loading...
Loading...
Salah seorang dosen tengah menunjukkan alat terapi yang dikembangkan oleh sejumlah dosen UMS

SOLO-Sejumlah dosen dari Program Studi Fisioterapi, Teknik Industri dan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan beberapa alat terapi yang paling sering digunakan di kalangan rumah sakit atau tempat praktik fisioterapi. Kegiatan yang merupakan bagian dari program pengembangan produk intelektual kampus tersebut digawangi oleh para dosen yang terdiri dari Totok Budi Santoso, M Djunaidi, Wahyuni, Nurgiyatna.

Adapun tujuan kegiatan ini adalah mempercepat pengembangan budaya kewirausahaan di perguruan tinggi melalui kegiatan penciptaan unit usaha produk dan alat kesehatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. “Kegiatan ini memfokuskan pada pembuatan digital infra merah dengan kombinasi 1, 2, 3 atau 6 lampu, lalu pembuatan digital traksi,  pembuatan peralatan gymnasium, dan pembuatan alat transcutaneous electrical nerve stimulation/TENS dengan teknologi berbasis mikrokontroler yang dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pemasukan mandiri bagi UMS,” ungkap Totok Budi Santoso, salah satu dosen yang juga Ketua Tim riset.

Lebih jauh, Totok menguraikan, program pengembangan alat terapi yang tengah dilakukan tersebut juga dimaksudkan untuk mengurangi beban kebutuhan peralatan kesehatan impor.  “Pasalnya, sebagian besar alat kesehatan terutama yang digunakan untuk terapi pemulihan/rehabilitasi saat ini masih didominasi oleh alat impor,” tambah Totok yang didampingi ketiga dosen tersebut.

Saat ini sebagian kebutuhan  pelayanan rehabilitasi medis di rumah sakit memerlukan peralatan elektrostimulasion, pemanas infra red, penarik ruas tulang belakang (traksi), dan peralatan gymnasium untuk menunjang terapi bagi klien. “Dan itu kebanyakan didatangkan dari luar negeri,” paparnya.

Baca Juga :  UPT Layanan Internasional UNS Gelar Global Challenge Fest 2019

Data dari Kemenkes tahun 2017, kata Totok, nilai pasar alat kesehatan  di Indonesia mencapai Rp 12 triliun, 94% dikuasai produk impor, sisanya dalam negeri. Pada tahun 2035, nilai pasar alat kesehatan diperkirakan mencapai Rp 35 triliun.

“Hingga tahun 2017, di Indonesia hanya ada 193 pelaku industri alat kesehatan yang mampu memproduksi alat kesehatan non elektromedik seperti ranjang rumah sakit, kursi roda, sarung tangan dan tensimeter, masih jarang yang memproduksi alat kesehatan elektromedik,” tambah M Djunaidi, peneliti lainnya.

Apabila industri rumah sakit, dokter dan tenaga kesehatan menggunakan alat kesehatan buatan dalam negeri, maka biaya pengobatan pasien bisa ditekan 20-30%, dan juga bisa menghidupkan pelaku industri alat kesehatan di Indonesia. “Penggunaan komponen atau alat kesehatan produksi dalam negeri juga akan menurunkan biaya pembelian dan perawatan alat sehingga pada akhirnya dapat menurunkan biaya kesehatan masyarakat Indonesia,” kata Nurgiyatna.

Adapun metode pelaksanaan kegiatan ini, kata Wahyuni, dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan bisnis dan edukatif dalam arti penciptaan unit usaha yang berorientasi profit namun memiliki nilai pendidikan. Pada kegiatan PPUPIK ini adalah menciptakan unit usaha produktif dengan menghasilkan alat TENS, Standing digital infra merah, dan traksi lumbal dan cervical yang memiliki peluang pasar yang besar di industri rumah sakit.

Baca Juga :  UMS Akan Kukuhkan Prof Muhammad Da'i dan Prof Muhtadi Jadi Guru Besar ke-27 dan 28

“Keterlibatan dosen dan mahasiswa dimulai sejak melakukan analisis bisnis, proses produksi alat, pemasaran dan pelayanan pelanggan after sales. Semua kegiatan dilakukan secara bersama-sama antara dosen dengan mahasiswa yang berasal dari prodi fisioterapi, teknik elektro, dan teknik industri di lingkungan UMS,” katanya.

Hasil yang telah dicapai adalah terciptanya alat electrical myostimulaion/TENS 2 dan 4 chanel, alat digital infra merah, digital traksi dan peralatan gymnasium. Peralatan-peralatan tersebut berguna untuk membantu memulihkan fungsi saraf dan otot melalui efek pemanasan  perifer yang digunakan untuk membantu mengatasi gangguan sirkulasi akibat adanya gangguan/kelainan/penyakit yang menyebabkan adanya nyeri, kelemahan otot, bengkak, keterbatasan gerak sendi, dan gangguan sirkulasi cairan.

“Peralatan electrical stimulation dua chanel/TENS digunakan untuk merangsang saraf motorik dan sensorik yang mengalami gangguan seperti nyeri, paraestesia/geringgingen, otot lemah dan untuk penguatan otot normal.”(Triawati PP)

Loading...