JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Anti Impor Beras, Budi Waseso Kritisi Kebijakan Impor 2 Juta Ton Beras dari Mendag Enggartiasto Lukita

ilustrasi/tempo.co

JAKARTA –  Kebijakan impor beras yang dikeluarkan oleh Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita  akhirnya membuka konflik dengan Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog, Budi Waseso.  Dirut Perum Bulog mempersoalkan kebijakan Enggar yang mengimpor dua juta ton beras di tengah kondisi beras yang dianggap surplus.

“Kita harus impor untuk apa, nalarnya kan begitu,” ujarnya pada Selasa  (18/9/2018).

Buwas dikenal sebagai sosok yang blak-blakan, juga kontroversial. Pada 2015 saat menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional, dia melontarkan ide penjara buaya pagi narapidana narkoba.

Dia bahkan mengaku meneliti bagaimana cara memadukan buaya dan piranha dalam satu kandang, sebagai sipir penjara bagi bandar dan pengedar narkoba. Buwas ingin merealisasikan rencananya itu. “Tempat sudah ada, dan sedang kami bahas tentunya,” kata Budi Waseso, Sabtu, 14 November 2015.

Baca Juga :  Menyusul Ketuanya, Anggota KPU Ini Menyatakan Dirinya Positif Covid-19

Sebenarnya, selain piranha, Buwas juga melakukan penelitian terhadap ikan buas lain, seperti ikan arapaima dari Amazon. “Itu juga sudah kami lakukan penelitian. Mudah stres atau tidak, mana yang paling pas (dengan buaya),” kata Budi Waseso.

Menurut Buwas, buaya dan piranha dipilih karena kedua binatang itu memiliki sejumlah kelebihan dibanding binatang buas lainnya. Buaya dianggap relatif murah, mudah dipelihara, tahan penyakit, dan lapar. Yang lebih penting binatang ini tidak kenal kompromi.

“Kalau ada yang mau melarikan diri nanti diselesaikan dengan buaya. Biar nanti tersangkanya (bila ada tahanan terluka atau mati karena mencoba melarikan diri adalah buaya,” kata Buwas.

Baca Juga :  Usulan Penundaan Pilkada 2020 Menguat, Mahfud MD: Presiden Sudah Dengar Semua Masukan

Ide piranha dan buaya sebagai sipir, kata Buwas, karena kedua hewan tersebut tidak bisa disuap, tidak seperti penjaga manusia.

Buwas memastikan rencana membuat penjara berpenjaga binatang buas itu telah dikordinasikan kepada Menteri Hukum dan HAM. “Sudah, semua ini sudah jauh kami bicarakan sebelum ini kami munculkan (ke publik),” katanya. Ia mengeklaim telah mendapat restu dari menteri.  “Hanya kan ini tidak mudah, butuh proses pengkajian.”

Namun, hingga kini, ide Buwas soal penjara buaya itu tak pernah terealisasi.

www.tempo.co