loading...
Loading...
tempo.co

JAKARTA – Dalam kancah politik, kasus kebohongan publik yang dilakukan Ratna Sarumpaet, bisa jadi merupakan “kebodohan”. Namun menurut penilaian yang lain, kasus tersebut merupakan bagian dari strategi pemenangan dalam ajang Pilpres 2019.

Tim sukses pasangan calon presiden inkumben Joko Widodo (Jokowi) menuding bahwa kubu penantangnya, Prabowo Subianto menggunakan propaganda politik seperti yang digunakan Donald Trump saat memenangkan pemilihan presiden di Amerika Serikat pada 2016.

Propaganda yang dimaksud adalah menggunakan teknik kampanye bernama Firehose of Falsehoods, dengan memanfaatkan kebohongan sebagai alat politik.

Influencer Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Budiman Sudjatmiko menjelaskan, kebohongan yang dilakukan aktivis Ratna Sarumpaet merupakan sesuatu yang sudah bisa diprediksi.

Bahkan, kata Budiman, pada Pilkada 2017, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok harus ditahan karena kasus Al-Maidah ayat 31.

Baca Juga :  Dituntut 1 Tahun 6 Bulan, Nunung Srimulat Menawar 6 Bulan Jalani Rehabilitasi Narkoba

“Potongan pidato Ahok ternyata bisa dipakai untuk memobilisasi dukungan maupun sikap antikelompok tertentu dan itu adalah kerja Cambridge Analytica,” ujar Budiman di Posko Cemara, Jakarta Jumat (5/10/2018).

Menurut Budiman, kasus pengakuan kebohongan Ratna Sarumpaet ini bukanlah sesuatu kekeliruan, tapi kehebohan yang sengaja diciptakan.

“Saya tidak percaya Ratna Sarumpaet adalah pelaku tunggal dan Prabowo adalah korban,” ujar Budiman.

Cambridge Analytica merupakan lembaga survei yang menggunakan big data atau ‘data besar’ dalam analisisnya. Cambridge Analytica dalam situs resminya beberapa waktu lalu juga mengungkap bagaimana mereka membantu pemenangan Trump. Mereka menyebut telah menganalisis jutaan poin data.

Baca Juga :  Moeldoko Usulkan Setiap Keluarga Pelihara Ayam, Ini Ceritanya

Salah satu strategi yang digunakan adalah bagaimana mengidentifikasi pemilih yang dapat dibujuk (persuadable voters) dan isu-isu yang dipedulikan para pemilih. Cambridge Analytica kemudian mengirimkan ‘pesan-pesan’ yang berdampak pada sikap atau pilihan politik masyarakat.

“Penggunaan strategi ini terbukti efektif menghasilkan kemenangan dalam kontestasi politik di berbagai tempat di dunia. Namun juga pasti akan menyertakan kerusakan sosial dan politik yang sulit untuk diperbaiki kembali. Kita tahu, pemilu AS adalah yang paling rasis,” ujar Budiman.

Untuk itu, kata Budiman, strategi propaganda seperti ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus berkembang di Indonesia dan harus segera ditindak. #tempo.co

 

Loading...