loading...

Kades Pagak, Joko Purnomo saat mengecek surat tagihan biaya rumah sakit. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Insiden pembantaian misterius yang menewaskan Warmin (35) pemuda asal Dukuh Kacangan RT 27, Pagak, Sumberlawang sepekan silam masih menyisakan kisah duka. Sang ibu, Sukiyem (70) kini mengalami tekanan psikis lantaran masih terbebani untuk membayar tagihan biaya rumah sakit sebesar Rp 45.292.564,-.

Kegundahan Sukiyem tak lepas dari kondisi ekonominya dan statusnya yang tak lagi memungkinkan untuk mencari uang sebanyak itu. Terlebih kondisinya masih terguncang akibat kehilangan putra yang selama ini menjadi tulang punggung ekonominya.

Saat ditemui di rumah kecilnya di Desa Pagak, Sabtu (8/9/2018), Sukiyem tampak tertegun. Pandangannya lebih banyak menatap kosong. Bahkan ia tak menyadari jika ada orang yang menyapanya.

“Nggak tega melihat kondisi Mbah Sukiyem Mas. Sampai sekarang masih terpukul. Kemarin pas dengar Warmin meninggal, dia sempat linglung. Maklum selama ini dia sudah nggak bisa kerja. Yang njatah ya Warmin itu,” papar Sukamdi (40) tetangga sebelah Mbah Sukiyem.

Kamdi menuturkan Mbah Sukiyem menempati rumah kecil peninggalan suaminya. Namun karena hanya istri sambungan, dia yang dikaruniai dua anak itu, tak berhak memiliki atau menjual aset rumah maupun pekarangan.

Menurutnya kematian Warmin yang diduga dibantai secara sadis di WC umum Pasar Colomadu, 28 Agustus 2018 lalu, memang makin menambah derita Mbah Sukiyem. Tak hanya kehilangan anaknya, janda miskin itu juga dihadapkan situasi yang serba sulit.

Loading...

“Jenasah Warmin sempat nggak boleh diambil oleh pihak rumah sakit karena belum bayar biaya. Akhirnya baru boleh dibawa setelah dikasih DP Rp 500.000,” urai Kamdi.

Foto kenangan almarhum Warmin. Foto/Wardoyo

Kamdi menceritakan usai ditemukan bersimbah darah, Warmin sempat dilarikan ke RSUD Moewardi Solo oleh Polsek. Sempat dua hari dirawat dan dioperasi akibat pendarahan otak, nyawa Warmin tak terselamatkan dan meninggal 29 Agustus 2018 pagi.

Usai pemakaman, Mbah Sukiyem makin terpukul setelah menerima tagihan dari pihak RSUD Moewardi sebesar total Rp 45.292.564. Karena tak punya biaya untuk melunasi, pihak rumah sakit memberi kelonggaran biaya itu untuk diangsur empat kali.

Dari surat pihak rumah sakit itu tertera angsuran pertama dimulai 29 September 2018 sebesar Rp 11.323.141,-.

Tragisnya lagi, meski miskin, Mbah Sukiyem ternyata tak mendapat fasilitas Jamkesmas atau program pemerintah layaknya warga miskin lainnya. Kamdi menuturkan saat menerima kabar Warmin dianiaya dan masuk ke rumah sakit, pihaknya sempat mengupayakan pengurusan BPJS agar mendapat keringanan biaya.

Namun baru mau mengurus berkas, kabar Warmin meninggal sudah datang terlebih dahulu.

“Saya sempat nangis juga. Kasihan lihat Mbah Sukiyem. Sudah kelangan anak, masih dibebani bayar uang sekian banyak. Mau dapat darimana. Sudah tua, nggak kerja. Wong untuk makan saja selama ini dijatah Warmin,” terangnya.

Adik korban saat menunjukkan surat tagihan biaya pengobatan almarhum Warmin dari rumah sakit. Foto/Wardoyo

Karenanya, ia sangat berharap pemerintah bisa memberikan bantuan untuk membebaskan Mbah Sukiyem dari tagihan rumah sakit itu.

“Karena dia ini statusnya hanya numpang. Rumah dan pekarangan itu haknya anak dari istri pertama suaminya,” imbuh Kamdi.

Kades Pagak, Joko Purnomo juga mengaku sangat prihatin dengan kondisi dan penderitaan Mbah Sukiyem. Karenanya ia akan berupaya untuk mengajukan bantuan ke Pemkab Sragen agar bisa mengupayakan bantuan pelunasan biaya rumah sakit untuk Mbah Sukiyem.

“Hampir setiap hari saya lihat kehidupannya. Memang Mbah Sukiyem ini sangat tidak mampu dan sudah nggak bekerja. Anak yang memberinya nafkah, sudah meninggal dengan tragis. Bahkan kemarin waktu ditunjukkan tagihan rumah sakit, saya juga sempat nangis, kok seperti ini lakone,” tuturnya.

Joko berharap polisi segera mengusut pelaku penganiayaan yang merenggut nyawa Warmin. Sehingga setidaknya ada harapan untuk meminta pertanggungjawaban dan syukur bisa tergerak memikirkan kondisi Mbah Sukiyem.

“Kalau memang meninggal itu sudah takdirnya, tapi harapannya ke depan  orang yang menganiaya itu bisa diberi suatu kesadaran, syukur memikirkan kondisi orangtua korban yang miskin. Nanti kami juga akan menghadap pimpinan daerah agar dicarikan solusinya. Wong mau jual aset, nggak punya apa-apa. Kalau dibiarkan kan kasihan, mau bayar pakai apa? ” tandasnya. Wardoyo

Loading...