loading...
Loading...
Kuswiyanti. Foto/Wardoyo

 

SRAGEN- Nasib malang menimpa seorang sinden atau seniwati karawitan asal Kedawung, Sragen, Kuswiyanti (34). Ia menjadi korban kelompok hipnotis yang mengendarai mobil, Senin (1510/2018) pagi.

Gara-gara menjawab pertanyaan saat ditanya alamat, sinden cantik itu malah teperdaya oleh kelompok yang digawangi tiga pria tersebut. Korban diseret ke dalam mobil dan kemudian dilucuti barang berharganya.

Kejadian hipnotis itu menimpa Yanti, sapaan akrabnya, saat sedang menunggui mobil rombongan pentasnya. Bermula ketika pukul 07.30 WIB, Yanti yang sudah dandan, menunggu mobil rombongannya di Jalan Raya Solo-Sragen tepatnya di tikungan Masaran.

Ia menunggu mobil rombongan karawitannya yang mendapat job pentas di Sukoharjo. Saat duduk sendirian, mendadak berhenti sebuah mobil Avanza berwarna hitam menghampirinya.

“Kemudian keluar seorang laki laki yang mengaku dari Jombang dan tanya alamat arah ke Batu Jamus untuk menyembuhkan orang sakit. Setelah saya jelaskan arahnya, lalu saya sudah setengah sadar. Tangan saya tiba-tiba langsung ditarik masuk ke mobil,” kata Yanti, Selasa (16/10/2018).

Di dalam mobil, sudah menunggu dua pria tak dikenal. Yanti menceritakan total ada tiga pria yang diduga memang satu sindikat di dalam mobil.

Dalam kondisi pengaruh hipnotis, ia masih mengingat sepintas ciri ketiga pelaku. Menurutnya satu pria yang menarik tangannya, diketahui berusia muda, kemudian yang berpakaian mirip jubah dan bersurban sudah tua.

Lantas yang mengendarai mobil berusia sekitar 40an tahun. Yanti mengaku sama sekali tak menyangka jika mereka pelaku kejahatan lantaran dari penampakan berpakaian rapi dan jauh dari kesan jahat.

“Saya enggak nyangka karena penampilannya juga rapi. Yang satu malah mengaku sebagai kyai,” jelasnya.

Pria yang mengaku kyai itu kemudian bilang hendak memberikan barokah.Dalam kondisi pengaruh hipnotis, Yanti menurut saja.

Termasuk ketika pria berpakaian surban itu membacakan doa dan memintanya membuka barang yang berbau keringat. Yanti melepaskan kalung dan cincin lalu diserahkan ke pelaku serta dimasukkan ke dalam sebuah kantong. Dua perhiasan emas itu bernilai hampir Rp 6 juta.

Kapolsek Masaran, AKP Agus Jumadi langsung bergerak melakukan penggalian informasi. Rabu (17/10/2018) ia langsung menggali informasi dari korban untuk memastikan kejadian itu.

“Memang sampai hari ini enggak ada laporan. Korban memang tidak melapor, harapan kami bisa dilaporkan sehingga bisa dilakukan penyelidikan,” terangnya. Wardoyo

Loading...