JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

DARURAT DB SRAGEN: Bangsal Anggrek RSUD Penuh Pasien DB, 2 Meninggal Dunia 

Ilustrasi petugas di Bangsal Anggrek RSUD Sragen saat memeriksa salah satu pasien anak yang terdiagnose DB Rabu (16/1/2019). Foto/Wardoyo
Petugas di Bangsal Anggrek RSUD Sragen saat memeriksa salah satu pasien anak yang terdiagnose DB Rabu (16/1/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN- Status kejadian luar biasa (KLB) Demam Berdarah ditunjukkan dengan tingginya jumlah pasien positif DB di RSUD Sragen. Hingga pekan kedua Januari ini, jumlah pasien DB yang dirawat di RSUD itu sudah mencapai angka 51 orang.

Dari angka itu, dua diantaranya dilaporkan gagal terselamatkan alias meninggal dunia. Direktur RSUD Sragen, Didik Haryanto mengungkapkan dari rekapitulasi jumlah pasien DB, selama bulan Desember 2018, total ada 70 pasien DB yang dirawat di RSUD.

Sementara data terkini di bulan Januari 2019, selama 15 hari berjalan sudah ada 51 pasien DB yang dirawat.

“Ada dua yang meninggal dunia. Satunya masih anak-anak satunya sudah dewasa. Keduanya meninggal karena waktu datang sudah dalam kondisi syok dengue shock syndrom (DSS),” papar Didik didampingi Kabid Pelayanan, Sri Herawati, Rabu (16/1/2019).

Lebih lanjut, Didik mengakui ada tren peningkatan kasus DB yang dirawat di RSUD sejak bulan Desember 2018. Bahkan hingga medio Januari 2019 ini, bangsal anak yakni Bangsal Anggrek yang biasanya tidak penuh, dalam beberapa waktu terakhir penuh oleh pasien anak dengan diagnosa DB.

Baca Juga :  Ada Soal Dinilai Berbau Ajaran Komunisme, Dinas Pendidikan Sragen Akhirnya Tarik 11.000 Lebih Buku Modul PPKN SMP dari Siswa. Lembaran Halaman Kontroversial Langsung Diganti

“Sampai hati ini kapasitas full semua dan hampir mayoritas DB,” tuturnya.

Menyikapi darurat DB dan status KLB, Didik menyampaikan pihak rumah sakit juga menyiapkan treatmen dengan mengintensifkan pemberian asupan cairan kepada pasien yang sudah terdiagnosa DB.

Namun yang terpenting, ia berpesan kepada masyarakat apabila ada yang mengalami gejala demam tinggi dsn tak turun ketika diberi obat penurun demam, segera diperiksakan ke tempat pelayanan kesehatan.

“Kalau selama tiga hari panasnya tak turun juga, segera periksakan lagi.  Karena tipikal DB itu demamnya enggak mengenal waktu. Jadi sepanjang hari bisa panas terus, lalu kalau sudah ada penurunan trombosit maka segera dibawa ke pelayanan. Yang fatal itu kadang tidak disadari dikira demam biasa, begitu sudah syok baru dibawa ke rumah sakit akhirnya tidak tertolong,” terangnya.

Baca Juga :  Bukan 50 % Plus 1 Dari Jumlah Warga Yang Hadir, Ternyata Ini Syarat Menang Bagi Paslon di Pilkada Tunggal atau Lawan Kotak Kosong. Simak Ketentuan Surat Suara dan Hitungan Menangnya!

Sementara, Sri Herawati menambahkan bahaya DB yang diwaspadai adalah setelah tiga hari demam tinggi dan tiba-tiba suhunya turun. Justru ketika demamnya turun dan keluar keringat dingin itulah justru fase parah dan mengarah pada stayus DSS atau syok.

“Biasanya orang enggak tahu dikira kalau sudah dingin itu sudah sembuh, padahal keringat dingin itu sudah tahap parah dan syok. Kami mengimbau kalau diperiksakan, sebaiknya di hari kedua dan ketiga dicek pula kadar trombositnya. Kalau terus turun, berarti itu makin parah,” tukasnya.

Kemudian, kunci pencegahan DBD sebenarnya adalah pemberantasan sarang nyamuk yang menyeluruh. Dengan PSN maka akan mencegah perkembangbiakan nyamuk aides aygepti yang menjadi vektor penyebar DB. Wardoyo