loading...

Salah satu aksi Kotex di Alun-alun Giri Krida Bakti Wonogiri.

WONOGIRI-Perjalanan pria ini, Kotex, begitu berliku. Hengkang dari Wonogiri kendati belum lulus Sekolah Dasar (SD), harus menjadi pemulung dan pengamen, hingga menjadi juara nasional sekaligus main film dan iklan.

Pria itu memiliki nama asli Trisno Widiyanto (29) dan ngetop dengan nama Kotex. Dia berasal dari Desa Made Kecamatan Slogohimo, Wonogiri. Segudang prestasi pernah dia sabet di Jakarta. Bahkan Kotex merupakan juara nasional Bicycle MotorX/cross (BMX) selama tujuh kali berturut-turut. Kotex yang tak lulus SD itu juga sering diajak main film dan memamerkan aksinya di sejumlah iklan komersial produk.

“Saat ini merambah ke sepeda ekstrim lainnya seperti street trial. Tapi prestasinya belum sebagus di BMX,” ungkap pria kelahiran 27 Oktober 1988 tersebut.

Aksi-aksi free style-nya sangat menarik. Pergerakannya seperti bola bekel, lompat sana terbang sini, tanpa sedikitpun ada kesalahan. Di setiap akhir aksi selalu ada tepukan tangan meriah dan suitan penonton.

Namun di balik kesuksesannya sekarang, ternyata ada segudang pengalaman pahit pernah dia jalani. Awalnya, dia kabur dari rumah menuju ibukota saat masih sangat belia. Keinginannya hanya satu, bisa bebas bermain sepeda. Tentu saja orangtuanya sangat melarang. Namun dia nekat dengan tekat sekeras baja.

Di ibukota dia harus merasakan ganasnya kehidupan jalanan. Menjadi gembel, tidur di sembarang tempat, mengamen, dan menjadi pemulung. Setiap beraktifitas dia selalu ditemani sepeda kesayangan, BMX yang dia beli dari hasil keringat sendiri.

Loading...

“Saya juga jadi kuli bangunan. Saya ingat benar, hasil nguli bangunan itu dapat duit Rp 900 ribu kemudian saya belikan sepeda BMX, setelah itu saya nggembel lagi sambil main sepeda. Lalu sepeda yang lama saya jual dan beli baru yang agak mahal. Pokoknya niat saya kerja dan bisa main sepeda itu saja,” beber warga perumahan komplek RRI Jakarta Barat ini.

Saban hari dipastikan, Kotex tak lepas dari sepeda BMX-nya. Waktu terus bergulir, ketrampilan bersepedanya begitu menonjol. Semua dia dapat secara otodidak. Atas desakan teman-temannya, dia mencoba mengikuti kejuaraan-kejuaraan sepeda. Tropi juara satu demi satu diraihnya. Puncaknya tahun 2000 dia menjadi juara nasional BMX. Bahkan hingga 2017 posisinya belum tergeser.

Kendati sudah jadi juara nasional, dia tetap menekuni profesi mengamen dan memulung. Setiap malam Minggu dia ngamen di Monas sambil beratraksi di atas sepeda. Nah, dari situlah dia berkenalan dengan seseorang yang menawari pekerjaan. Yakni ikut syuting film dan langsung diterimanya. Setelah syuting selama seminggu, dia mendapat bayaran Rp10 juta.

Sejak itu, nama Kotex mulai dikenal di dunia intertaiment. Terbukti, sejumlah job iklan pun mengalir. Mulai dari iklan minuman, bahkan maskapai penerbangan dan lainnya. Dia juga kerap diundang mengisi acara-acara tertentu dengan bayaran cukup besar. Tak sedikit pula program acara televisi yang menggandeng Kotex sebagai salah satu penghiburnya.

“Resiko kecelakaan pasti ada. Waktu tampil di Trans Studio Bandung, saya jatuh, dan tulang rahang saya lepas, tapi bisa sembuh kembali,” tutur pria yang kerap mudik ke Wonogiri ini.

Kendati sekarang kesuksesan sudah diraih, materi sudah digenggam, Kotex tetap berusaha menjadi orang yang baik. Dia ingin bermanfaat bagi orang banyak. Dia juga tidak alergi menularkan ketrampilan bersepeda kepada generasi muda.

Malah, untuk urusan mengajari teknik sepeda ekstrim, dia enggan dibayar. Dia sudah sangat bahagia, saat anak didiknya berprestasi.

“Ada beberapa anak didik yang berprestasi. Saya sekarang juga membuat tim sepeda ekstrem sebagai wadah, bernama All Ride Team,” tutur Kotex.

Walaupun demikian, ada satu kebiasaannya yang masih terbawa sampai sekarang, yakni memulung. Setiap ada sampah yang bisa diuangkan, dipastikan dia pungut. Kotex pun mengaku cuek dengan kebiasaannya ini. Alhasil di rumahnya banyak tumpukan barang bekas. Aris Arianto

Loading...