loading...


Ilustrasi/Tribunnews

JOGJA – Serasa tinggal di  Eropa saja, cuaca di wilayah DIY dalam beberapa hari ini cukup dingin. Bahkan, suhu terendah di Jogja mencapai 18 derajat Celcius.

Terkait fenomena tersebut, BMKG DIY menjelaskan bahwa kondisi suhu di DIY akhir-akhir ini disebabkan karena mendekati puncak musim kemarau, yang diperkirakan akan terjadi Agustus mendatang.

“Salah satu karakteristik musim kemarau adalah suhu yang sangat dingin, terutama saat malam hari,” ujar Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Djoko Budiyono.

Baca Juga :  Ma'ruf Amin Adakan Pertemuan Tertutup dengan Sri Sultan HB X Selama Satu Jam

Hasil pengamatan suhu udara di BMKG Stasiun Klimatologi juga mencatat suhu terendah di DIY bahkan mencapai 18 derajat Celcius.

Ditambahkan Djoko, penyebab utama suhu dingin tersebut dikarenakan adanya pergerakan angin timuran atau angin yang berasal dari Australia.

“Di Australia saat ini sedang memasuki musim dingin yang mengakibatkan angin dari benua Australia bersifat dingin dan kering,” imbuh Djoko.

Baca Juga :   Bunga Tabebuya yang Berwarna-warni sedang Mekar, Kota Megalang Seperti Jepang

Selain itu, kandungan uap air dalam udara memiliki kelembaban yang sangat rendah ketika musim kemarau seperti sekarang ini.

Padahal, uap air tersebut mempunyai sifat untuk dapat menyerap panas yang berasal dari bumi dan membuat suhu menjadi lebih hangat.

“Dengan rendahnya uap air dalam udara, maka radiasi dari bumi langsung ke luar menuju atmosfir tanpa ada yang menyerap,” pungkas Djoko.  

Baca Juga :  Nasi Uleng, Makanan Kaya Serat Asli Gunungkidul

www.tribunnews.com

Loading...