JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Faisal Basri: Utang Pemerintah Bikin Rupiah Menguat

Ilustrasi
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
ilustrasi

JAKARTA-Kebijakan pemerintah untuk menarik utang ternyata berdampak pada menguatnya rupiah dalam beberapa pekan terakhir ini.

Demikian dilontarkan oleh ekonom Faisal Basri dalam seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2019 bertajuk ‘Adu Strategi Hadapi Perang Dagang’ di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (28/11/2018).

Menurut Faisal, kebijakan pemerintah untuk menarik utang tersebut kemudian menyebabkan dolar Amerika Serikat masuk, sehingga memperkuat likuiditas di dalam negeri.

“Karena itu rupiah membaik itu bukan karena darah keringat pemerintah tapi karena utang,” katanya.

Adapun, nilai tukar rupiah tercatat terus menguat selama tiga pekan terakhir. Pada Oktober 2018 kemarin nilai tukar sempat menyentuh angka Rp 15.000 per dolar AS. Sedangkan, pada pekan ini rupiah terus-terusan menguat di angka Rp 14.400-14.500 per dolar AS.

Baca Juga :  Situasi Bogor Belum Aman, 7 Penumpang Bus Positif Covid-19

Merujuk pada Kurs Refensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR berada di angka Rp 14.535 per dolar AS. Sedangkan di pasar sekunder, rupiah diperdagangkan pada level Rp 14.516 per dolar AS.

Faisal menjelaskan bahwa hal ini bisa dilihat dari masuknya dolar lewat tiga instrumen. Pertama adalah foreign direct investment atau investasi langsung luar negeri, kedua dari portofolio dan ketiga dan other investment atau investasi lain. Adapun investasi lain ini, terdiri dari penarikan utang baru sehingga dolar AS masuk dan pencicilan utang sehingga dolar keluar.

Dalam konteks ini, kata Faisal, pemerintah telah melakukan penarikan utang lebih banyak. Misalnya pemerintah mendapat utang dari Bank Dunia untuk melakukan pembangunan kembali daerah bencana di Lombok maupun Sulawesi Tenggara. Belum lagi, Asian Development Bank yang juga ikut mengeluarkan dana pinjaman untuk pemulihan pasca bencana ke Indonesia.

Baca Juga :  Tujuh Orang Pegawai KPK Terinfeksi Covid-19

“Jadi karena narik utangnya lebih banyak makanya ikut membantu nilai tukar rupiah,” kata Faisal.

Hal itu kata Faisal juga didukung dengan terus melambatnya adanya investasi luar negeri ke Indonesia. Padahal hal inilah yang seharusnya bisa mendatangkan dolar AS sehingga ikut membantu penguatan rupiah dan menambah likuiditas yang ada.

Karena itu, ke depan penguatan rupiah ini hanya bersifat sementara. Pada tahun depan, ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di atas level Rp 15.000 per dolar AS.

www.tempo.co