JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Menhub Minta Ojek Online Tak Demo Saat Asian Games Besok

Ilustrasi/Tempo.co

JAKARTA – Bertepatan dengan pembukaan Asian Games 2018 tanggal 18 Agustus mendatang, para pengemudi ojek online berencana untuk melakukan aksi unjuk rasa. Namun rencana itu tercium oleh pemerintah.

Menanggapi hal itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi  meminta pada para pengemudi online untuk tidak melakukan aksi. Sebaliknya, dia menawarkan solusi berupa perundingan dan diskusi.

“Saya sebagai sahabat menyarankan ngapain musti demo, toh Kemenhub sahabat mereka,” ujar dia di Menteng, Ahad, 22 Juli 2018.

Budi Karya menjelaskan para pengemudi ojek online tidak perlu khawatir. Karena, dia memperhatikan para pengemudi ojek online yang dibutuhkan masyarakat. “Ojol, terus terang saya I love you, saya cinta pada mereka,” tutur dia.

Baca Juga :  Putra Sulung dan Menantu Presiden Jokowi Maju Pilkada Serentak 2020, Ini Perbandingan Harta Kekayaan Gibran dan Bobby, Tajir Siapa?

Menurut Budi Karya, Asian Games 2018 merupakan hajatan besar yang membanggakan semua. Sehingga rencana untuk demo lebih baik langsung dibicarakan kepadanya.

Melalui Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setyadi, Menhub juga membuka ruang diskusi untuk membicarakan aspirasi para mengemudi ojek online. “Pasti kita ada ruang diskusi,” ucap dia.

Gerakan Aksi Roda Dua (Garda) berencana kembali melangsungkan aksi demonstrasi para pengemudi ojek online pada 18 Agustus 2018. Tepat saat Asian Games 2018 resmi dibuka Presiden Joko Widodo.

Aksi tersebut rencananya dilangsungkan di dua titik, yaitu Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, dan Gelora Jaka Baring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan. Sekitar 50 ribu pengemudi ojol diperkirakan mengikuti aksi yang digelar di Jakarta.

Baca Juga :  Video Hujan Es Disertai Angin Kencang Landa Kota Bogor, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem

Anggota Presidium Garda, Danny Stefanus, mengatakan mereka (para pengemudi ojek online) masih menuntut kesejahteraan para pengemudi ojek online.

“Kami tetap meminta agar aplikator mengembalikan tarif ojek online (ojol) di harga minimal, Rp 3.000 rupiah per kilometer,” tutur Danny saat ditemui Tempo di daerah Cempaka mas, Jakarta Pusat, Senin, 16 Juli 2018.

Selain itu, kata Danny, mereka meminta pemerintah agar segera menyediakan payung hukum untuk memperjelas keberadaan ojek online di Indonesia. Soalnya, Danny menganggap dengan tarif Rp 1.200-Rp 1.600 per kilometer, banyak pengemudi ojek online yang hidup dengan pendapatan tidak layak.

www.tempo.co