loading...
Upacara HUT Jateng di Sukoharjo

SUKOHARJO-Kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang dihadapi Provinsi Jateng.

Fakta itu terungkap saat Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Sukoharjo Widodo membacakan Sambutan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo beberapa hal terkait capaian yang diraih Jateng selama ini, Kamis (16/8/2018).

Plh Sekda mengatakan, birokrasi yang baik menjadi kunci sebuah pemerintah yang baik dan menentukan keberhasilan pembangunan.

Loading...

Dia menjelaskan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang naik dari tahun sebelumnya, penurunan angka kemiskinan, penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI/AKB), inflasi yang terkendali, penurunan pengangguran, peningkatan kualitas infrastruktur dan sebagainya. Tercatat pada 2017 IPM Jateng berada pada angka 70,52 mengalami kenaikan dari 2016 yang berada pada angka 69,98 dan 2015 sebesar 69,49.

“Zona merah kemiskinan masih menjadi PR. Oleh karena itulah pembangunan diarahkan kepada masyarakat miskin dan tidak mampu, khususnya petani, nelayan dan UMKM,” kata dia.

Baca Juga :  Apa Sih Tujuan Sosialisasi P4GN Itu, Apa Pula Hukuman Bagi TNI yang Terlibat Narkoba? Simak Ulasan Ini Ya

Dia memaparkan, penduduk miskin di Jateng juga terus mengalami penurunan. Pada Maret 2018, jumlah penduduk miskin di Jateng mencapai 3,9 juta orang (11,32 persen), berkurang sebesar 300.290 orang dibandingkan dengan kondisi September 2017 yang berada pada angka 4,20 juta orang (12,23 persen). Angka tersebut juga lebih kecil dari 2016 sebesar 13,19 persen dan tahun 2015 sebesar 13,32 persen.

“Penurunan persentase penduduk miskin jawa tengah ini merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan provinsi lain di pulau Jawa,” kata dia.

Berbanding lurus dengan angka kemiskinan yang terus menurun, jumlah pengangguran terbuka juga terus menurun. Dari angka 4,99 persen di 2015, turun 4,63 persen di 2016 dan kembali turun di angka 4,57 persen di 2017. Penurunan tersebut merupakan efek semakin tumbuhnya sektor industri di Jateng.

Baca Juga :  Eh, Ada Pemilihan Duta SMK Kesehatan Ternyata. Digelar Persemki Bagi yang Terpilih Dapat Tugas Mengedukasi Masyarakat

“Nilai investasi yang masuk ke Jateng terus mengalami kenaikan. Jika pada tahun 2015 nilai investasi yang masuk mencapai Rp 26,04 trilyun dengan 1.481 proyek tahun 2016 jumlah investasi yang masuk mengalami kenaikan yaitu sebesar Rp 38,18 trilyun dengan 2.068 proyek. Untuk tahun 2017, investasi yang masuk ke Jateng kembali mengalami kenaikan sebesar Rp 51,54 trilyun dengan total 2.358 proyek,” papar dia.

Pengendalian inflasi, Jateng juga mendapat prestasi yang memuaskan. Jateng berhasil mengendalikan laju inflasi daerah di angka 3,71 persen pada 2017, 2,73 persen di 2016 dan 2,73 persen di 2015. Persentase panjang jalan dalam kondisi baik juga meningkat, pada 2014 sebesar 86,92 persen, 2015 menjadi 88,27 persen, 2016 panjang jalan dalam kondisi baik semakin meningkat sebesar 88,88 persen, 2017 sebesar 88,92 persen, dari target di tahun ini sebesar 89,60 persen.

Baca Juga :  Tiga Korban Kecelakaan Maut Truk Kontes Masuk Jurang di Tangen Sudah Dipulangkan. Beredar Kabar Sopir Mabuk, Begini Analisa Polisi! 

“Selanjutnya di bidang kesehatan, kita terus berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, baik dari upaya preventif, promotif maupun kuratif,” katanya.

Tercatat AKI dan AKB di Jateng terus menurun. Pada 2015 AKI sebanyak 111,16 per 100 ribu kelahiran hidup dan AKB 10 per seribu kelahiran hidup. Di 2016 AKI sebanyak 109,65 per 100 ribu kelahiran hidup dan AKB 9,99 per seribu kelahiran hidup. Terakhir 2017 jumlah AKI turun sebesar 88,58 per 100 ribu kelahiran hidup dan AKB 8,93 per seribu kelahiran hidup. Aris Arianto

Loading...