loading...
Loading...
Wakil Ketua MPR RI Abdul Muhaimin Iskandar. tempo.co

JAKARTA – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar menyatakan Baiq Nuril guru SMA 7 Mataram yang dihukum karena dianggap melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) lantaran merekam percakapannya dengan Kepala Sekolah yang berbau seks, hanya upaya korban untuk melindungi diri. “Tindakan semua itu kan supaya terhindar dari fitnah, supaya ada bukti bahwa dia tidak selingkuh.” Politikus yang akrab dipanggil Cak Imin itu menyampaikannya dalam keterangan tertulis, Minggu (18/11/2018).

Baca Juga :  Fatayat NU Gelar Konferensi Internasional Islam ke-7, Hadirkan Pembicara dari Berbagai Negara

Muhaimin mempertanyakan vonis Mahkamah Agung (MA) kepada Nuril. Menurut cak Imin, MA perlu melihat kembali tujuan dari tindakan Baiq Nuril untuk merekam percakapan itu.

Cak Imin mendesak agar Baiq Nuril dibebaskan dari hukumannya, karena putusan MA dinilainya telah mencederai rasa keadilan masyarakat. “Saya minta jangan penjarakan dia. Kita harus menjamin rasa keadilan masyarakat.”

Baca Juga :  Jokowi Minta Preventif, KPK Bilang Sudah Lakukan Pencegahan, Namun Tak Semua Instansi Merespon Positif

Nuril sebelumnya kerap mendapatkan pelecehan secara verbal dari Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram, M. M kerap menceritakan pengalamannya berhubungan seksual dengan wanita lain yang bukan istrinya melalui telepon.

Tak nyaman dengan hal itu, Nuril merekam percakapan untuk membantah tudingan dia punya hubungan gelap dengan M. Namun, rekaman itu kemudian menyebar tanpa dia kehendaki. M melaporkannya dengan tuduhan pelanggaran Pasal 27 ayat (1) UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Baca Juga :  Sadis, Paman Babat Leher Ponakan Hingga Putus di Gowa

Pengadilan Negeri Mataram memutus Baiq Nuril tidak terbukti menyebarkan konten yang bermuatan pelanggaran kesusilaan. Jaksa penuntut umum lantas mengajukan banding hingga tingkat kasasi. Mahkamah Agung kemudian memutus Baiq Nuril bersalah pada 26 September 2018. MA menghukum Baiq 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan.

www.tempo.co

Loading...