JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Cerita Haru Kakek Napi Asal Tangen Sragen Yang Menolak Pulang di Hari Kebebasannya dari Lapas. Kalapas Sampai Tergerak Antar Pakai Kursi Roda 

Kakek Seno saat mencium tangan Kalapas Sragen dan akhirnya mau diajak pulang oleh keluarga setelah sempat menolak untuk bebas Rabu (30/1/2019). Foto/Wardoyo
Kakek Seno saat dituntun Kalapas Sragen menuju ke mobil dan akhirnya mau diajak pulang oleh keluarga setelah sempat menolak untuk bebas Rabu (30/1/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Ada pemandangan haru tercipta di Lapas Kelas II A Sragen, Rabu (30/1/2019) siang. Betapa tidak, momen kebebasan dari penjara yang lazimnya disambut kegembiraan oleh napi, ternyata justru disambut kesedihan salah satu napi.

Napi itu bernama Seno (59) asal Desa Sigit, Kecamatan Tangen. Kakek paruh baya itu mendapatkan hari kebebasan Rabu (30/1/2019) setelah 1,8 bulan menghabiskan waktu menjalani hukuman di Lapas Sragen.

Pria paruh baya itu mendekam akibat kasus pembalakan liar yang menjeratnya dua tahun silam. Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan.

Seno mendadak menolak untuk bebas dan memilih bertahan di Lapas Sragen. Tubuhnya gemetaran dan mengalami depresi hebat menjelang hari kebebasannya. Padahal sehari-hari dan menjelang kebebasan, dirinya tampak sehat dan biasa saja.

Bahkan saat dijemput anak dan istrinya untuk membawa pulang, Seno malah berontak. Mendadak pula, bibirnya kaku dan tak bisa berbicara. Dia malah meronta dan menangis ketika keluarga hendak mengajaknya ke mobil untuk kembali ke rumah.

Rupanya penolakan Seno untuk pulang terjawab ketika Kalapas Yosef Benyamin Yembise dan beberapa pegawai mendekat lalu mengajaknya berkomunikasi. Baru setelah dibujuk dan diberi penguatan mental oleh beberapa pegawai, Seno perlahan mulai luluh.

Suasana haru makin menjadi ketika Kalapas berinisiatif membawanya duduk di kursi roda dan mendorong menuju ke mobil penjemputnya. Sepanjang dari ruangan register menuju ke mobil, Kalapas asal Papua itu tak henti memberikan motivasi agar Seno kuat dan kembali menatap kehidupan baru bersama keluarga dan masyarakat.

Baca Juga :  Bos Investasi Rangrang CV MSB Sragen, Sugiyono Nekat Gugat Kapolda Jateng. Tak Terima Ditetapkan Tersangka Penipuan dan Pencucian Uang Hingga Puluhan Aset Mobil Serta Sertifikatnya Disita

“Bapak nanti boleh kok kunjung ke sini lagi ketemu saya. Teman-teman juga sayang Bapak. Nanti kita akan jenguk ke rumah Bapak ya. Sekarang Bapak pulang, ibu dan anak cucu sudah menunggu,” ucap Yosef sembari menuntun tubuh rapuh Seno untuk duduk ke dalam mobil.

Perlahan air mata Seno menetes. Tak tahan haru, Kalapas pun tampak bersedih.

Ia kemudian mengeluarkan dompet dan memberi sedikit uang untuk Seno sebagai tanda kekeluargaan. Sembari berpesan agar tetap tabah dan suatu saat dirinya dan keluarga Lapas pasti akan menjenguknya.

Foto/Wardoyo

Perkataan Kalapas itu akhirnya menjawab drama keharuan yang tercipta hari itu. Rupanya Seno menolak diajak pulang karena merasa sudah betah di Lapas.

Suasana yang nyaman dan keakraban pegawai serta teman sesama napi yang merawat penuh kasih sayang, membuatnya lebih memilih tinggal di Lapas. Bayangkan stigma negatif dan penerimaan lingkungan diyakini juga telah menghadirkan ketakutan hingga psikisnya terguncang menjelang kebebasan.

“Iya, biasanya memang ada yang seperti itu. Kadang merasa sudah kerasan di sini, banyak teman, akhirnya mereka malah nggak mau pulang padahal sudah saatnya bebas. Biasanya yang seperti itu takut bayangan kalau di luar apakah bisa diterima lagi. Makanya salah satu program kita, untuk napi yang asimilasi, kita programkan untuk diajak ke luar bakti sosial membersihkan masjid dan lainnya. Supaya mereka kembali mengenal lingkungan luar dan siap untuk kembali hidup bermasyarakat,” timpal Kasie Giatja Lapas Sragen, Triyono.

Baca Juga :  Ngontel Ngos-ngosan, Penjual Jajanan Asal Sulawesi Pasrah Bongkokan Tertangkap Razia Tak Pakai Masker di Sragen. Merengkek Tak Punya Uang Rp 50.000, Tak Hafal Pancasila dan Lagu Indonesia Raya, Akhirnya Bayar Denda Pakai Ini!

Kalapas menambahkan semenjak ia memimpin hampir empat bulan, dirinya memang menekankan pentingnya jiwa melayani dengan tulus di semua jajaran pegawai. Pembenahan fasilitas yang nyaman serta semangat melayani dengan senyum sapa dan salam, rupanya mulai mengena di hati warga binaan.

Di bagian akhir, ia juga berharap masyarakat bisa merubah stigma negatif terhadap mantan warga binaan Lapas. Menurutnya, warga binaan juga manusia yang tak luput dari khilaf. Dengan program pembinaan dari berbagai aspek, keagamaan, keterampilan, mayoritas warga binaan yang bebas sudah dibekali dan siap untuk kembali berubah baik serta bermasyarakat.

“Yang harus disadari bahwa tak semua yang di Lapas itu lebih buruk dari yang di luar. Dan yang di luar sana pun juga belum tentu lebih baik dari yang di Lapas. Makanya sudah sewajarnya kita memanusiakan mereka dan menerima mereka kembali hidup bersosial ketika sudah bebas,” tukas Kalapas. Wardoyo