loading...
Ilustrasi/Tribunnews

JAKARTA – Menjelang Idul Adha, biasanya setiap keluarga selalu mengonsumsi masakan olahan daging, baik daging sapi maupun kambing. Nah, olahan daging kambing inilah yang terkadang memunculkan kekhawatiran akan penyakit hipertensi.

Namun benarkah daging kambing menjadi pemicu utama hipertensi? Menurut  dr. Tunggul D. Situmorang yang seorang dokter spesialis penyakit dalam, anggapan tersebut kurang tepat dan harus diluruskan.

“Itu harus diluruskan. Tidak ada di buku mana pun yang mengatakan makan daging kambing menyebabkan hipertensi,” tegasnya.

Loading...

Meski demikian, dia mengingatkan agar para penggemar daging membatasi konsumsi agar tidak berlebihan. Pasalnya, daging merah memiliki jumlah kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi dan dikenal dapat meningkatkan kolesterol serta memicu penyakit jantung.

Baca Juga :  Apa Benar Penderita Diabetes tak Boleh Konsumsi Nasi Putih? Ini Penjelasannya

“Biasanya penyakit itu suka datang secara bersamaan. Hipertensi, kolesterol, diabetes mellitus, dan asam urat. Jadi tetap harus dibatasi,” tuturnya.

Mitos yang mengatakan bahwa konsumsi daging kambing menyebabkan darah tinggi dipicu oleh proses pengolahan dan penggunaan beragam bumbu penyedap selama memasak daging kambing.

Bumbu penyedap makanan seperti garam dan mecin memiliki jumlah sodium dan natrium yang sangat tinggi. Apalagi dengan semakin banyak proses pengolahan maka akan semakin tinggi juga kandungan sodiumnya.

Baca Juga :  Peduli Kesehatan Gigi di Usia Senja, RSGM Soelastri Adakan Penyuluhan dan Pemeriksaan

Dokter yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia ini mengatakan kandungan yang ada di dalam garam inilah menjadi penyebab utama tekanan darah tinggi jika dikonsumsi secara berlebihan.

“Faktor penyebab hipertensi jelas garam. Ketika ada orang yang terkena hipertensi dan tidak diketahui penyebabnya apa, itu pasti karena konsumsi garam berlebih. Apalagi jika ada riwayat keluarga terkena hipertensi, ini dikatakan hipertensi primer, 90 persen penderita hipertensi karena hipertensi primer,” jelasnya.

Meski demikian, bukan berarti masyarakat tidak boleh mengonsumsi garam sama sekali. Boleh saja, asalkan takarannya lebih dibatasi. Pasalnya, bagaimana pun kandungan sodium dan natrium pada garam masih dibutuhkan oleh tubuh manusia.

Baca Juga :  Cegah Diabetes, Ganti Nasi dengan Sego Jagung, Ini Keunggulannya

Badan kesehatan dunia atau WHO menganjurkan untuk membatasi konsumsi sodium 2.400 miligram atau sekitar 1 sendok teh garam per hari.

Pasien hipertensi berat dianjurkan untuk melakukan diet rendah garam dengan hanya mengonsumsi 200-400 miligram natrium atau garam setiap hari. Sementara pasien hipertensi tidak berat dianjurkan melakukan diet rendah garam II dengan mengonsumsi hanya 600-800 miligram atau sekitar setengah sendok teh garam setiap hari.

www.tempo.co

Loading...