loading...
Loading...
Warga Dukuh Kowang, Ngargotirto, Sumberlawang saat antusias berebut bantuan air bersih dari Ikatan Alumni SMPN 1 Gemolong, Sabtu (29/9/2018). Foto/Wardoyo

 

SRAGEN- Krisis air dampak kemarau berkepanjangan benar-benar menghadirkan mimpi buruk bagi warga Sragen di wilayah kekeringan. Salah satunya di Desa Kowang, Ngargotirto, Sumberlawang.

Sudah hampir tujuh bulan ratusan warga di berbagai dukuh di desa dekat WKO ini dilanda krisis air. Tak heran, acapkali bantuan air datang, mereka sampai rela berebut demi mendapat air bersih.

Pemandangan itu terlihat saat penyaluran bantuan air bersih dari Ikatan Alumni SMPN 1 Gemolong (Spenig) angkatan 1983, Sabtu (29/9/2018) pagi. Warga besar kecil tua muda ikut antri dan berkumpul di titik penyaluran hanya demi bisa mendapat air menyambung hidup.

“Bakti sosial ini adalah bentuk kepedulian dari rekan-rekan alumni SMPN 1 Gemolong angkatan 83. Tujuannya untuk meringankan beban warga di Sumberlawang ini yang sudah 7 bulan tidak hujan. Saya datang dari Kalimantan, karena demi bisa kumpul rekan-rekan alumni. Kalau enggak begini nggak bisa menyalurkan ide-ide yang bisa bermanfaat untuk masyarakat,” ujar Atik Sulistiyowati, salah satu anggota IKA Alumni Spenig yang barusaja merampungkan gelar doktornya.

Ia menyampaikan total ada 40 tangki yang disalurkan ke beberapa dusun di tiga desa di Sumberlawang. Tak hanya air bersih, baksos juga digelar dengan membagikan sembako serta donor darah.

Baca Juga :  Udara Sragen Makin Panas, Kodim Prakarsai Penghijauan Massal 26.950 Bibit Pohon di 20 Kecamatan

Anggota Alumni lainnya, Joko Saptono, menguraikan aksi baksos itu digelar sebagai bentuk empati dari kalangan alumni yang tergerak melihat problem warga utamanya di wilayah kekeringan di Sumberlawang.

Menurutnya baksos itu juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dari alumni yang meski sudah berpisah di banyak daerah, tetap punya semangat untuk berkumpul menyalurkan kepedulian membantu masyarakat yang kesulitan.

“Mudah-mudahan bisa meringankan beban warga. Harapannya semoga segera ada hujan sehingga masyarakat tidak kekurangan air lagi,” ujar politisi Demokrat yang kini nyaleg di DPR RI dari Dapil Sragen, Karanganyar, Wonogiri tersebut.

Bantuan air bersih itu disambut suka cita dari warga. Supardi, Ketua RT Dukuh Kowang, mengucapkan terimakasih atas kepedulian alumni Spenig terhadap penderitaan warganya. Ia menyampaikan sudah tujuh bulan sejak tiadanya hujan, warga di wilayahnya dilanda krisis air.

Puluhan warga antusias mengantri droping Alumni SMPN 1 Gemolong, Sabtu (29/9/2018)

Untuk kebutuhan sehari-hari, warga harus mencari dari sumur di sawah yang berjarak lebih dari 1 kilometer. Sementara jika harus membeli air keliling seharga Rp 60.000 per fiber, sebagian kesulitan ekonomi. Ia menuturkan ada lima dukuh di Kowang yang kekeringan dengan jumlah warga mencapai 335 KK.

Baca Juga :  Gara-gara Merokok di Kasur, Warga Pengkol Tanon Bikin Geger Warga Sekampung 

“Mudah-mudahan kepedulian Bapak Ibu semuanya bisa mendapat imbal balik, diparingi panjang umur dan banyak rezeki,” tuturnya mewakili warga.

Salah satu perwakilan Alumni SMPN 1 Gemolong angkatan 83, Joko Saptono bersama anggota alumni saat simbolis menyerahkan bantuan droping ke Dukuh Kowang, Sumberlawang. Foto/Wardoyo

Salah satu warga Dukuh Kowang RT 7B, Paniyem (45) mengaku sudah tujuh bulan harus puasa mandi di rumah karena sumur sudah mati. Sejak kekeringan melanda, ia dan warga terpaksa mandi di sawah.

Untuk kebutuhan masak dan mencuci terpaksa mencari dari sisa-sisa di sumur sawah yang jaraknya hampir 2 kilometer.Kehadiran bantuan droping, dirasakan sangat membantu warga.

“Lumayan bisa untuk persiapan beberapa hari Mas. Kalau air bantuan begini khusus untuk yang penting, memasak dan minum. Kalau untuk nyuci dan ngombor sapi, nanti air dari sawah. Kalau untuk mandi kita ke sawah sana. Eman-eman air bersih gini untuk mandi,” tuturnya. Wardoyo

 

Loading...