dan permainan pasokan dari oknum pengelola di hulu.  Bahkan kemudian muncul istilah pungutan liar (mili mbayar) sehingga terkesan aliran air dikomersilkan oleh oknum mafia pengelola di atas.

Eka Widiastono yang hadir dalam pertemuan itu membenarkan ada 7.000 hektare tanaman padi di Sragen yang selama ini mengandalkan suplai dari aliran DI Colo Timur. Ribuan hektare itu meliputi wilayah Masaran, Sidoharjo, Sragen,  Karangmalang,  Ngrampal, Gondang dan Sambungmacan.

Ia tak menampik jika semenjak jabatan Ketua GP3A dipegangnya, justru aliran air dari hulu (Sukoharjo) menjadi tak stabil. Ia menyadari tersendatnya pasokan itu terjadi karena memang ada pihak yang sengaja mempermainkan pasokan lantaran tak suka dirinya memimpin GP3A Sragen.

Baca Juga :  Tumpukan Sampah Padati Sungai Garuda dan Mungkung Sragen. Dari Popok Bayi Hingga Kasur Bekas, Ratusan Personel TNI Dibuat Berjibaku Bersihkan Sungai

“Iya memang demikian. Alokasi gelontoran ke Sragen sangat rendah sekarang ini. Mestinya kalau normal gelontorannya di atas 6 meter kubik per detik. Tapi sejak saya pegang,  ternyata hanya terpasok 2,5 sampai 3 meter kubik saja. Bahkan sempat pasokan tidak dialirkan sama sekali atau debit nol pada tanggal 2 Mei 2018. Kami juga heran, kan kasihan petani, ” paparnya.

Eka menguraikan padahal saat ini di musim tanam (MT) dua ini,  ada 7.000 hektare lahan tanaman padi di sepanjang aliran DI Colo Timur wilayah Sragen yang sedang butuh banyak suplai air karena memasuki masa buah. Jika terlambat dan suplai air selalu dipersulit,  pihaknya khawatir jika 7.000 hektare padi itu sampai gagal panen.

“Saat ini hampir semua tanaman padi sudah mrapu (berbuah) dan itu butuh banyak air. Kalau dipermainkan begini,  kami kasihan petani bisa gagal panen. Padahal Sragen ini menjadi lumbung pangan terbesar kedua di Jateng, ” terangnya.

Salah satu pengurus GP3A di Toyogo,  Sambungmacan,  Tri Hartono juga membenarkan saat ini ribuan petani di wilayahnya menjerit akibat mandegnya pasokan air DI Colo Timur. Pihaknya berharap persoalan pasokan dan indikasi permainan di pengelolaan hulu,  bisa segera diatasi oleh Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) agar pasokan kembali lancar.

“Kasihan jangan sampai petani yang jadi korban. Dulu-dulu juga lancar tapi akhir-akhir ini saat ganti ketua malah alirannya macet. Petani di wilayah kami menjerit dan bisa gagal panen kalau tak segera di atasi. Kami minta Balai Besar (BBWSBS)  bisa tegas mengusutnya, ” ujarnya. Wardoyo