loading...


 Prof. Dr. Sunarto, MS. Foto: Triawati PP

SOLO- Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) menggelar kegiatan pengukuhan guru besar (Gubes) dalam Sidang Senat Terbuka, Kamis (5/7/2018), di Auditorium UNS. Prof. Dr. Sunarto, MS dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ekologi/ Biologi lingkungan (GB ke 194 UNS dan ke 13 FMIPA).

Dalam pidato pengukuhannya berjudul Implementasi Perspektif Agama Dalam Ekologi (Ekoteologi) Menuju Pengelolaan Ekosistem Perairan Tawar Berkelanjutan. Dalam pidatonya, Prof Sunarto mengurai fakta degradasi lingkungan khususnya ekosistem perairan tawar. Menurutnya, penurunan kuantitas, kualitas dan kontinuitas air terutama terjadi pada air tawar.

“Hal ini akan berdampak pada keseluruhan komponen ekosistem dan interaksi terkait. Degradasi tidak terkendali pada lingkungan air tawar akan berdampak negatif pada biodiversitas, potensi energi terbarukan dan jasa lingkungan potensial lainnya,” urainya.

Baca Juga :  Terungkap, Napi LP Palu Asal Karanganyar Yang Serahkan Diri ke Rutan Solo Ternyata Berprofesi Sebagai Ini. Terjerat Kasus Narkoba, Begini Ceritanya..

Prof Sunarto menambahkan, misalnya berdasarkan penelitiannya  terhadap Anodonta woodiana (kerang hijau air tawar) menunjukkan kemampuan sebagai bioindikator pencemaran perairan (Hellawell, 1986), didorong oleh siklus hidup sebagai filterfeeder pada dasar perairan (Mason, 1983).

“Cemaran logam Cd perairan dapat ditentukan dari kontaminasi dalam tubuh Anodonta woodiana. Hal ini mewujudkan visi agama bahwa makhluk hidup sebenarnya diciptakan bermanfaat bagi manusia tidak hanya secara ekonomis (konsumtif), namun juga ekologis. Pada sisi berbeda, pencemaran logam berat tersebut menimbulkan kerusakan pada struktur anatomi di ginjal dan insang ditandai oleh edema dan hiperplasia (Fitriawan et al, 2009) serta merubah pola pita protein DNA (Sunarto, 2011),” imbuhnya.

Baca Juga :  Guru "Gokil" J Sumardianta Akan  Beber Tips Hadapi Cyber Parenting di Solo Paragon Mall

Lebih jauh menurut Prof Sunarto, beberapa dari kerusakan ekologis itu disebabkan oleh faktor alam. Namun, fakta memperlihatkan bahwa manusialah yang menjadi penyebab utama kerusakan. Menurutnya degradasi lingkungan, termasuk pada ekosistem air tawar adalah wujud krisis spiritualitas. Kerusakan lingkungan adalah krisis spiritualitas. Pendidikan lingkungan selama ini terlalu mendewakan Ipteks, mengabaikan agama sementara hasil penerapan Ipteks tanpa pendekatan keimanan kerapkali gagal menyeimbangkan lingkungan.

“Oleh sebab itu selanjuntnya kami menyarankan implementasi ekoteologi dalam konsep pendidikan lingkungan sejak dasar. Para ilmuwan dan praktisi telah banyak melakukan konservasi air dengan beragam pendekatan ipteks, namun hasilnya masih belum optimal sebab tidak diikuti atau minim pendekatan teologi. Agama harus menyentuh lini kehidupan mulai paling mendasar dalam etika memperlakukan lingkungan,” pungkasnya. Triawati PP

Loading...