Beranda Daerah Sragen Indikasi Rekayasa Menguat, Perangkat Desa Ungkap Ada Bocoran Desa-Desa Yang Tak Diluluskan...

Indikasi Rekayasa Menguat, Perangkat Desa Ungkap Ada Bocoran Desa-Desa Yang Tak Diluluskan Sehari Sebelum Ujian

940
BAGIKAN
Salah satu perangkat desa di Gemolong saat menyampaikan kejanggalan mutasi dan bocoran yang beredar sebelum ujian pada audiensi di DPRD Sragen. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Indikasi kecurangan dan manipulasi dalam proses mutasi perangkat desa (Perdes) di Sragen yang diselanggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS Solo, kembali terkuak. Kali ini sejumlah perangkat desa mengungkap sebelum ujian digelar, ternyata sudah beredar nama-nama yang bakal tidak diluluskan.

Hal itu diungkapkan sejumlah perangkat di Sragen Barat yang merasa menjadi korban ketidakadilan proses mutasi. Salah satunya,  Ahmad Dalail, Kaur Perencanaan Desa Purworejo Gemolong.

Ia mengatakan dirinya memang ikut mutasi dengan mendaftar di posisi Sekdes bersama dua Kaur lainnya, Asmuri dan Surono. Meski bersaing, diantara ketiganya sudah mengaku siap mendukung dan salah satu harus menjadi Sekdes.

Akan tetapi ternyata ketiganya dinyatakan tidak lulus semua dengan nilai jauh di bawah nalar. Ahmad hanya mendapat nilai 48, sedang Surono 58 dan Asmuri hanya 40. Padahal dari segi kemampuan dan keyakinan mengerjakan tes,  menurutnya harusnya nilai mininal 60 bisa diraih.

“Yang menjadi kecurigaan dan sampai sekarang masih ngganjel, sehari sebelum ujian,  kami sudah mendapat bocoran dan ada perangkat desa lain yang mengaku sudah tahu bahwa nanti di wilayah Gemolong itu, semua pendaftar di 5 desa nggak akan ada yang lulus. Ternyata memang hasilnya 5 desa yang dia sebut itu semua nggak ada yang lolos,” ujarnya saat beraudiensi di DPRD,  dua hari lalu.

Menurutnya, tidak hanya pernyataan suara, kabar nama-nama yang tidak akan diluluskan itu juga beredar di pesan WA. Hal itulah yang menambah sakit dan kekecewanya yang sudah berjuang mati-matian mempersiapkan materi,  soal dan latihan hingga prihatin.

“Saya tak rewangi latihan, bahkan puasa daud terus, demi menyiapkan ikut tes. Harapannya ujian bisa fair, saya tetap yakin sama Allah,  nyatanya hasilnya seperti suara yang sudah beredar sebelum ujian. Makanya saya mohon forum ini bisa mengklarifikasi kejanggalan itu,  demi umat dan masyarakat. Jujur saya nggak ambisi ingon jabatan Sekdes,  tapi demi nurani dan tegaknya keadilan,” tuturnya.

Kejanggalan yang ia rasakan juga sama seperti keluhan sebagian besar desa yang calonnya secara kontroversial tidak lulus. Yakni hasil lembar transkrip nilai yang hanya fotokopian dan tandatangan Ketua LPPM hanya scan tanpa stempel basah.

Asmuri, calon dari Purworejo juga membenarkan sebelum ujian,  dirinya juga sudah mendengar kabar ada salah satu perangkat di Gemolong yang dengan jemawa menyebut sudah mendapat bocoran bahwa dari semua calon pelamar di lima desa yakni Nganti, Brangkal,  Purworejo,  Genengduwur dan Jatibatur, nantinya tidak akan ada yang lolos.

Hasil Sama Persis Bocoran 

Awalnya,  ia tak menghiraukan dan tetap berusaha mempersiapkan untuk tes. Namun setelah melihat hasilnya dan ternyata semua calon di 5 desa itu memang tak ada yang lolos, ia pun mulai meyakini ada ketidakberesan dalam proses seleksi dan penilaian mutasi.

Baca Juga :  Usai Laporkan Kades Taraman Soal Transfer Rp 250 Juta, Peserta Seleksi Perdes Dikabarkan Mendadak Hilang

“Ada kesamaan,  bahwa di lima desa yang nggak lulus semua itu,  transkrip nilainya hanya fotokopi. Di sinilah saya melihatnya memang ada yang kurang pas. Sampai akhirnya hati saya berontak karena merada ada kejanggalan. Kami sudah didzalimi,” urainya.

Salah satu perangkat desa perempuan asal Desa Jatibatur yang hadir,  juga membenarkan dirinya mendengar kabar soal lima desa yang sudah diplot tak lulus itu. Menurutnya transkrip nilai yang diterima desanya juga hanya fotokopian.

“Kami hanya ingin kejelasan nilai kami itu asli apa enggak. Karena yang ditunjukkan ke kami itu formatnya di samping kiri dan nilainya agak kabur. Padahal ada desa lain yang nerimanya asli dan nilainya di tengah.  Kami hanga ingin tahu apakah itu nilai asli atau fotokopi atau palsu,” timpal Surono,  perangkat dari Gemolong.

Kabar itu juga terdengar di Miri. Salah satu perangkat desa menyampaikan di kecamatan ini,  ada tiga desa yang tidak diluluskan yakni Girimargo,  Doyong dan Geneng.

Mendengar penuturan mereka, anggota Komisi I dan eksekutif yang hadir langsung meminta agar mereka membuka identitas siapa yang telah menyebar suara sebelum ujian kalau di lima desa tak akan lulus.

Mereka pun menyebut sebuah inisial seorang pejabat desa yaitu H sebagai yang telah menyebar kabar dan bocoran itu.

Kabag Pemerintahan Setda Sragen,  Suhariyanto saat dicecar DPRD soal kesaksian para perangkat desa itu,  hanya menjawab tidak ada pengondisian dari pihaknya. Menurutnya Bagian Pemdes hanya memberikan pelayanan-pelayanan administrasi menyangkut kebutuhan-kebutuhan, sementara proses dan penentuan hasil uji kompetensi sepenuhnya dilakukan LPPM UNS.

Bagian Pemdes,  kata dia,  juga tidak terlibat dalam proses maupun penentuan hasil. “Kami tahu, pasti dalam pengisian itu ada kerikil-kerikil kecil atau besar. Pasti ada yang tidak puas. Tapi demi Allah kami tidak ada itu (pengondisian). Saya juga nggak pernah memerintahkan bawahan nyari-nyari ini itu, ” tukasnya.

Perihal bocoran desa-desa yang tidak diluluskan calonnya dan transkrip fotokopian itu,  ia mengaku tidak tahu menahu. “Kami enggak tahu itu, ” ujarnya. Wardoyo