JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kecewa Berat, Mami Sugiarsi Sebut Putusan Hakim Untuk Guru SD Cabul di Gemolong Terburuk Sepanjang 14 Tahun 

Koordinator APPS Sragen, Sugiarsi saat memberikan terapi psikis salah satu siswi SD di Gemolong yang diduga menjadi korban pencabulan. Foto/Wardoyo
madu borneo
madu borneo
madu borneo

Koordinator APPS Sragen, Sugiarsi saat memberikan terapi psikis salah satu siswi SD di Gemolong yang diduga menjadi korban pencabulan. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Sidang putusan perkara dugaan pencabulan yang dilakukan Guru SD Kalangan, Gemolong berinisial SW (58) yang digelar Rabu (3/10/2018) menyisakan kekecewaan berat. Tak hanya orangtua dan keluarga koeban, putusan itu juga memantik kekecewaan berat bagi Sugiyarsi, Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS).

Aktivis berusia 74 tahun yang ditunjuk mendampingi kasus itu, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya usai mendengar vonis ketua majelis hakim, Sutrisno yang mengganjar SW dengan hukuman hanya 3 tahun penjara.

Baca Juga :  Heboh, Beredar Surat Panggilan Penyidikan dari KPK Untuk Kepala Dinas di Sragen. Tapi Diduga Abal-Abal, Kepala Dinasnya Sebut Belum Tahu

“Mami sangat kecewa. Selama 14 tahun jadi aktivis ini putusan hakim yang sangat tidak prespektif gender. Ini putusan terburuk untuk korban kekerasan gender di Sragen selama 14 tahun, ” paparnya Kamis (4/10/2018).

Aktivis yang akrab disapa mami itu memandang putusan ringan itu telah mencederai keadilan bagi anak-anak yang menjadi korban. Sehingga tak heran, mereka yang turut menggeruduk PN Sragen saat vonis dibacakan, langsung marah dan kecewa.

Baca Juga :  Misteri Ringseknya Mobil Dinas Wakil Ketua DPRD Pekalongan Yang Kecelakaan Maut di Tol Sragen. Airbag Masih Mengembang, Bercak Darah Terlihat Berceceran di Jok

“Dari 200 kasus lebih kejahatsn seksual yg mami tangani putusannya sangat tidak prespektif gender,” terangnya.

Perihal apakah menerima atau banding atas putusan itu, Sugiarsi menambahkan tidak akan banding. Namun dimungkinkan korban lain akan menyiapkan laporan jilid 2. Sebab menurutnya masih banyak korban lain yang pada kasus pertama ini masih enggan melapor. Wardoyo