loading...


Abdul Hadi saat mengajar mengaji para santrinya. Foto : istimewa

WONOGIRI—Perjuangan pasangan suami istri warga Dusun Manjung Kulon, Desa Manjung, Kecamatan Wonogiri untuk menciptakan generasi berakhlak mulia, patut diacungi jempol. Bagaimana tidak? Keduanya sudah belasan tahun mendirikan madrasah untuk tempat mengaji anak secara gratis.

Tidak berhenti sampai di situ. Pasangan suami istri, Abdul Hadi-Siti Fatonah ini juga menyediakan fasilitas mobil penjemput para santri mengajinya. Untuk menikmati fasilitas mobil jemputan tersebut santri juga tanpa perlu mengeluarkan biaya alias gratis.

“Saat ini jumlah santri ada 105 anak,” ujar Abdul Hadi, Selasa (15/5/2018).

Untuk membiayai operasional madrasah yang diberi nama Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Subulussalam itu dia dan istri tercinta berwirausaha. Yakni membuat rengginan atau sering disebut ceriping oleh warga sekitar, lantas menjualnya.

Dia mengatakan awal mula mendirikan madrasah sebagai tempat mengaji adalah ketika Abdul Hadi dengan istrinya, Siti Fatonah masih menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia puluhan tahun lalu. Abdul Hadi yang asli Bumiayu, Brebes, bekerja sebagai buruh di pabrik tekstil sedangkan istrinya yang merupakan warga asli Desa Manjung bekerja sebagai buruh elektronik.

Baca Juga :  Kemeriahan Baksos Kagama di Kepatihan Wonogiri, Dari Pengobatan Gratis Hingga Pemberian Makanan Tambahan

“Pada tahun 2001 kami memutuskan menikah dan Alhamdulillah dikaruniai dua orang anak,” sebut dia.

Setiap setelah Salat Magrib, Abdul Hadi mengajar anaknya mengaji. Hanya perlu waktu dua minggu, anaknya dapat membaca Alquran dengan lancar. Hingga pada akhirnya, salah satu familinya meminta dia mengajari mengaji anaknya pula.

Masyarakat sekitar Desa Manjung yang melihat hal itu, ikut menitipkan anak-anaknya untuk dibimbing dia yang merupakan lulusan Pondok Pesantren Subulussalam, Bumiayu, Brebes setiap setelah Salat Ashar. Dengan tekat bulat keduanya pada 2007 memendirika madrasah tersebut.

Baca Juga :  Angin Lesus Landa Gunungan Eromoko. Pohon Jati Besar Tumbang Timpa Rumah Warga

Awalnya rumah yang memiliki empat kamar dan ruang tamu menjadi tempat belajar mengaji setiap harinya. Bahkan, bagian dapur terpaksa diberi sekat untuk mengaji. Hingga akhirnya, untuk mengakomodir ratusan santrinya, dia membuat ruangan dari kayu yang yang biasa di sebut sebagai gubuk santri. Gubuk hanya seluas 3 X 5 meter dengan papan tulis dan karpet usang

“Semangat santri mengaji sangat tinggi. Mereka bukan hanya dari Desa Manjung, ada yang dari Desa Purwosari dan Sonoharjo,” tandas dia.

Namun ada sedikit kendala saat turun hujan. Dia kasihan melihat anak yang sangat bersemangat mengaji itu harus pupus karena jarak dan cuaca. Lantaran itu, dia lantas membeli sebuah mobil jenis minivan untuk menjemput satu per satu santri yang rumahnya jauh.

Baca Juga :  Tak Kuat Menanjak, Truk Muatan Gabah Terguling di Joho Purwantoro

“Kasihan kalau anak-anak itu tidak berangkat mengaji karena hujan atau tidak ada yang mengantar karena orang tua mereka bekerja,” ujar dia.

Selain mengaji membaca Alquran, para santri juga diberikan pelajaran Akhlak, Fiqih, Tauhid dan Bahasa Arab setelah menjalankan salat Ashar berjamaah.

“Harapan kami bisa menjadi bekal untuk masa depan mereka,” pungkas dia. Aris Arianto

Loading...