loading...


Warga Dukuh Brakbunder, Katelan, Tangen terpaksa membeli air untuk mengisi sumur lantaran bantuan droping Pemkab tak juga turun. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Memasuki musim kemarau, warga di Desa Katelan, Tangen mulai dilanda kekeringan dan krisis air.  Puluhan KK di Dukuh Brakbunder RT 10, Katelan bahkan sebagian terpaksa harus mengonsumsi air keruh dari sungai lantaran tak punya uang untuk membeli air bersih.

Wagiman (41) warga Brakbunder RT 10, Katelan mengatakan dirinya terpaksa membeli air bersih karena selama krisis air sejak sebulan lalu, bantuan droping air dari Pemkab belum juga ada.

Selain dirinya,  banyak warga di dukuhnya yang juga terpaksa membeli air untuk mengisi sumur yang sudah mengering. Suryadi,  warga lain menuturkan warga terpaksa membeli air untuk mengisi sumur guna kebutuhkan sehari-hari.

Untuk satu tangki air bersih sebanuak 7.500 liter warga harus membayar Rp 350.000.

“Kalau tidak membeli air, jelas tidak bisa masak  mandi dan cuci baju. Karena sumur sudah nggak ada airnya,  langganan air dari Pansimas juga sudah macet karena nggak keluar air, ” katanya Rabu (4/7/2018).

Baca Juga :  Geger Aksi Penusukan di Sambirejo Sragen. Gara-gara Dikucilkan, Seorang Pemuda Cekik dan Tusuk Temannya Dengan Badik 

Wagiman,  warga lain menyampaikan bagi yang mampu memang bisa membeli air tangki. Akan tetapi bagi sebagian warga yang kurang mampu, terpaksa bertahan dengan berburu air ke sendang dan mengonsumsi air keruh.

“Nunggu bantuan droping sanpai sekarang juga belum ada, ” kata dia.

Menyikapi hal itu, Anggota Divisi Hukum dan HAM LSM Formas Sragen,  Sri Wahono mengaku prihatin dengan fenomena krisis air di Katelan yang belum juga diberi droping.

Formas pun menilai Pemkab Sragen lamban untuk mengatasi kekeringan yang sejauh ini sudah menimpa warga utara bengawan, terutama Kecamatan Tangen.

“Banyak warga membeli air keliling Rp 4.000 satu jeriken untuk masak 3 hari. Kalau yang punya sih enggak masalah, tapi kalau yang enggak punya kan kasihan,” paparnya.

Baca Juga :  Golkar Sragen Targetkan 100.000 Suara Untuk Jadikan Agus ke DPR RI di Pileg 2019. Ajak Masyarakat Sragen Buat Sejarah Punya DPR RI dari Sragen 
Warga di Desa Dukuh Tangen terpaksa mengambil air dari ceruk di sungai yang mengering di musim kemarau. Foto/Wardoyo

Wahono menuturkan pihaknya sudah turun ke sejumlah desa diantaranya Ngrombo, Galeh Dukuh,Jekawal dan Katelan. Mayoritas warga di wilayah itu sudah mengeluh adanya krisis air. Namun pihak pemerintah belum berbuat banyak.

“Formas mendesak pemkab sragen,agar segera turun tangan droping air bersih, kasihan warga ambil air keruh dan membeli air,” tandasnya.

Kepala Pelaksana Harian (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen Sugeng Priyono,mengungkapkan kekeringan sudah mulai melanda sejumlah wilayah di kabupaten Sragen utamanya kecamatan yang berada di utara Sungai Bengawan Solo. Beberapa kawasan sudah kesulitan mendapat air bersih, karena sumber air mulai mengering.

Sugeng Priyono menjelaskan sesuai data evaluasi penanganan kekeringan pada 2017 lalu,  ada 28 desa dan tujuh Kecamatan yang rawan kekeringan. Tujuh kecamatan itu yakni Sumberlawang, Miri, Jenar, Gesi, Sukodono, Mondokan, dan Tangen.

Baca Juga :  Soroti Kualitas SMPN 5 Sragen Makin Jeblok, Bupati Ungkap Friksi Kelompok Guru-guru Juga Luar Biasa Tajam

Sedangkan tiga desa sudah mendesak dilakukan droping air bersih, meliputi Gebang kecamatan Sukodono, Ngargotirto Sumberlawang, dan Banyurip Kecamatan Jenar.

Menurutnya pemenuhan kebutuhan air bersih di sejumlah titik sulit terpenuhi akibat musim kemarau tahun ini. Pihaknya sudah melakukan langkah antisipasi terkait kekeringan yang hampir selalu terjadi di musim kemarau. BPBD Sragen mengalokasikan anggaran Rp 44.500.000 setara 150 tangki air bersih. Wardoyo

Loading...