loading...
Loading...
tempo.co

JAKARTA – Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, Indonesia sudah tak punya alat pendeteksi dini tsunami (buoy) sejak tahun 2012.

Menurut dugaannya, buoy sudah tidak lagi berfungsi karena kurangnya pendanaan untuk penanggulangan bencana, termasuk tsunami. Dia mencontohkan angggaran untuk BNPB terus turun tiap tahun.

Dikatakan, kalau dulu anggaran untuk buoy hampir mendekati Rp 2 triliun, sekarang hanya sebesar Rp 700 miliar.

Matinya sistem peringatan dini tersebut, tak urung menimbulkan pertanyaan di benak Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang.

Baca Juga :  Saat Kapolri Imbau Hidup Sederhana, Harta Puteri Irjen Fadil Capai Rp 17 M

“Buat kami menarik ketika katanya early warning system tsunami itu enggak jalan, itu kenapa tidak jalan?” kata Saut di kantornya di Jakarta, Senin (1/10/2018).

Saut mengatakan sistem peringatan dini bencana berbentuk penyebaran pesan pendek juga tidak berjalan saat bencana gempa bumi disertai tsunami menerjang kawasan Sulawesi Tengah Jumat pekan lalu.

Namun, ujar dia, butuh kajian lebih lanjut untuk membuktikan sistem peringatan dini bencana tidak berfungsi karena dikorupsi.

Baca Juga :  PKS Buka Kemungkinan Usung Anies di Pilpres 2024

“Ya nanti kami lihat, peralatan itu kan bisa saja enggak berfungsi,” kata dia.

Buoy merupakan sensor mengapung yang menjadi sistem peringatan dini bencana tsunami. Alat tersebut dapat mengukur ketinggian permukaan air laut dan memberikan informasi itu ke institusi terkait.

Alat tersebut dapat memberikan peringatan dini sehingga jumlah korban jiwa dapat ditekan. 

www.tempo.co

Loading...