loading...
Loading...
joglosemarnews/suhamdani

KARANGANYAR – Jagongan Rebon Karanganyar Taman Kabudayan (KTK) hari Rabu (3/10/2018) malam terasa bernas dengan pemutaran film dokumenter berjudul Vila Indah Padang Ilalang.

Film kreatif garapan M Fathur Razaq dengan durasi 30 menit tersebut sebenarnya merupakan tugas  akhir dalam Program D3 Komunikasi Terapan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) tahun 2018.

Acara yang dimoderatori Iqbal, Pimpinan KTK terasa lebih marak dengan hadirnya tokoh utama dalam film tersebut, Paiman Hadi Supadmo, yang saat itu mengenakan celana dan baju hitam.

joglosemarnews/suhamdani

Dalam paparannya, Fathur Razaq menjelaskan ketertarikannya pada sosok Paiman, tokoh masyarakat yang sangat peduli terhadap pertanian organik.

“Sebenarnya sudah lama saya ingin membuat film Mbah Paiman ini. Tapi baru kesampaian sekarang,” ujarnya.

Fathur mengatakan,  beberapa kali dia menemui Paiman di rumahnya, namun belum berani mengutarakan niatnya untuk menjadikannya tokoh utama dalam film itu. Namun dalam pertemuan yang ke sekian, tanpa ditanya, Paiman sudah banyak bercerita.

“Semula banyak sekali informasi penting dari beliau, sampai saya kebingungan. Apalagi untuk mengemasnya dalam durasi hanya 30 menit,” paparnya.

Baca Juga :  Sweet Sundae Ice Cream Jadi The Best Challenger Terbaik Dalam Diplomat Success Challenge 2019

Baru pada bulan Maret 2018 lalu, akhirnya dia memberanikan diri berproses. Mengingat banyaknya informasi yang diperoleh dari narasumber, Fathur mengakui masih banyak bahan yang belum sempat termuat dalam film pendek tersebut. Ia mengaku tak mampu menampung semua informasi tersebut, karena harus mengejar waktu presentasi di kampus.

“Film ini memang belum final dan  masih banyak kekurangan. Karena itu melalui forum ini, saya  mohon kritik dan  saran,” ujarnya.

Saat diberi kesempatan untuk berkisah, Paiman menceritakan sosok dirinya yang tak pernah mengenyam bangku pendidikan formal. Lelaki kelahiran 1939, beberapa tahun sebelum kemerdekaan itu, mengaku dilarang sekolah oleh ayahnya selepas dari Sekolah Rakyat (SR). Sang ayah, kisahnya, tak mau anaknya jadi PNS.

“Jadi sekolah saya ya di alam ini. Saya belajar pada tanah, pada air, pada tumbuhan,”  paparnya.

Meski demikian, berkat konsistensinya pada pertanian organik,  dirinya sering menjadi rujukan bagi kalangan pendidikan di bidang pertanian. Bahkan ia mengaku sempat  diundang dalam pengukuhan guru besar pertanian di UNS.

Baca Juga :  6 Jabatan Kepala Dinas dan Eselon II Karanganyar Kosong, Pembahasan KUA-PPAS 2020 Terancam. Ketua DPRD Desak Bupati Segera Lakukan Pengisian 

Menurut Paiman, dewasa ini lingkungan pertanian, baik  tanah, udara dan air telah dipenuhi dengan racun kimia. Hal itu salah satunya dipicu oleh penggunaan pupuk dan obat-obatan kima. Hal itu yang menurutnya, kemudian menyebabkan empat kondisi negatif bagi tanaman.

Pertama, terjadinya degradasi lahan, di mana kualitas kesuburan tanah menjadi berkurang. Kedua, semakin banyakanya penyakit tanaman, ketiga, usia tanaman menjadi pendek.

“Dan keempat, terjadinya kerusakan ekosistem. Satu-satunya solusi adalah lewat pertanian organik,” ujarnya.

Jagongan Rebon tersebut menghadirkan pembahas seorang  Cerpenis yang lagi naik daun, Yuditeha, perwakilan jurnalis, Didik Kartika dan Hamdani MW, serta puluhan orang lainnya dari berbagai kalangan, mulai dari  dari seniman, penyair dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surakarta, seperti UNS, UMS dan Univet Bantara Sukoharjo.  #suhamdani

Loading...