JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Cerita Korban-korban Dokter Galak di Puskesmas Tanon Sragen. Tak Terima Dibilang Pasien Gadungan dan Edan, Sumisih Ancam Tempuh Jalur Hukum

Ita Sumisih (55) kiri saat mendampingi adik iparnya, Parti sembari menunjukkan obat dari Puskesmas Tanon II dan kartu BPJS miskinnya. Foto/Wardoyo
Ita Sumisih (55) kiri saat mendampingi adik iparnya, Parti sembari menunjukkan obat dari Puskesmas Tanon II dan kartu BPJS miskinnya. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Cerita soal tabiat dokter galak berinisial SG di Puskesmas Tanon II, Sragen kembali mencuat. Adalah Ita Sumisih (55) yang menuturkan turut menjadi saksi tabiat dan pelayanan buruk sosok SG.

Pengalaman pahit itu dialaminya sekitar delapan bulan saat mengantar kakak iparnya, Parti (55) asal Dukuh Manisrejo RT 20, Sambiduwur, Tanon periksa ke Puskesmas Tanon II. Kakak iparnya menderita katarak dan hendak meminta rujukan untuk operasi.

Namun, jauh-jauh datang dari Solo untuk mendampingi periksa, Ita justru merasakan sakit hati lantaran diperlakukan tak mengenakkan.

“Sampai kapan pun itu masih teringat terus. Ceritanya waktu itu saya ngantar adik saya ini ke Puskesmas. Namanya orang sakit, ya saya ndak tega. Dia saya minta duduk saja, saya yang ngurusi daftar. Lalu tiba giliran dipanggil, saya yang masuk dulu ke ruang dan di dalam ada ibu dokter itu. Saya sudah bilang, saya ngantar adik saya. Malah tanggapane langsung sengak. Sing arep priksa adike kok kowe sing mrene (yang mau periksa adikmu kok kamu yang kesini). Itu sambil nggetak-getak (bentak-bentak),” ujar Ita geregetan saat menyampaikan curhatnya ke wartawan kemarin.

Tak cukup sampai di situ, dokter perempuan paruh baya itu kemudian malah menyebutnya telah berbohong dan pasien gadungan karena tak sakit tapi masuk ke ruangan periksa.

Perkataan itu sontak membuatnya meradang. Kesabarannya pun sirna dan seketika dia langsung menjawab ketus dan menjelaskan bahwa dirinya hanya mengantar adiknya.

Baca Juga :  Bikin Miris, Berikut Daftar 19 Warga Sragen Positif Terpapar Covid-19 Hari Ini. Ada 6 Orang asal Mondokan dan 7 Orang dari Sidoharjo

Ia pun mengalah dan keluar memanggil adiknya, Parti untuk masuk ke ruang periksa. Parti menuturkan di dalam ruangan, ia gantian jadi sasaran amuk kata.

“Bu dokter bilang suk mben Bu Parti nek mbalik mrene njaluk rujukan aja ngajak mbakyune sing edan itu. Ya saya nggak terima masak kakak saya dibilang gila,” timpal Parti.

Perkataan edan itu rupanya sampai ke telinga Ita. Seketika ia pun bangkit dari ruang tunggu dan ingin mengklarifikasi tudingan pasien gadungan dan edan itu.

“Saya juga nggak terima, tapi belum saya klarifikasi sudah pergi. Saya tetap sampai kapan pun masih ingat dan akan saya kasuskan kalau anak saya sudah pulang. Gini-gini, anak saya juga dosen dan sekarang baru melanjutkan kuliah di luar negeri. Sebentar lagi mau pulang, nanti pasti nggak akan terima ibunya dibilang edan dan pasien gadungan,” urai Ita.

Tak hanya mengancam melaporkan dokter galak itu, Ita juga berharap pihak terkait dari dinas segera menindak dokter itu. Menurutnya, karena tabiatnya yang tak baik, ia berharap sanksi berat tak hanya sekadar dipindah.

“Waktu saya waneni itu, pasien yang ada di ruang tunggu juga langsung berdiri dan pada ndukung suruh berani. Karena ternyata mereka juga mengaku sudah sering dapat perlakuan yang sama. Makanya kalau mau baik ya dokter yang begitu mestinya dipecat saja. Karena kalau dibiarkan kasihan warga akhirnya jadi trauma dan nggak mau periksa. Kalau dipindah takutnya di rumah sakit atau puskesmas yang dipindahi malah jadi jelek. Dan kalau tetap dipertahankan, saya yakin Puskesmas nggak akan payu, wong pasien nggak pernah bisa merasakan nyaman,” urainya.

Baca Juga :  Dewan Rakyat Jelata Sragen Geruduk Kejaksaan Desak Kasus Dugaan Tipikor di DPUPR Diusut Tuntas. Kajari Isyaratkan Segera Panggil Kepala DPUPR!

Parti yang berobat dengan fasilitas BPJS miskin itu menambahkan insiden dan tabiat dokter tersebut juga sudah diadukan ke bupati via aduan WA oleh putranya.

“Ini juga demi warga dan masa depan Puskesmas juga,” tukasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto menyampaikan sehari setelah mencuat di berita, pihaknya langsung menerjunkan tim ke Puskesmas Tanon dan memanggil Kepala Puskesmas untuk diklarifikasi perihal kasus dokter galak itu.

Dari hasil klarifikasi dan kroscek di lapangan, ia menyebut persoalsn warga sebenarnya bukan pada rujukan. Akan tetapi lebih pada komunikasi antara dokter yang bersangkutan dengan pasien.

Saat ditanya perihal tabiat dokter berinisial SG yang dikeluhkan sering bentak dan tak ramah kepada pasien, Hargiyanto mengatakan saat ini hasil klarifikasi baru dalam pengolahan oleh tim.

Ia memastikan dalam beberapa hari ke depan akan segera ada keputusan sanksi terhadap dokter SG.

“Tunggu saja nanti akan kami sampaikan,” terangnya. Wardoyo