loading...

Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman bersama Kabid Kesbangpolinmas, Agus Indarto dan Luluk Nur Hamidah saat menjadi pembicara dalam Seminar Kebangsaan, Kamis (6/9/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Meski tak henti diberantas, jaringan dan sel-sel terorisme di Indonesia seolah tak pernah mati. Ditumpas satu, muncul kelompok yang baru.

Maraknya teror dan jaringan terorisme itu ternyata dinilai berbanding lurus dengan hasil sebuah riset dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan kalangan akademisi. Bahwa ternyata para pelaku terorisme dan jaringan teroris berangkat dari sebuah kesamaan.

“Dari riset BNPT, survei mendalam yang dilakukan UI, kesimpulannya sama dan sungguh mengejutkan. Ternyata semua menunjukkan kalau pelaku teror apapun perannya, punya benang nerah yang sama yaitu sikap intoleran. Mau itu yang bagian mendoktrin, menggambar, meracun hingga eksekutor semua punya kesamaan bahwa mereka sama-sama bersikap intoleran,” papar Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman saat berbicara di acara

Seminar Kebangsaan Peran Masyarakat Islam dalam Memperkuat Kebhinekaan menuju Pemilu Damai 2019 di Sekretariat Formas Sragen, Kamis (6/9/2018).

Atas kondisi itu, Kapolres mengajak kepada masyarakat untuk kembali pada kodrat yang ada. Bahwa semua diciptakan oleh Allah dalam kondisi beragam dan tak ada yang sama.

Oleh karenanya sudah semestinya perasaan saling menghormati dan menghargai antar sesama, harus terus dijaga.

Loading...

“Memang Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, beranekaragam. Nggak mungkin semua orang harus sama dengan kita. Itu yang harus disadari,” terangnya.

Menurut Kapolres, jika sikap intoleran berkembang liar, maka harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Tak hanya perpecahan, konflik berkepanjangan hingga korban apapun, adalah dampak sebuah kehidupan yang diliputi intoleran.

“Rasa tenang, aman akan sirna. Mau kerja, ngantar anak sekolah tenang tidak kalau tidak ada rada toleransi. Konflik Ambon adalah contoh kelam sikap intoleran. Dulu semua pahlawan berjuang bersama untuk kemerdekaan. Mau dari Islam, Hindu, Katolik, Kristen berjuang. Dan kebersamaan berjuang itu wujud toleransi untuk menyatukan,” jelasnya.

Di bagian akhir, pucuk pimpinan Polres Sragen itu mengajak semua elemen untuk bersama kembali menghidupkan semangat toleransi. Sebab jika tidak toleran, maka akan mudah dipecah.

“Setiap perbedaan itu sudah ada tanggungjawab individu masing-masing. Semua manusia di dunia ini hanya pemain. Tidak seorang pun yang bisa mengukur dan menilai kadar keyakinan orang lain. Makanya sesama pemain di dunia ini tidak usah saling mengukur,” tandasnya.

Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) Bengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Luluk Nur Hamidah menyampaikan intoleransi dan radikalisme menjadi isu penting. Meskipun di minoritas terjadi kecenderungan intoleran.

”Fakta di Indonesia ada.  Ada 800 sel aktif radikalisme pada 8 tahun lalu.  Tapi itu hanya minoritas, ada peristiwa iya, tapi masyarakat indonesia masih toleran,” bebernya. Wardoyo

Loading...