JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Geger Sabotase Aliran Dam Colo Timur ke Sragen. Ribuan Petani Sragen Menjerit, 7.000 Hektare Padi Terancam Gagal Panen

Kalangan petani pemakai air DI Colo Timur saat melontarkan keluhan mereka sulitnya air dan adanya mafia pasokan air DI Colo Timur beberapa waktu lalu. Foto/Wardoyo
Kalangan petani pemakai air DI Colo Timur saat melontarkan keluhan mereka sulitnya air dan adanya mafia pasokan air DI Colo Timur beberapa waktu lalu. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Ribuan petani di sejumlah kecamatan wilayah Sragen yang mendapat suplai irigasi dari Dam atau DI Colo Timur menjerit lantaran pasokan air irigasi yang ngadat dalam beberapa waktu terakhir. Akibatnya sekitar 7.000 hektare tanaman padi yang kini dalam masa berbuah,  terancam gagal panen akibat pasokan air yang diduga sengaja dimainkan oleh oknum pengelola DI Colo di bagian hulu tersebut.

Petani dan anggota GP3A menduga aksi sabotase pasokan air itu diduga merupakan imbas polemik suksesi Ketua GP3A (Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air) Sragen dari Ketua lama,  Goman yang meninggal dunia ke Eka Widiastono, sebagai penggantinya.

Jeritan petani itu terungkap saat digelar pertemuan gabungan perkumpulan petani pemakai air (GP3A) Colo Timur dengan Komisi Irigasi Pemkab Sragen, Rabu (16/5/2018). Dalam pertemuan itu,  sejumlah elemen P3A dan anggota GP3A Sragen mengeluhkan sulitnya gelontoran air dari DI Colo Timur semenjak posisi Ketua GP3A dipegang Eka Widiastono pada 21 Maret lalu.

Baca Juga :  Hadir di Kwayon, Sahabat Dangkel Bagi Paket Sembako dan Santunan untuk 30 Lansia dan Kaum Dhuafa. Warga Mengaku Sangat Senang

“Salah satu masalah yang mengemuka di forum tadi,  banyak petani yang mengeluhkan sekarang alokasi air ke wilayah Sragen sepeninggal Pak Goman,  semakin sedikit. Padahal ada 7.000 hektare lahan di wilayah Sragen yang selama ini mengandalkan pengairan dari DI Colo Timur. Jika aliran tidak kontinyu dan diduga dalam tanda kutip dimainkan pihak tertentu,  maka dikhawatirkan 7.000 hektare lahan padi itu bisa terancam gagal panen, ” papar anggota Komisi Irigasi dari Bappeda Sragen,  Anang Susanto,  seusai pertemuan.

Baca Juga :  BI Rate Naik, Bank Jateng Sragen Pastikan Kondisi Suku Bunga Kredit Tak Berubah. Malah Genjot 3 Produk Kredit Sangat Murah

Dalam pertemuan yang berlangsung memanas itu,  kalangan petani juga mengungkap indikasi sabotase dan permainan pasokan dari oknum pengelola di hulu.  Bahkan kemudian muncul istilah pungutan liar (mili mbayar) sehingga terkesan aliran air dikomersilkan oleh oknum mafia pengelola di atas.

Eka Widiastono yang hadir dalam pertemuan itu membenarkan ada 7.000 hektare tanaman padi di Sragen yang selama ini mengandalkan suplai dari aliran DI Colo Timur. Ribuan hektare itu meliputi wilayah Masaran, Sidoharjo, Sragen,  Karangmalang,  Ngrampal, Gondang dan Sambungmacan.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com