JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Awas. Cumi dan Teri di Pasar Kota Wonogiri Mengandung Formalin, Bandeng dan Layur Justru Negatif. Hasil Tes Acak Dinkes

Kepala Dinkes Wonogiri, Adhi Dharma memberikan pembinaan kepada pedagang Pasar Kota Wonogiri soal pengawet dan pewarna makanan.
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Kepala Dinkes Wonogiri, Adhi Dharma memberikan pembinaan kepada pedagang Pasar Kota Wonogiri soal pengawet dan pewarna makanan.

WONOGIRI-Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri bekerjasama dengan Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (Patelki) menggelar tes kandungan bahan pengawet dan pewarna makanan di sejumlah kios di Pasar Kota Wonogiri, Rabu (7/11/2018).

Hasilnya, barang dagangan berupa cumi-cumi laut positif mengandung pengawet formalin. Hal serupa terjadi pada komoditi teri. Sementara untuk jenis ikan layur dan bandeng justru negatif berbahan pengawet berbahaya.

Kepala Dinkes Wonogiri, Adhi Dharma mengatakan, tes digelar dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2018. Jenis tes berupa kolorimetri atau tes perubahan warna untuk mendeteksi kandungan berbahaya bahan pengawet maupun pewarna makanan.

Baca Juga :  Catat Slur, Seperti Ini Protokol Kesehatan di Lingkungan Pondok Pesantren

Dari hasil tes cepat didapati perubahan warna mencolok pada jenis cumi-cumi dan teri. Saat sampel dimasukkan ke dalam cairan yang awalnya berwarna bening, dengan cepat berubah menjadi ungu.

“Ini menandakan ada kandungan bahan pengawet berbahaya berupa formalin, cukup tinggi,” jelas dia.

Namun saat sampel berupa bandeng dan layar dimasukkan, tidak terjadi perubahan warna. Artinya, aman untuk dikonsumsi. Menurut penelusurannya, lahir dan bandeng yang diambil sampulnya menggunakan pengawet alami berupa garam.

Sementara sampel rengginang dan kerupuk, diketahui mengandung bagan pewarna rodamin b, yang semestinya untuk pengawet sintetis kain atau kertas.

Baca Juga :  Kabar Paranggupito Wonogiri, 175 KIS PBI Didistribusikan Bagi Keluarga Penerima Manfaat di 8 Desa

Terkait temuan itu, pihaknya merekomendasikan kepada pedagang untuk segera menarik dagangannya tersebut. Atau segera menukarnya ke pihak distributor atau agen.

“Sangat berbahaya jika dikonsumsi, karena bersifat karsigenik, bisa memicu kanker,” jelas dia.

Sementara pemilik salah satu kios yang diambil sampelnya, Bu Parjo mengaku cumi-cumi dan jenis dagangan lainnya didapat dari distributor dari Kota Solo. Dia mengaku tidak mengetahui kandungan berbahaya yang ada di dalamnya. Aris Arianto